Gemuruh Cinta Sang Guntur

Gemuruh Cinta Sang Guntur
140. Sayang Bukan Abang


__ADS_3

Meskipun tinggal di rumah Papa Rizal, Yumna dan Guntur hampir setiap hari mengunjungi baby Yara. Bahkan terkadang mereka membawanya menginap di rumah Papa Rizal seperti malam ini.


Yumna ingin sampai besar nanti keponakannya itu tetap mendapatkan kasih sayangnya sebagai seorang ibu. Ia tidak membedakan kasih sayangnya untuk baby Bian dan baby Yara.


Begitu juga dengan Guntur, walaupun ayah kandung Yara masih ada. Tapi ia tetap memposisikan diri sebagai ayah untuk keponakannya itu.


"Anak-anak Daddy sudah tidur," Guntur tersenyum mengecup kening baby Bian dan baby Yara dalam box-nya masing-masing. Lalu mengusap di pipi keduanya secara bersamaan. Setelahnya Guntur kembali ke kamar menemani istrinya mengerjakan skripsi.


"Masih lama Sayang, mau Abang bantuin?" Tanya Guntur pada Yumna yang sedang asik di depan laptop.


"Sedikit lagi Abang, Ara selesaikan sendiri aja." Ucapnya lalu mencuri satu kecupan di pipi sang suami setelahnya Yumna menyengir lebar.


"Jangan mancing, kalau gak mau Abang boyong ke tempat tidur sekarang." Guntur balas mengecup basah pipi wanitanya.


Di rumah Papa Rizal tidak akan ada yang mengganggu waktunya bercinta. Baby di temani para nanny-nya. Jadi dia bebas mengeksplore istrinya ini.


"Ara gak punya pancing Abang. Ara punyanya cinta untuk Abang," Yumna mengerling manja.


"Sayang bukan Abang," ralat Guntur. Lidah istrinya itu susah sekali memanggilnya dengan sebutan mesra.


"Abang," keukeuh Yumna.


"Honey," ujar Guntur.


"Abang," Yumna tetap tidak mau mengubah panggilannya.


"Cinta."


"Iya Sayang," sahut Yumna dengan tawa gelak langsung memeluk Guntur.

__ADS_1


"Gitu dong panggil Sayang, biar Abang makin cinta." Guntur membalas pelukan wanita kesayangannya.


"Emang cinta Abang buat Ara sebanyak apa?" Tanya Yumna dengan suara manja.


"Gak bisa dihitung Sayang," Guntur menatap teduh netra kekasihnya sambil mengusap di pipi dan mengecup singkat bibir mungil yang sangat menggoda itu.


"Cuma bisa Ara rasain disini," lanjutnya dengan menempelkan telapak tangan di dada Yumna.


"Hm, Ara jadi meleleh kayak cokelat yang kepanasan. Lumer," Yumna mengambil telapak tangan Guntur lalu mengecupnya.


"Kesayangan Abang ini memang manis, melebihi cokelat." Guntur membiarkan saja telapak tangannya diciumi sang istri sampai berulang kali.


"Sayang, kapan Ara selesainya kalau diajak mesraan seperti ini, hm."


"Apa? Abang gak dengar coba ulang Sayang." Goda Guntur seraya mengangkat alisnya.


"Bukan yang itu Sayang, sebelum kalimat itu." Beritahu Guntur dengan setengah tertawa.


Yumna mengernyitkan kening kemudian tersadar kalau sedang dipermainkan sang suami. "Abang ish nakal!!" Serunya memukuli dada Guntur. Si empunya sudah tertawa gelak.


"Abang sayang, bukan Abang nakal." Ralat Guntur menangkap tangan Yumna lalu mendekapnya. "Ayo kita bobo sekarang," bisiknya menggoda dan memberikan gigitan kecil di telinga sang istri.


"Abang jangan nakal, Ara selesaikan ini sebentar baru bobo. Kalau Abang ganggu nanti tambah lama."


"Iya Sayang, Abang gak ganggu. Cuma lagi menyemangati kesayangan Abang," ucap Guntur dengan senyuman menggoda. Yang tentu saja tidak bisa dipercaya oleh Yumna. Karena tangan suaminya itu tidak bisa diam dan duduk manis dengan tenang.


"Abang!!" Rajuk Yumna.


"Iya Sayang, Ara kerjain dulu Abang keluar menemani Papa. Kalau Abang disini Ara gak akan konsen." Ujar Guntur mengalah, memberikan kecupan di puncak kepala istri tersayangnya. Semakin cepat pekerjaan istrinya itu selesain. Maka akan semakin cepat juga gilirannya bekerja.

__ADS_1


"Siap Abang," Yumna mengangkat tangan hormat.


Ia sangat beruntung memiliki suami yang sangat pengertian, walau terkadang suka usil. Hari-harinya terasa lebih indah bersama sang Guntur. Apalagi ditambah dengan kehadiran baby Bian dan baby Yara. Sempurna sudah hidupnya.


...- TAMAT - ...


Jika banyak salah dan banyak khilaf mohon dimaafkan. Othor hanya manusia biasa dan tulisan ini banyak kekurangannya. Harap disikapi dengan bijak jika ada kata atau kalimat yang kurang berkenan. Dan terimakasih untuk supportnya 🙏🥰.


.


.


.


.


.


Karya baru othor, akan di publish tanggal 01 Juli 2020. Mohon dukungannya 😊



"Menikahlah denganku!!" Edric menyeringai licik. Dia akan membuat gadis sombong ini bertekuk lutut padanya. Tidak boleh ada wanita yang berani menentang apa yang dia ucapkan kecuali sang mommy. Dan gadis di depannya ini sudah melakukannya. Edric tidak suka itu.


"Mimpi!!" Deandra berdecih dengan angkuh, "jangan harap aku mau menikah denganmu. Melihat wajahmu pun aku tidak sudi!!"


"Really?" Edric menautkan alis, "dan kau pikir aku sudi menikah dengan gadis sombong sepertimu. Mau apa jadinya anak-anakku nanti." Edric tertawa meremehkan membuat Deandra kesal.


"Aku memang angkuh, tapi tidak perlu kau meremehkan anak-anak yang akan lahir dari rahimku nanti." Deandra langsung berdiri dan sebelum beranjak ia menyiramkan jus ke kepala Edric. Pria yang sedang tertawa itu mendadak menyimpan suara emasnya.

__ADS_1


__ADS_2