
“Makan!!” Titah Guntur.
Yumna menurut. Ia bangun mengambil bubur di atas nakas. Jangan berharap Guntur mau menyuapinya seperti yang Geo lakukan. Ditemani saja Yumna sudah senang.
“Iya Ara makan,” Yumna menyendok bubur ke mulut dengan malas.
“Abang mau?” tawarnya sambil tersenyum.
Guntur menggeleng, “sudah lebih baikkan. Aku ada janji mau bertemu seseorang,” ujarnya sudah kembali ke mode semula. Tidak ada ramah-ramahnya lagi.
“Iya, makasih.” Ucap Yumna tersenyum tipis. Salah, jika dia ingin bermanja dengan Guntur. Guntur bukan Geo yang mencintainya dan siap melakukan apapun demi dirinya.
“Minum obat, jangan merepotkan orang lagi!!” Peringat Guntur sebelum keluar kamar.
Yumna mengangguk, “maaf sudah merepotkan Abang.” Lirihnya, Guntur sudah hilang dari hadapannya. Ia memakan bubur sampai habis sendirian lalu minum obat.
“Geo, Ara kangen.” Gumamnya pelan, membaringkan badan ke tempat tidur kembali. Ia rindu bermanja-manja pada kekasihnya itu. Dia ingin bisa memeluk sang kekasih lagi, menangis dalam pelukannya.
“Mau kemana?” Tanya Ghani pada sepupunya yang terburu-buru ingin pergi.
“Mau ketemu Sheryl,” jawab Guntur lalu berpamitan pulang lebih dulu pada tuan rumah.
Sekarang Ayumi mengerti, Guntur hanya kasihan pada putrinya. Padahal tadi dia sudah senang melihat Yumna yang ceria bersama Guntur.
Anindi menghela napas pelan, sedari awal Guntur memang tidak menyukai Yumna. Padahal dia tau, sedikit banyak Yumna menyimpan rasa di hatinya pada Guntur yang belum gadis itu sadari. Entah itu sebagai lelaki atau hanya menganggapnya sebagai kakak.
Aga mendatangi adiknya ke kamar, bukan dia tidak tau penyebab perubahan Yumna. Apa yang Ghani katakan benar, adik kecilnya ini memang menyukai Guntur.
"Sayang sudah minum obat?" Sagara ikut berbaring memeluk Yumna dari belakang.
"Sudah Abang," jawab Yumna. Ia dengan cepat menghapus air matanya yang tadi sempat terjatuh.
"Mau cerita sama Abang. Bahu Abang gak kalah nyamannya dari bahu Geo," gurau Aga. Yumna membalikkan badan terkekeh kecil.
"Kalau bahu Abang gak nyaman mana mau Kak Aya tidur di sini." Ujar Yumna mempraktekkan kebiasaan kakak iparnya saat bermanja-manja pada sang abang.
"Gak ada yang larang Ara kalau mau tidur di sini juga." Aga membawa tangannya untuk mengelus-elus kepala Yumna.
"Ara kangen Geo," lirih Yumna.
__ADS_1
"Ayo kita datangi makamnya," ajak Aga. Yumna mengangguk riang.
...🌹🌹🌹 ...
“Hei tumben makan di bawah,” Sagara merangkul adiknya ke ruang makan.
“Ara sudah lama gak makan bareng kalian,” sahut Yumna dengan senyuman manis. Padahal ia sangat malas untuk turun ke bawah. Tapi saat teringat ucapan Guntur tadi siang yang mengatakan tidak boleh merepotkan orang lain. Dia bergegas turun saat jam makan malam tiba.
“Daddy, Ara boleh kerja di toko Mbak Nindi.” Ijin Yumna, dia ingin belajar mandiri dari sekarang. Tidak akan ada yang suka dengannya kalau dia manja.
“Kuliah kamu gimana Sayang? Kamu juga gak boleh kelelahan.” Tutur Tora dengan lembut.
“Kuliah masih dua bulan lagi Daddy, sebelum Ara masuk kuliah aja. Biar Ara gak kepikiran Geo terus,” mohon Yumna.
“Magang di kantor Daddy aja ya Sayang," bujuk sang ayah.
“Ara malas mikir Daddy, kalau di toko Ara cuma bantu bikin kue. Boleh ya?"
“Tapi itu juga capek Sayang.”
“Ara janji akan makan teratur,” ujar Yumna memelas.
“Ya sudah kalau maunya gitu, nanti besok Daddy antar ke sana.” Tora akhirnya menyetujui keinginan putrinya.
