Gemuruh Cinta Sang Guntur

Gemuruh Cinta Sang Guntur
114. Berenang


__ADS_3

Guntur berseru senang karena berhasil membawa istrinya ke kamar, menciumnya dengan gemas. "Tadi malam kenapa sengaja bikin Abang kepanasan, hm."


Yumna menggelengkan kepala sambil terkekeh geli, ternyata sang suami masih ingat dengan perbuatannya tadi malam.


"Sekarang Ara harus bertanggung jawab!"


“Abang,” Yumna tercekat karena bibirnya sudah dibungkam Guntur dengan lembut.


Awalnya hanya ciuman biasa namun berubah jadi percintaan panas seiring berlalunya detik jam di dinding yang menjadi saksi percintaan mereka.


Guntur ambruk di samping sang kekasih setelah berhasil melakukan penyatuan. Ia menarik tubuh sang kekasih dalam pelukan.


*


*


*


“Untung Daddy sedang bahagia, kalau tidak Daddy hajar habis-habisan suamimu ini!!” Tora menatap tajam Guntur yang masih pagi sudah membuat putrinya kelelahan.


Si empunya hanya menyengir lebar memeluk sang istri tanpa memperdulikan kemarahan ayah mertuanya.


“Abang, Daddy lagi marah tuh.” Ucap Yumna pelan di telinga sang suami.


“Abang tahu Daddy lagi marah Sayang. Kapan Daddy gak marah-marah sama menantunya ini, hm.” Guntur yang kesal karena dipaksa keluar kamar saat nyenyak-nyenyaknya tidur terpaksa membalas mertuanya dengan cara seperti ini.


Sungguh tidak adil kalau hanya dia yang dibuat kesal. Jadi ia akan membuat mertuanya ini kesal juga, adil bukan.


“Apa kau bilang, tidak bersyukur sudah kumaafkan!!” Seru Tora melotot tajam, tangannya sudah sangat gatal ingin menghajar menantu tengilnya ini.

__ADS_1


“Apa? Jadi Daddy sudah memaafkanku. Oh terima kasih Daddy,” ucap Guntur penuh penghayatan.


Tora bukannya senang malah dibuat semakin jengkel oleh ucapan terima kasih yang kesannya mengejek itu. Entah kenapa ia selalu kesal menatap wajah menantunya ini. Jangan sampai cucunya nanti memiliki wajah yang sangat mirip dengan Guntur.


“Jangan kebanyakan bicara, bawa Ara periksa ke dokter. Kau ini suami macam, apa istri hamil malah tidak diperhatikan!!”


Guntur meringis, lagi-lagi dosanya diungkit berulang-ulang kali.


“Sudah puas marah-marahnya Mas?” tanya Ayumi. Setiap ada Guntur pasti suaminya itu marah-marah tidak jelas. Dengan sebab yang tidak jelas juga.


“Sudah," jawab Tora.


“Minum obatnya, biar gak darah tinggi.” Ayumi menyodorkan obat penurun tekanan darah dan segelas air putih.


Tora melongo dan sedetik kemudian matanya menatap tajam sang istri. Sedang Guntur dan Yumna sudah tertawa gelak melihat pemandangan yang sangat menghibur ini.


Tidak terasa usia kehamilan Yumna memasuki bulan ke empat. Sudah satu bulan Guntur tinggal di rumah sang mertua. Dan baru tadi malam mereka menginap di rumah Papa Rizal dan Mama Hasna. Karena pasangan suami istri itu merindukan calon cucunya.


Awalnya Yumna tidak terlalu merepotkan Guntur. Tapi semakin kesini semakin sering minta yang aneh-aneh. Padahal dia yang sering ngidam dan mengalami morning sickness.


Seperti sekarang, wanita hamil itu ingin berenang. Tapi minta cat kolamnya diubah warna pink terlebih dulu. Dan yang mengecat harus dirinya.


Oh Tuhan tolong. Guntur harus menguras kolam renang terlebih dulu dan menunggu kering baru bisa di cat. Parahnya ibu hamil itu ingin berenang hari ini juga, tidak mau ditunda besok. Rasanya Guntur ingin menenggelamkan diri ke sungai amazon.


"Pah, kolamnya gapapa Ara ganti warna pink." Yumna bergelayut manja di tangan sang mertua.


"Gapapa Sayang, Ara senang?" Tanya Rizal mengawasi putranya yang sedang mengisi air kolam renang setelah seharian berusaha mengubah warna cat kolam itu.


Tentu saja Guntur tidak melakukannya sendiri, dengan pintar ia meminta istrinya istirahat selama mengerjakan. Untung Guntur berhasil mengelabui istri kecilnya. Ia hanya mengawasi para pekerja yang dimintanya mengubah warna cat itu.

__ADS_1


"Makasih Pah," Yumna berjingkrak-jingkrak senang memeluk ayah mertuanya.


"Eitss, dilarang peluk sana-sini." Guntur mengingatkan. Ia menjauhkan Yumna dari sang papa.


"Ayo berenang," ajaknya menuntun Yumna masuk ke kolam renang.


"Abang dingiiinnn!!" Teriak Yumna terkejut saat kakinya menyentuh air.


"Ara, dedek kaget kamu teriak-teriak. Air emang dingin Sayang. Kalau mau panas, kuah sup di panci mama!" Sarkas Guntur kesal, perasaannya sudah tidak enak.


"Abang aja yang mandi, Ara liatin disini." Yumna naik kembali ingin mendatangi papa mertuanya yang sedang mentertawakan mereka.


"No!! Abang sudah capek menuruti keinginanmu. Sekarang Ara harus berenang," Guntur menggendong sang istri dan merendamnya di air kolam.


"Abaaanggg!!" Pekik Yumna saat merasakan dinginnya air kolam.


Guntur tertawa puas, "Pah silahkan masuk. Kami mau pacaran dulu," teriaknya.


"Airnya emang dingin Sayang, tapi Abang akan menghangatkan Ara." Guntur mulai mencumbui sang istri setelah ayahnya pergi.


Tidak terasa mereka menghabiskan waktu dua jam bercinta di kolam renang. Pengalaman baru yang tidak pernah dirasakan Guntur. Beruntungnya kolam renang itu tertutup, jadi ia bisa puas mengeksplore kekasihnya.


Setelahnya Guntur menggendong Yumna yang hampir kehabisan tenaga dengan tersenyum puas.


"Guntur, kau apakan istrimu!!" Teriak Hasna dia yang ingin mendekati kolam renang sejak tadi tapi selalu ditahan sang suami.


"Bikin jalan keluar baby Mah," sahut Guntur asal membawa Yumna masuk ke kamar.


"Dasar tengil!!" Decak Hasna, salah ngidam apa dia waktu hamil Guntur.

__ADS_1


__ADS_2