
Dua minggu kemudian acara lamaran Guntur dan Yumna dilakukan. Hanya dihadiri keluarga dekat mereka. Guntur tidak ingin membuang waktu lebih lama lagi, takut calon istrinya itu berubah pikiran.
"Selamat berbahagia Ara," Ammar memeluk gadis yang sudah dianggapnya adik sendiri.
"Abaang gak jauhin Ara kan setelah ini," Yumna dengan manja membenamkan kepala ke dada bidang Ammar.
"Enggak, Abang ada kapanpun Ara perlu teman." Dua orang itu kini sedang berada di taman samping rumah Yumna setelah acara selesai.
"Ara!!" Kesal Guntur yang mencari gadisnya itu kemana-mana ternyata sedang berpelukan dengan laki-laki lain.
Punya sedikit teman saja seperti itu, bagaimana kalau calon istrinya itu punya banyak teman, bisa peluk sana sini.
"Abang," Yumna tersenyum tanpa dosa melambaikan tangannya pada Guntur. Sedang posisinya masih seperti tadi, tidak berubah sedikitpun.
"Gak boleh peluk orang lain lagi, selain Abang!!" Peringat Guntur, segera menjauhkan Yumna dari Ammar. Hatinya sudah kepanasan melihat Yumna bermanja-manja dengan lelaki selain dirinya.
"Ara gak peluk orang, Ara peluk Abang Ammar." Bibir mungil itu mengerucut cemberut.
Ammar hanya tersenyum melihat Guntur yang cemburu, sedang Yumna tidak mengerti dengan kecemburuan calon suaminya itu tetap bertingkah manja padanya.
"Gak boleh Ara, bolehnya cuma peluk Abang!!" Guntur menarik Yumna agar memeluknya, matanya menatap tajam Ammar. Si empunya hanya memberikan senyuman kecil tanpa menanggapi.
"Abaaaang, kalau Ara kangen gimana?" Rengek Yumna dengan kemanjaan yang overdosis.
"Gak ada kangen-kangenan sama orang, ayo ikut Abang." Guntur menarik tangan mungil itu untuk ikut dengannya. Sejak tadi dia ingin meluapkan kebahagiaannya pada Yumna, tapi gadisnya itu malah menghilang.
"Bang Ammar ditinggal?" Tanya Yumna.
"Ammar masuklah ke dalam atau pulang sekalian!!" Sarkas Guntur sesuka hati lalu membawa Yumna pergi dari sana. Keluarganya masih berkumpul di dalam.
"Abang kenapa sih, masa Ara gak boleh dekat-dekat Bang Ammar."
"Ara sudah punya Abang, gak boleh dekat dan manja sama laki-laki lain!" Peringat Guntur tegas, kalau tidak begitu hatinya bakal morat-marit dibuat Yumna kepanasan.
__ADS_1
"Terus kita mau kemana?" Tanya Yumna dengan wajah tak bersahabat.
"Gak kemana-mana," sahut Guntur dengan kekehan setelah mereka masuk ke mobil.
Ya, Guntur hanya membawa gadisnya itu ke mobil. Duduk di kursi belakang untuk bisa meluapkan rasa bahagia dan rindunya yang dua minggu ini tidak bertemu.
"Mau ngapain?" Yumna sudah memberengut masam.
"Abang kangen," Guntur mengusap lembut pipi Yumna. Hanya dengan seperti itu sudah membuat gadisnya tersetrum dan merasa digelitiki. Pria itu semakin mendekatkan wajah, ingin merasakan manisnya bibir ranum itu lagi.
Yumna tidak menolak kecupan hangat dan basah yang Guntur berikan. Malah membalasnya, lupa kalau tadi dia sedang kesal. Mereka saling berbalas sampai Yumna hampir kehabisan nafas baru Guntur melepaskan sebentar bibir itu untuk menghirup udara bebas.
Dia sudah kecanduan bibir gadis yang selalu dibilangnya anak kecil ini. Dibawah sana sudah ada yang menegang karena mendapat aliran listrik yang terlalu tinggi. Tubuhnya memanas dengan desiran yang menggebu. Guntur membawa tangannya untuk merasakan lebih lagi kenikmatan sesaat ini.
"Abaang," lirih Yumna takut saat Guntur menciumi leher jenjangnya tanpa meninggalkan bekas. Tangannya sampai bergetar memeluk Guntur karena menahan yang dibawah sana seperti digelitik hebat.
