
“Anakku mana?” Teriak Ghani melihat Guntur hanya pulang sendirian dengan wajah lesu, untung istrinya sudah tidur. Hanya dia, Tomi dan Zaky yang masih standby di ruang tengah.
“Ikut Ara,” sahut Guntur lemas.
“Kok bisa, jadi tadi ke rumah Sheryl atau nyasar ke rumah pujaan hati.” Ujar zaky sengaja menggoda Guntur yang sudah memasang wajah kusut.
“Rumah calon istri!” Sarkas Guntur, dia jadi emosi gara-gara iparnya ini.
“Gak mungkinkan tiba-tiba Ara ada di rumah Sheryl. Atau calon istri yang dimaksud sekarang sudah berubah haluan,” celetuk Tomi yang ikut-ikutan menggoda.
“Cerita yang lengkap, padat dan jelas Guntur. Kalau Kha bangun bisa ngamuk anaknya gak ada.” Geram Ghani pada Guntur yang bertele-tele.
“Ayaaah, Arraz disini.” Teriak bocah kecil yang berada dalam gendongan Tora sambil tersenyum lebar.
Tora menurunkan Arraz, untung masih ada yang membukakan mereka pintu karena bertamu malam-malam.
Putra Ghani itu menarik tangan Yumna dengan semangat, “ayo Kak Una tidur disini.”
“Daddy,” rengek Yumna tidak mau bergerak mengikuti Arraz.
“Mengalah Sayang, nanti besok Daddy jemput.” Bujuk Tora pada putrinya, bocah kecil itu tidak mau pulang kalau Yumna tidak ikut.
“Ara gak mau disini,” Yumna menggeleng tegas. Dia tidak mau bertemu dengan Guntur lagi apapun keadaannya.
Melihat penolakan Yumna, Ghani mendekati putranya. “Arraz sudah diantarkan Sayang, biarin kakaknya pulang lagi ya.”
“Arraz mau ikut lagi ke sana!!” Seru Arraz yang ikut-ikutan menggeleng.
“Nanti bunda nyariin Arraz, besok aja lagi mainnya ya Sayang.” Bujuk Ghani, tapi putranya tetap bersikeras tidak mau dibujuk.
Ghani menoleh ke arah Yumna, “malam ini aja. Besok pagi kuantar pulang.” Mohon ayah Arraz itu, dia tidak bisa membiarkan putranya yang masih kecil menginap di rumah orang.
“Arraz aja yang ikut Ara!” Kekeuh Yumna.
Zaky dan Tomi yang mendengarkan perdebatan itu hanya saling pandang. Sementara Guntur asyik bermain ponsel dengan jantung yang berdebar-debar. Kenapa setiap kali melihat Yumna jantungnya tidak bisa dikondisikan.
“Sayang, Arraz masih kecil. Kita juga gak punya perlengkapan anak kecil di rumah. Ini sudah malam, gak mungkin belikan. Kamu tinggal satu malam di sini ya," bujuk Tora lagi sambil mengelus belakang kepala putri kesayangannya.
__ADS_1
“Iya-iya,” sahut Yumna cemberut.
Arraz berseru senang menarik tangan Yumna untuk ikut ke kamarnya. Setelahnya Tora juga langsung pamit pulang. Dan Ghani menyusul putranya ke kamar.
“Ada yang dibuat anak gagal tumbuh galau nih,” sindir Zaky usil sambil menyenggol-nyenggol bahu Guntur.
“Berisik Zak!!” Seru Guntur.
“Awas jangan sampai gagal nikah gara-gara singgah ke lain hati!!” peringat Tomi.
“Awas kata-kata itu doa!!” Cetus Guntur lalu pergi dari sana, daripada dia pusing sendiri. Pria itu tanpa mengalihkan pandangannya dari ponsel berjalan menaiki tangga.
“Aduuuh!!” Ringis Yumna saat tubuhnya ditabrak Guntur. Untung dia berpegangan disisian tangga jadi tidak menggelinding ke bawah.
“Siyal!” umpat Yumna dalam hati saat sadar yang menabraknya adalah orang yang paling ingin dihindarinya seumur hidup. Karena takut jatuh hati pada pria galak ini. Padahal Guntur cuma galak dengannya.
“Kalau jalan lihat-lihat Om, jangan sambil main hp!!” Seru Yumna nyaring sampai Zaky dan Tomi menyusul dua orang itu. Jangan sampai mereka bertengkar malam-malam begini.