“Makasih Daddy,” Yumna tersenyum manis. Senyuman yang sudah lama tidak mereka lihat.
"Ya, apapun buat kesayangan Daddy ini." Tora mengusap kepala putrinya dengan sayang.
...🌺🌺🌺 ...
“Mbak Mita, aku comeback!!” Seru Yumna riang, seperti tidak sedang patah hati. Ia memeluk Mita dari belakang.
“Hei lama gak ke sini,” sambut Mita tak kalah antusias.
"Ara sibuk, sibuk menata masa depan." Sahutnya dengan kekehan.
Ayumi mengela napas lega melihat keceriaan putrinya, “sepertinya gak salah kalau kita titip Ara sementara di sini Mas.” Gumamnya pada sang suami.
“Iya Sayang, semoga Ara bisa cepat melupakan kesedihannya.” Ujar Tora, mereka tidak tau saja dengan apa yang direncanakan Yumna. Gadis itu sedang melakukan misinya untuk membunuh Leo.
__ADS_1
“Ayo Pak, Bu masuk. Mbak Nindi ada di dalam,” ajak Mita ramah.
Pasangan paruh baya itu mengangguk mengikuti Mita ke ruangan Anindi. Kebetulan Tomi juga ada di sana, lelaki itu lebih sering menemani Anindi di saat kehamilannya sudah semakin besar.
“Eh ada tamu, ayo masuk.” Sambut Anindi, perempuan hamil itu meminta Mita untuk menyiapkan minuman untuk tamunya.
"Terimakasih," ucap Ayumi mengikuti Anindi masuk ke dalam bersama suami dan putrinya.
"Silahkan duduk," Tomi langsung menutup laptopnya meletakkan ke atas meja.
"Kayaknya penting banget sampai pagi-pagi datang ke sini," ujar Tomi.
“Ara mau bekerja di sini, apa kalian masih butuh karyawan?” tanya Tora langsung pada intinya.
"Ara gak di gaji gak papa kok," Yumna ikut menyahut.
“Tempat ini selalu terbuka untuk Ara,” sahut Anindi dengan tersenyum. Dia tidak tau alasan anak orang kaya itu jadi ingin kembali bekerja padanya.
"Pasti ada yang sedang direncanakannya," batin Anindi.
Kemaren waktu mereka menjenguk ke sana anak itu tidak bersemangat sama sekali. Tapi sekarang, Yumna kembali ceria seperti tidak pernah terjadi apa-apa. Apalagi tempat ini memiliki kenangan buruk untuknya.
"Yeaay, Ara bisa bekerja dari sekarang?" Tanyanya antusias, Anindi menganggukkan kepala.
"Baiklah Ara mau bekerja mulai detik ini," serunya girang. Gadis itu melimpir keluar ruangan Anindi mencari Mita di depan.
"Ada apa?" Tanya Tomi yang lebih kepada khawatir. Apa kejiwaan Yumna terganggu seperti Khalisa dulu.
Tora menggeleng tidak mengerti. "Kami nitip Ara ya, minta tolong sambil awasi. Khawatirnya nanti menyusahkan kalian," ucapnya.
"InsyaAllah kami akan menjaga Ara," sahut Tomi.
"Kami langsung pamit ya, gak bisa lama-lama di sini." Ujar Tora yang diangguki Tomi dan Anindi. Mereka mengantar orang tua Yumna ke depan.
"Mas ngerasa aneh gak sih sama Ara, aku yakin bukan tanpa sebab dia mau kembali ke sini. Apa karena Guntur?" Tanya Anindi setelah kembali ke ruangannya.
"Aku takut Ara semakin terluka. Guntur terlihat gak ramah gitu sama Ara," lanjut Anindi cemas.
"Kita awasi aja dua orang itu Sayang, kalau memang Guntur alasan Ara ke sini. Itu berarti dia sudah bisa menerima kepergian Geo." Tomi membuat asumsinya sendiri.
__ADS_1
"Tapi gak sesederhana itu Mas, Guntur mau menikah pasti Ara merasa sakit hati lagi nanti."
Tomi menghela napas pelan membenarkan ucapan istrinya, "kita juga gak bisa membatalkan keputusan Guntur Sayang. Dia yang sudah memilih Sheryl. Kita doakan saja Ara menemukan bahagianya sendiri." Ujarnya sambil mengurut-urut lengan Anindi. Perempuan hamil itu mengangguk lesu.