
“Awas ya kalau sampai bikin menantu Mama sakit. Kamu itu kayak gak punya kamar aja buat bercinta!!” Hasna menjewer telinga putranya yang sedang makan dengan menggebu-gebu. Menantunya tengah tertidur karena kelelahan dikerjai sang putra.
“Aww, sakiit Mah. Guntur selesaikan makan dulu baru nanti marah-marahnya Mama lanjutkan. Ini baby lagi kepengen sup udang.” Ujar Guntur yang memang sangat menginginkan sup udang buatan mama Hasna.
Hasna langsung menghentikan aksi menjewernya saat mendengar kata baby. Ia memperhatikan putranya yang makan dengan sangat lahap, sedang sang suami asik dengan gawainya.
“Sekarang katakan kenapa kamu ajak Ara main di kolam?” Hasna menatap tajam Guntur yang sudah selesai makan.
“Mama beneran mau tahu alasannya?” Guntur menaikkan sebelah alis menggoda.
“Tentu saja!” Jawab Hasna dengan yakin.
“Karena bosan di kamar Mah dan sensasinya berbeda. Kalau Mama penasaran bagaimana rasanya bisa ajak Papa.” Jawab Guntur dengan seringaian jahil di bibirnya.
"Guntur!!" Teriak Hasna dan Rizal bersamaan, dasar anak tidak ada akhlak.
“Kan kamar mandi ada Guntur, ngapain harus di kolam renang!!” Pekik Hasna keceplosan yang mendapat tatapan tajam dari sang suami.
Guntur menautkan kedua alisnya kemudian tertawa, “kalian sering di kamar mandi, hm.”
“Seringlah, kalau gak sering mana bisa jadi kamu!!” Sarkas Hasna yang membuat Rizal menggelengkan kepala. Di kode dengan tatapan mata istrinya ini masih saja tidak mengerti.
“Abang,” panggil Yumna dengan wajah bantalnya.
Guntur langsung menoleh dan mendekati istrinya lalu menuntunnya ke meja makan. “Ayo makan dulu Sayang, Ara pasti lapar.”
__ADS_1
Hasna tidak menyangka putra tegilnya ini bisa memperlakukan wanita dengan hangat.
...🐥🐥🐥 ...
"Abang, boleh Ara ngomong tentang Geo?" Ujar Yumna pelan berharap suaminya tidak salah paham.
"Apa Sayang?" Guntur menutup laptop, beranjak dari sofa mendekati sang istri di tempat tidur.
"Ara mau mengembalikan semua milik Geo. Abang mau menemani Ara?" Yumna menatap sang suami dengan intens.
"Kapan? Abang pasti menemani Ara Sayang." Guntur tersenyum mengusap pipi Yumna dengan penuh kelembutan.
"Ara gak tahu Geo dimana sekarang, apa kita temui pengacaranya aja. Gak mungkin dikasihkan ke mamanya yang kayak mak lampir itu kan Abang," ucap Yumna dengan bibir dimanyunkan. Mengingat ibu kandung Geo, membuatnya ingin mengulek-ulek mulut perempuan tua itu.
"Sstt gak boleh ngomong gitu, Ara lagi hamil." Guntur tersenyum geli, "nanti Abang cari tahu dimana Geo sekarang."
"Terus bolehnya apa hm," Yumna mengedipkan mata tersenyum menggoda. Dengan tangan sudah bergelayut manja pada sang suami.
"Jangan goda Abang kalau gak mau kelelahan," Guntur mencubit gemas pipi sang istri. "Kenapa Ara gak pernah panggil Abang sayang, hm?"
"Sa—yang?" Tanya Yumna kaku, kenapa terasa berat di lidahnya.
Guntur mengangguk, "kalau Ara panggil abang lalu apa bedanya Abang ini sama Bang Aga, hm."
"Kok lidah Ara berat banget ngomongnya," Yumna menggaruk tengkuk bingung.
__ADS_1
"Sini Abang kasih pelajaran dulu lidahnya biar gak kaku." Modus Guntur yang sudah jago untuk urusan belit membelit lidah Yumna.
"Coba panggil sa-ya-ng." Eja Guntur seperti sedang mengajari anak kecil.
"A-bang," rengek Yumna malu menutup wajah dengan kedua tangan.
"Bukan abang, tapi sa-ya-ng." Ulang Guntur sambil tertawa geli.
Yumna tetap menggelengkan kepala, "Ara gak bisa."
"Bisa, coba ikuti Abang." Tuntun Guntur yang sengaja ingin mengusili sang istri.
"Ara malu Abang," rengek Yumna membenamkan wajahnya di dada bidang sang suami. Membuat Guntur semakin tertawa gelak.
"Abang jangan ketawa! Ara tambah malu ini," Yumna semakin merengek.
"Abang sering panggil Ara sayang, kenapa Ara malu manggil Abang sayang, hm." Guntur mengusap dan mengecup puncak kepala Yumna.
"Ara gak tahu," sahutnya bingung.
"Ayo sekali lagi belajar panggil Abang sayang." Ujar Guntur usil, bahagia melihat istrinya yang malu-malu kucing.
"Sa—yang." Ucap Yumna kaku dengan pipi bersemu merah menahan malu.
"Pintar," puji Guntur. "Ayo ulang lagi Sayang."
__ADS_1
"Sayang," ucap Yumna langsung membenamkan kepala kembali ke dada Guntur.
"Tuh bisakan, mulai sekarang panggil Abang sayang." Beritahu Guntur setelahnya ia tertawa gelak karena sudah berhasil mengerjai sang istri.