“Ara,” gumam Guntur memasukkan ponselnya ke saku. “Ikut aku,” ajaknya lembut. Ini kesempatan agar bisa bicara berdua dengan Yumna. Dia tidak bisa terus begini, bisa-bisa Guntur gila dibuat gadis kecil ini.
“Ara mau ke dapur. Haus,” sahut Yumna ketus.
“Gak mau Om, lepasin!!” Pekik Yumna nyaring.
“Guntur lepas, yang lain sudah tidur jangan bikin mereka bangun karena kalian ribut.” Ujar Tomi yang menyaksikan dua orang itu seperti tikus dan kucing, tidak pernah akur.
“Ikut dulu baru kulepas,” tutur Guntur lebih lembut. Yumna terpaksa menurut daripada membuat keributan di rumah orang.
“Suka tapi gengsi, mau nikah sama siapa yang dikangenin siapa.” Zaky menggeleng bingung.
“Entahlah!” Tomi mendesah berat, mereka kembali ke kamar masing-masing.
Guntur memasukkan Yumna ke kamarnya lalu mengunci pintu agar gadis itu tidak kabur.
“Om mau apa, kenapa pintunya dikunci?” tanya Yumna khawatir.
“Mau ngasih kamu hadiah yang kamu suka,” Guntur tersenyum membawa Yumna duduk di sofa.
__ADS_1
“Jangan macam-macam Om!!” Peringat Yumna, dia tau apa maksud pria dewasa di depannya ini. Salahnya karena pernah meminta ciuman dari Guntur.
“Cuma satu macam, kangen banget.” Ucap Guntur langsung memeluk Yumna, gadis inilah yang selalu mengganggu tidurnya.
"Maafin Abang yang sering galak sama Ara," gumam Guntur membelai lembut rambut gadis itu.
Yumna tertegun, inilah yang dia takutkan. Ia tidak akan bisa menolak pesona sang Guntur kalau sudah berbicara lembut.
Gadis itu menggeleng pelan, ini tidak boleh terjadi. Pria di depannya ini sudah memiliki calon istri, sebentar lagi mereka akan menikah. Dia tidak boleh merebut kebahagiaan orang lain.
“Om jangan!!” Tahan Yumna, saat Guntur sudah sangat dekat dengan wajahnya.
“Inikan yang kamu mau, kamu bilang suka dan mau mengulangnya kan.” Guntur tidak berbicara kasar lagi. Dia sudah tobat, daripada bayangan Yumna terus menghantuinya. Lelaki itu mengusap pelan bibir mungil Yumna.
Lagi-lagi Yumna menggeleng, "jangan diulang. Ara takut," gumamnya merengkuh kembali tubuh yang dua bulan ini sangat dia rindukan. Sama seperti Guntur mereka melepas rindu yang selama ini tidak pernah mereka ijinkan untuk hadir.
“Om sudah punya calon istri,” Yumna mengingatkan kata yang pernah Guntur ucapkan padanya.
“Aku gak mencintainya Ara,” gumam Guntur yang langsung mengambil kesempatan membungkam mulut Yumna.
Yumna mendorong tubuh Guntur sampai lelaki itu menjauh darinya. "Ara haus, dan Om bikin Ara tambah haus." Sebutnya, Guntur terkekeh geli mengambilkan gadis kecilnya air minum.
"Kenapa masih dipanggil Om sih!" Protes Guntur setelah Yumna selesai minum.
"Kan emang om-om, kenapa jadi protes. Arraz juga panggilnya om kan." Sebut Yumna yang membuat Guntur gemas.
"Mau lagi, kan sudah hilang hausnya."
"Cukup Om, Ara gak mau lagi. Kita bukan siapa-siapa, Om gak pantas ngelakuin itu sama Ara. Sebentar lagi Om menikahkan, jadi jangan ganggu Ara."
"Kamu yang menggangguku Ara, kamu yang selalu mengganggu pikiranku." Jujur Guntur, tidak melepaskan begitu saja gadis yang sudah berani menyiksanya ini.
"Ih Om, itu otak Om aja yang kotor. Masa nyalahin Ara."
"Suka ngejawab ya," gemas. Guntur menoel gundukan di depan matanya.
"Om nakal!!" Yumna memukul tangan Guntur yang sudah mengusik si kembar.
__ADS_1
"Bukan tangannya yang nakal, dia yang nakal manggil-manggil." Sebut Guntur dengan kekehan, pria itu berubah seratus persen didepan Yumna.
Yumna seperti tidak mengenal lelaki di depannya ini. "Otak Om tidak sedang dalam proses maintenance kan, jadi aneh." Gumamnya pada diri sendiri.