
“Om ngapain bawa Ara ke sini?” tanya Yumna cemberut masam. Ia dibawa ke kediaman orang tua kandung lelaki itu.
“Pengen aja, kalau di sini gak ada yang gangguin kita pacaran.” Jawab Guntur asal, menggandeng tangan gadis itu masuk ke rumah.
“Om halu! Kita gak pernah pacaran ya,” Yumna berdecak melepaskan tangan Guntur.
"Sudah mau nikah juga masih aja gangguin orang, dasar Om kegatelan!!" Batin Yumna kesal.
“Senyum dong, merengut terus. Ayo mandi dulu, baru sarapan.” Bujuk Guntur tidak menghiraukan ucapan anak kecil itu.
“Ara mau pulang!!” Seru Yumna kesal, kalau Guntur tidak mau menikah dengan peremuan lain mungin dia akan oke-oke saja.
“Kenapa sih susah banget dibaikin!!” Seru Guntur jadi ikutan kesal.
“Ara gak minta Om baik sama Ara!! Om sendiri yang baik sama Ara. Kenapa berubah, tetap aja kayak dulu jahat sama Ara. Ara ini nyusahin!!” Sarkas Yumna.
Guntur menarik nafas pelan, ia terpaksa mengalah. “Oke… Aku antar pulang.”
“Ara mau jalan aja!!”
“Ya Salam, anak siapa sih susah banget diurus.” Guntur berdecak, “ayo kita jalan sama-sama.” Putusnya, mengikuti saja keinginan gadis itu. Semakin ditentang akan semakin menyusahkan.
“Tapi capek, nanti kaki Ara pegel.” Ucap Yumna manja.
“Sekarang maunya apa, hm?” Baru sebentar Guntur sudah dibuat lelah mengurus anak kecil ini.
“Naik mobil Om,” jawab Yumna sambil menyengir lebar tanpa dosa karena sudah membuat orang tua emosi.
Guntur mengangguk saja, membukakan pintu mobil.
“Om jangan temui Ara lagi setelah ini,” gumam gadis itu.
“Iya,” jawab Guntur lesu. Mungkin memang jodohnya sudah tertulis dengan Sheryl.
“Kok iya sih,” decak Yumna tidak suka.
__ADS_1
“Terus maunya apa? dikejar-kejar terus aku dicuekin dan ditinggal nikah sama Ammar.” Sahut Guntur pelan, dia malas memaksa orang yang memang sudah jelas-jelas menolaknya.
“Tentu saja,” jawab Yumna dengan tawa gelak yang sama sekali tidak lucu bagi Guntur.
“Terserah kamu, asal bahagia aja.” Pasrah Guntur yang mengantarkan Yumna pulang. Setelahnya mereka saling diam sampai tiba di kediaman Tora.
"Om marah?" Tanya Yumna sebelum keluar dari mobil.
"Enggak," jawab Guntur. Hanya tersenyum sedikit, dia malas neko-neko.
"Tuh jawabnya singkat, pasti marah." Yumna mencubit gemas kedua pipi Guntur.
Sang pria hanya diam, sungguh dia tidak mengerti apa maunya perempuan. "Sudah sana masuk, kan gak mau ketemu Om lagi." Ucap Guntur melepaskan tangan gadis itu dari pipinya.
"Ih, Om ngusir Ara!!" Rengek Yumna yang semakin membuat Guntur tidak mengerti dengan keinginan gadis itu.
“Maunya Ara sebenarnya apa sih. Om jahat salah, Om baik salah.” Ucap Guntur lembut dengan menangkup kedua pipi gadis yang sulit ia mengerti.
“Ara takut Om ninggalin Ara seperti Geo. Mau gimanapun Ara tahan Om, tetap aja sebentar lagi Om akan nikah.” Suara sendu itu keluar dari mulut Yumna, Guntur langsung membawanya dalam pelukan.
Yumna menggeleng dalam pelukan Guntur, “Ara bukan perebut calon suami orang.”
“Ara bukan perebut calon suami orang,” Guntur menatap teduh netra Yumna yang sudah berkaca-kaca.
Andai gadis itu tau, karena takut dijodohkan dengan Yumna lah dia memilih ingin menikah dengan Sheryl. Tapi sekarang dia rela dibuat repot oleh gadis ini. Karena memendam rasa ternyata sangat menyiksa. Apalagi kalau melihat Yumna nyaman dalam pelukan lelaki lain.
