Gemuruh Cinta Sang Guntur

Gemuruh Cinta Sang Guntur
61. Gagal Fitting


__ADS_3

"Abang, Ara minta maaf." Yumna berucap pelan, sepanjang jalan menuju butik Guntur hanya diam gara-gara kejadian tiga hari yang lalu.


"Ya," jawab Guntur singkat. Kalau hari ini tidak jadwalnya fitting gaun pengantin ia masih malas bertemu Yumna.


"Kalau Abang gak mau lanjutin pernikahan ini gapapa kok."


Guntur menoleh sekilas, "kamu suka kalau pernikahan ini dibatalkan." Katanya berucap lalu kembali fokus kejalanan.


Yumna tidak menggeleng dan tidak juga mengangguk. Hatinya semakin bimbang, apalagi saat Guntur bersikap dingin padanya hanya karena cemburu.


"Ara sudah minta maaf tapi Abang masih marah. Ara sama Bang Ammar gak ngapa-ngapain." Yumna membela diri, dia tidak suka dipojokkan seperti ini. Sedang Guntur tidak suka mendengar Yumna menyebut nama pria itu.


"Peluk-pelukan juga termasuk gak ngapa-ngapain?" Guntur mulai tersulut emosi.


"Abang emang gak pernah sayang sama Ara, Abang bisanya cuma marah-marah." Yumna ikutan emosi pada Guntur, meluapkan kekesalannya beberapa hari ini.


"Aku sudah bilang jangan pernah memeluk lelaki lain. Tapi kau malah melakukannya ditempat umum!!" Seru Guntur semakin dibuat kesal.


"Ara gak pelukan ditempat umum Abang!!" Protes Yumna.


"Terus apa namanya kalau bukan pelukan?" Guntur membanting setir putar arah, dia sudah tidak mood. Mana ada orang cemburu karena tidak sayang.


"Kita pulang!!" Ucapnya dengan tarikan nafas panjang.


"Pulang aja, gak usah nikah sekalian. Awas Abang cari Ara lagi, awas cium-cium Ara lagi!" Desis Yumna semakin marah.


Guntur tidak menanggapi, dia yang akan dimarahi habis-habisan kalau pernikahan kali ini juga gagal. Pria itu memijat pelipis pusing.


Setelah mengantar Yumna pulang Guntur meminta orang butik untuk datang ke kediaman Tora melakukan fitting gaun pengantin disana. Sedang ia langsung kembali ke kantor.


"Kenapa pulang Sayang?" Tanya Ayumi pada putrinya yang mencak-mencak dengan menghentak-hentakkan kaki.

__ADS_1


"Om marah-marah Mom." Yumna mengubah panggilannya karena sangat kesal.


"Kamu kali yang nakal makanya dimarahi," Ayumi bukannya membela Yumna malah membenarkan tindakan Guntur.


"Mom, Abang itu marah karena masih cemburu. Dia memang gak pernah sayang sama Ara, selalu aja marah-marah. Masa Ara dibilangin berpelukan di tengah umum. Ara kan gak ada meluk Ammar di pasar."


"Emang ada orang cemburu karena gak sayang?" Tanya Ayumi dengan kekehan mengikuti putrinya ke kamar.


"Iya juga ya," Yumna menepuk jidat. Tidak berpikir sampai kesana. "Mom, kalau Abang batalin pernikahannya gimana?"


"Ya berarti kamu gagal menikah karena gak jodoh," jawab Ayumi dengan tawa kecil.


"Mom, Ara serius. Mommy tega banget doain Ara gitu."


"Mommy gak doain Ara, Ara tadi nanyakan nah Mommy jawab." Ayumi meluruskan dengan senyuman geli.


“Kenapa Mommy sekarang ikut ngeselin ya,” Yumna berdecak diikuti helaan nafas kasar. Tangannya membuka laci nakas, mengambil cincin pemberian Geo lalu memasang di jari kanan.