Dia baru pernah merasakan sensasi seperti ini dan itu membuat tubuhnya lemas tak berdaya dalam buaian Guntur.
Guntur sudah dipenuhi kabut gairah yang menggebu. Ternyata gadis gagal tubuh ini bisa membuat tubuhnya panas dingin tidak karuan.
"Guntur!!" Teriak Ghani menggedor-gedor kaca mobil. Dia sudah menduga apa yang dilakukan adik sepupunya itu. Walau dari luar tidak terlihat.
Guntur cepat melepas Yumna yang lemas karena ulahnya lalu merapikan pakaian gadis itu. Dia membuka pintu mobil sambil menyengir lebar.
"Kalian nikah sekarang, ditunggu di dalam!!" Ghani meninggalkan dua orang yang sama-sama sedang terbakar hasrat itu kembali ke dalam. Dia takut kejadian seperti Tomi terulang kalau tidak cepat bertindak.
"Abang, Ara gak mau nikah malam ini." Dia masih belum siap kalau mendadak jadi istri Guntur.
"Nanti Abang yang bicara sama Ghani, kita masuk dulu." Guntur terpaksa menghentikan kegiatan menjelajahnya terhenti.
"Kaki Ara lemas, Abang."
"Istirahatlah sebentar," Guntur membelai pipi gadis itu sambil tersenyum.
__ADS_1
Ada rasa bangga dalam hatinya karena sudah bisa membuat Yumna terkulai lemas seperti ini. Apalagi kalau terkulai lemas diatas tempat tidur tanpa busana. Pikiran Guntur jadi traveling kemana-mana.
Setelah beberapa menit Yumna beristirahat. Guntur membawanya masuk ke rumah. Kalau saja ini bukan kediaman Tora dan tidak sedang banyak orang ia sudah menggendong tubuh mungil ini.
Dengan pelan Guntur mendudukkan Yumna di sofa. Dia kasihan kalau setelah ini Yumna harus ikut mendapatkan ceramah karena kesalahannya. Mereka seperti disidang dua keluarga.
"Nikahkan mereka sekarang Pah!!" Pinta Ghani setelah dua orang yang ditunggunya sampai.
"Mana bisa Gha ini terlalu mendadak," sela Emran.
"Bisa, kalian gak lihat kelakuan Guntur, belum ada satu jam sudah membawa Ara main di mobil." Ghani mendelik pada Guntur dan Yumna yang masih terlihat lemas.
"Gha," Guntur menggeleng pelan. Ia tidak ingin membuat Yumna malu di depan keluarganya. Gadis itu sudah pucat dengan kepala menunduk.
"Ara masuk ke kamar ya," beritahu Guntur dengan lembut. Semua itu tidak lepas dari pengamatan dua orang yang ada di sana.
Gadis itu menurut dengan tubuhnya masih lemas setelah kegiatan yang terhenti tadi.
"Aku yang salah bukan Ara, jangan bikin dia malu!" Tukas Guntur kesal setelah Yumna masuk ke kamar.
"Kamu tahan sebentar Nak, cuma satu bulan. Setelah kalian menikah terserah mau apa." Ucap Hasna lembut mendekati putra sulungnya.
"Mah, satu bulan itu lama." Ringis Guntur yang sudah tidak bisa jauh-jauh dari gadis kecilnya itu. Dua minggu tidak bertemu saja dia sangat tersiksa.
"Ya sudah kalian menikah sekarang," Tora memutuskan memanggil penghulu.
"Tapi Om, Ara gak mau menikah sekarang. Aku gak mau Ara tertekan dan malah kabur nanti." Guntur sangat tahu, calon istri kecilnya itu sangat suka kabur-kaburan.
"Kalian tidak boleh bertemu sebelum pernikahan dilangsungkan," Rizal membuat keputusan yang tidak bisa diganggu gugat. "Sekarang kita pulang!!"
"Pah, masa satu bulan Guntur gak boleh ketemu Ara." Guntur mengusap wajah frustasi.
"Gak boleh. Sekarang pulang, kamu tinggal di rumah Papa satu bulan ini!!" Rizal menarik paksa putranya untuk pulang.
__ADS_1
"Guntur belum pamit sama Ara, Pah."
"Gak ada pamit-pamitan, yang ada nanti kamu bikin anak duluan!!" Sarkas Rizal yang membuat semua orang tertawa diatas penderitaan Guntur.