“Ara tetap gak mau,” kekeuh Yumna.
“Oke,” sahut Guntur tersenyum.
Bukan saatnya berdebat, ada hal lain yang lebih menggodanya. Pria itu kembali mencuri satu sesapan dari bibir mungil yang tak lelah berekspresi.
Yumna tidak menolak, gadis itu terbuai dengan sentuhan lembut yang Guntur berikan. Suara decakan kecil beradu dari kedua bibir mereka. Sampai ketukan di kaca menyadarkan tangan Guntur yang mulai ingin kelayapan.
Yumna membulatkan mata saat melihat daddy-nya yang mengetuk kaca mobil. Gadis itu merapikan pakaiannya yang berantakan, sedang Guntur hanya tersenyum kikuk. Mereka berdua keluar dari mobil seperti sedang tertangkap basah Satpol PP.
__ADS_1
“Masuk ke kamar!!” Titah Tora pada putrinya, dia sudah tidak bisa tinggal diam dengan kelakuan dua anak muda ini. Dia kira ada masalah apa, sampai tidak ada yang keluar mobil. Ternyata masalah hati dan perasaan.
“Yes Daddy,” jawab Yumna dengan kepala menunduk takut, meninggalkan Guntur disana. Pada Tora tidak berniat marah-marah.
“Aku pernah berbuat kesalahan karena menghalangi kebahagiaan putriku Guntur. Aku tidak melarang Ara ingin jatuh cinta dengan siapapun lagi. Tapi masalahnya kamu sudah ingin menikah. Akhirnya nanti itu akan menyakiti Ara,” ucap Tora serius.
Guntur mengangguk mengerti. Semua memang salah dirinya yang terlalu pecicilan dan menarik Yumna pada hubungan yang rumit karena tidak bisa menahan diri.
“Kamu sedang di persimpangan jalan, yakinkan kembali hatimu sebelum mengambil keputusan besar.” Tora menepuk bahu kiri Guntur, “kalau kamu memilih Ara, itu akan membuatmu repot karenanya. Putriku itu sangat manja dan tidak pernah kekurangan kasih sayang di rumah ini. Dia juga tidak bisa melakukan pekerjaan rumah, aku hanya tidak ingin kamu menyesal karena sudah memilih Ara dan meninggalkan perempuan yang baik.” Lanjutnya menasehati Guntur yang sedang gamang.
"Aku sudah berusaha menolak perasaan ini Om, tapi tidak bisa. Semakin aku abaikan semakin membuatku tersiksa," Guntur mengusap wajah gusar. Ingin membatalkan pernikahan dengan Sheryl saja dia tidak tau harus beralasan apa.
"Selesaikan masalahmu dulu baru kembali, rumah ini selalu terbuka untukmu datang. Tapi jangan temui Ara sebelum masalah pernikahanmu beres." Tegas Tora, dia tidak ingin putrinya yang disalahkan atas gagalnya pernikahan Guntur nanti.
"Iya Om," Guntur mengangguk mengerti. Dia kemudian berpamitan dengan Tora dengan perasaan kacau.
Tora menemui putrinya di kamar bertepatan denga Yumna yang baru selesai mandi.
"Daddy marahin Om?" Tanya Yumna pelan.
"Enggak," pria berumur itu mendekati Yumna lalu membawa putrinya dalam pelukan.
"Bisa ya ciuman di mobil tapi belum gosok gigi," goda Tora dengan kekehan kecil. Agar anak gadisnya ini tidak tegang.
"Ara salah ya suka sama calon suami orang?"
"Gak ada yang salah Sayang, kan Ara sendiri yang bilang kalau perasaan tidak bisa dipaksakan. Daddy cuma gak mau Ara sakit hati nanti seperti ditinggal Geo."
"Ara juga takut," lirih Yumna sangat pelan.
"Daddy gak melarang Ara jatuh cinta sama Guntur, tapi kemungkinan terluka sangat besar Sayang. Sebelum Guntur resmi membatalkan pernikahannya, Ara jangan bertemu dulu ya."
Yumna mengiyakan dengan anggukan, "Ara mau ke rumah Bunda Farah ya."
"Daddy antar," Tora membiarkan saja putrinya mencari teman. Agar tidak tefokus pada Guntur, dia khawatir Yumna seperti saat ditinggal Geo dulu. Sampai harus mendapat penanganan psikolog.
__ADS_1