“Ara gak bisa nemuin orang yang bisa mengerti Ara seperti Geo Mom,” gumam Yumna dengan wajah sendu.


Ayumi menatap pilu putri satu-satunya itu. Mereka tidak bisa menghadirkan Geo kembali untuk membahagiakan Yumna.


Yumna tersenyum mengembang setibanya di makam Geo. Ia selalu datang kesini kalau sedang sedih atau rindu.


“Ara kangen banget ih, lama gak nengokin Geo. Kenapa Geo gak pernah mau hadir dalam mimpi Ara untuk menghilangkan rindu ini.”


Saat Yumna asik meluapkan segala curahan hatinya di makam Geo. Di rumah Ayumi dibuat bingung dengan kedatangan orang dari butik yang membawakan gaun pengantin untuk Yumna coba. Putrinya itu tidak menjawab berkali-kali ditelepon.


Guntur yang mendapat kabar seperti itu dibuat semakin geram. Ia memutuskan untuk mencari Yumna ke pemakaman. Namun hatinya semakin dibuat panas saat melihat Ammar lagi-lagi ada di sana. Kenapa selalu ada Ammar disisi gadisnya itu. Sedang dengannya Yumna seperti menjaga jarak.


"Jadi asik berduaan disini?" Tanya Guntur dengan nada rendah namun tatapannya menajam menguliti Yumna hidup-hidup.

__ADS_1


Hatinya semakin kecewa, Yumna lebih memilih mendatangi makam dari pada berbagi cerita dengannya. Dan parahnya ada Ammar disana.


"Ara gak penting jugakan buat Abang?"


"Hm," Guntur berdehem pelan lalu pergi dari sana. Dia malas berdebat apalagi di kuburan.


Guntur bela-belain menyusul kesana malah mendapat pertanyaan seperti itu. Ia pasrah sajalah mau dibawa kemana rencana pernikahannya ini. Guntur memilih gaun asal dari telepon, karena orang-orang butik sudah mengeluh kelamaan menunggu.


...🌹🌹🌹 ...


“Darimana Sayang?” tanya Ayumi pada putrinya yang baru pulang saat hari sudah senja.


“Dari rumah Bunda Farah Mom. Daddy masih belum pulang?” Yumna balik bertanya tanpa tau sang ayah marah padanya.


“Kamu gak pamit Guntur ya, tadi orang butik datang kerumah mau fitting gaun pengantin.” Beritahu Ayumi yang membuat Yumna membuka matanya lebar.


“Beneran Mom?” Yumna menepuk jidat, lagi-lagi dia membuat kesalahan. Pantas saja wajah pria itu sangat tidak enak dipandang.


“Nah ini orangnya pulang juga!!” seru Tora mendekati putrinya.


“Kenapa gak bisa Daddy bilangin sih, kamu itu mau nikah sama Guntur atau Ammar?” Tanya Tora dengan tegas.


“Daddy," Yumna bingung kenapa dia jadi dimarahi.


“Harusnya kamu itu bisa menjaga perasaan calon suamimu, jangan membuatnya cemburu. Kenapa masih jalan kemana–mana sama Ammar!!” Tora tidak mempedulikan rengekan manja putrinya ini.


“Ara tadi gak sengaja ketemu Bang Ammar di makam Geo, Daddy. Bukan janjian,” jelas Yumna.


“Geo lagi, Geo lagi. Nikah aja sama kuburan sekalian!!” Ujar Tora kesal.


“Salah terus, batalin aja pernikahannya!!” Yumna berseru nyaring lalu masuk ke kamar membanting pintu dengan kasar.

__ADS_1


“Dia yang salah, dikasih tau malah nyolot.” Tora mengelus dada.


Ayumi membawa suaminya untuk duduk. Daddy-nya keras kepala. Tentu saja putrinya juga keras kepala, gumamnya dalam hati.


__ADS_2