Gemuruh Cinta Sang Guntur

Gemuruh Cinta Sang Guntur
75. Kaget


__ADS_3

"Kamu sakit Sayang?" Tanya Hasna pada menantunya yang terlihat sangat lesu.


"Ara cuma capek, Mah." Yumna menopangkan kepala pada bahu Guntur. Ia tidak konsen mendengar percakapan keluarga sang suami karena badannya terasa remuk.


"Baring aja kalau masih ngantuk Sayang." Guntur membantu mengubah posisi kepala sang istri jadi berada di pangkuannya.


"Jangan keseringan ngajak Ara main Guntur, kamu ini gak ingat diri. Lihat sekarang sampai kelelahan begitu," ujar Hasna.


"Gak sering kok Mah, cuma tiap malam aja." Jawab Guntur keceplosan, yang membuatnya ditatap seperti maling ayam.


"Kasih Ara istirahat, awas kalau sampai menantu Mama sakit!" Ancam Hasna diikuti pelototan tajam.


"Duh, benar-benar berasa jadi anak tiri." Sahut Guntur dengan kekehan. Tangannya tidak berhenti memijat kepala Yumna.


Sedang orang yang dibicarakan sudah melanjutkan melanjutkan tidur kembali.


*


*


*


"Abaaang!!" Yumna terpekik kaget saat pipinya disentuh oleh bayi yang belum genap berumur dua bulan. Menormalkan degupan jantung yang seperti habis lompat-lompat.


Bayi mungil yang berada dalam gendongan Anindi ikut terkejut dan menangis ketakutan.


"Sayang, kamu kenapa usil juga sih!" Tegur Tomi setelah aksi dadakan Anindi itu putrinya menangis dan semua menatap kearah Yumna.


"Cuma mau bikin Ara gak takut lagi, Mas." Anindi menenangkan putrinya yang menangis kejer dengan berjalan mondar-mandir.


"Maaf Ara kaget," Yumna membangunkan tubuhnya sambil mengucek-ngucek mata. Perempuan itu bangkit dari duduknya beranjak ke dapur.


"Ara mau kemana?" Guntur mengikuti istrinya.

__ADS_1


"Mau ambil minum Abang," sahut Yumna yang masih menormalkan ritme jantung. Kenapa sekarang kalau berada didekat bayi dia jadi gemetaran.


Wanita itu mengambil air minum lalu duduk, napasnya masih terasa cepat. Berulang kali ia menarik napas panjang lalu menghembuskannya secara perlahan.


"Ara baik-baik aja Sayang?" Guntur ikut duduk, mengusap keringat di kening sang istri.


"Ara deg-deg'an di dekat Nefa Abang. Kayak lagi jatuh cinta," sahutnya dengan cengiran. Mencoba menghilangkan kerisauan di hati, dulu dia biasa saja melihat bayi. Kenapa sekarang tanpa sadar jadi panik.


"Gimana kalau Ara konsultasi sama dokter, biar tau penyebab kepanikan Ara ini." Guntur membawa istrinya yang sudah selesai minum dalam pelukan. Dia masih bisa merasakan suara napas yang tidak beraturan itu.


"Takut ih sama dokter," tolak Yumna mencari-cari alasan. Padahal dia pernah berbulan-bulan didampingi psikiater pasca kepergian Geo.


"Sama Papa Rizal takut gak?" Guntur menyelidik dengan senyuman misteri.


"Enggak."


"Papa juga dokter kenapa gak takut, hm." Goda Guntur yang sudah tahu istrinya ini punya seribu satu cara untuk menolak kalau memang tidak ingin.


"Apa bedanya?"


"Papa gak pake jas dokter." Sahut Yumna asal, yang penting dia memiliki jawaban.


"Oh gitu," Guntur langsung menggendong istrinya kembali ke ruang tengah.


"Abang turunin Ara!! Malu ihh!!"


"Biasanya juga gak punya malu," Guntur menggendong istrinya itu sambil menciumi di pipi. Persis sedang menimang anak kecil.


"Hm, lengket jugakan. Katanya anak gagal tumbuh tapi sekarang gak mau lepas!!" Ghani berdecak melihat kelakuan Guntur. Tidak sadar diri kalau dia juga seperti itu dengan Khalisa.


"Sesama spesies jangan protes!!" Mira menoyor kening putranya.


"Mah, sakiiit." Rengek Ghani pada sang mama.

__ADS_1


"Lebay!!" Decak Mira semakin menoyor kening sang putra agar sadar diri.


"Pah, coba pake jas dokternya." Pinta Guntur pada Papa Rizal. Orang-orang dibuat cengo menatapnya. Sedang Yumna membelalakkan mata menepuk jidat pelan.


"Mau alasan apalagi, hm." Guntur menaik turunkan alis semakin menggoda, membawa istrinya duduk di samping sang papa.


"Abang jahat!!"


"Abang gak jahat Sayang, cuma mau cari tau Ara beneran takut apa pura-pura takut."


"Pura-pura!!" Jawab Yumna lebih dulu sebelum menyusahkan papa mertuanya. Guntur tertawa gelak melihat wajah cemberut kesayangannya.


"Papa, Abang jahat." Yumna memeluk lengan Rizal dengan manja, menempelkan pipinya disana.


"Eitt, manja-manjanya hanya boleh sama Abang!!" Guntur melerai pelukan papa mertua dan menantu itu.


Rizal menyingkirkan tangan putranya, "kalau Abang jahat sama Papa aja Sayang." Katanya mengusap-usap lengan sang menantu dengan lembut.


"Abang selain jahat juga pelit Pah," sebut Yumna semakin cemberut mengadu pada ayah mertuanya.


"Ara tinggal sama Papa aja ya biar gak dijahatin Abang lagi." Yumna mengangguk cepat, bibirnya tersenyum miring pada sang suami.


"Papa!! Ini yang menantu siapa sih!!" decaknya, ingin memisahkan dua orang itu tapi tidak berhasil.


"Mah, Mama gak cemburu lihat Papa peluk-peluk istriku!!" Guntur sengaja memanas-manasi sang mama.


"Enggak, biasa aja tuh!!" Jawab Hasna cuek.


Guntur mendengus kasar, kenapa jadi dia tidak punya pendukung di keluarganya sendiri sih. Suka sekali tertawa diatas penderitaannya.


...💥💥💥...


Terimakasih buat kalian yang sudah support karya othor yang masih amatiran ini. kalau berkenan baca juga karya othor yang lain. partisipasi kalian sangat berarti buat othor 🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2