Gemuruh Cinta Sang Guntur

Gemuruh Cinta Sang Guntur
70. Kesepian


__ADS_3

“Ara mau kerja juga boleh, Abang.” Yumna tak berhenti berbicara mengganggu Guntur yang sedang memeriksa berkas.


Pria itu hanya menanggapi dengan anggukan, gelengan atau deheman setiap sang istri mengajukan pertanyaan. Ia seperti sedang di wawancarai wartawan.


“Abang, Ara bisa bantu ngapain?” ujar Yumna bosan hanya duduk diam menatap sang suami yang sibuk.


“Kalau Ara diam itu sudah sangat membantu Abang, Sayang. Kepala Abang pusing dengar Ara ngoceh. Mulutnya gak capek ngomong?” Guntur meletakkan berkas di tangannya menatap sang istri yang mengerucutkan bibir.


“Ara kesepian Abang, Ara serasa ngomong sama tembok.”


“Makanya lebih baik Ara diam, hemat suaranya Sayang.”


Yumna semakin mengerucutkan bibir diikuti gelengan, beranjak mendekati sang suami. “Ara gak bisa diam.” Katanya melingkarkan tangan ke leher Guntur, memeluk dari belakang.


“Ara mau pulang?” tawar Guntur. 


“Ara mau sama Abang disini,” Yumna berputar mendudukkan diri di pangkuan sang suami.


“Oke, sekarang Ara diam ya. Abang mau selesaikan ini dulu,” Guntur mengetuk berkas di meja. Wanitanya itu mengangguk patuh. Ia membiarkan saja Yumna bermanja-manja di pangkuannya.


Awalnya Yumna memang patuh untuk diam. Tapi lama kelamaan ia bosan dan akhirnya dengan sengaja membuat Guntur terusik. Tangannya mengusap-usap dasa bidang sang suami.


Karena terhalang jas dan kemeja Guntur tidak terlalu masalah. Tangan itu tidak terlalu menyetrum tubuhnya.


Guntur menyunggingkan senyuman mengecup puncak kepala wanitanya.

__ADS_1


"Abang masih sibuk?" Yumna mendongakkan kepala menatap sang suami.


"Mau apa Sayang?" Guntur membenarkan posisi duduk Yumna lalu mengelus-elus di punggung.


"Ara lapar, Abang."


Pria itu langsung melirik jam yang melingkar di pergelangan tangan. Hampir jam dua belas, pantas saja istrinya kelaparan.


"Abang pesankan makannya dulu ya."


"Makan bakso boleh?" Pinta Yumna.


"Boleh Sayang."


"Makasih Abang," Yumna membenamkan wajahnya di bahu Guntur. Sementara lelaki itu menghubungi sekretarisnya untuk membelikan bakso.


“Tidur,” gumamnya padahal makan siang yang ia pesan belum datang.


Pria itu tidak banyak bergerak melanjutkan pekerjaannya yang tertunda walau agak kesusahan. Kakinya sampai terasa kebas karena terlalu lama memangku Yumna.


“Tidur?” tanya Tomi yang masuk ke ruangan Guntur.


Ia tadinya ingin mengajak Guntur makan siang di rumah. Mereka terbiasa makan siang bersama keluarga, sangat jarang makan diluar.


Guntur menjawab dengan anggukan. Ia sudah seperti pengasuh anak yang bekerja sambil memangku momong.

__ADS_1


Tomi menahan tawa. Ia pikir Khalisa sudah yang paling manja, ternyata masih ada yang lebih manja daripada itu. Untung istrinya tidak semanja mereka, semoga saja tidak menular pada putrinya kemanjaan dua Wanita itu.


"Gue sumpahin Nefa nanti lebih manja dari ini ke Arraz. Dan mereka jodoh!" Cetus Guntur yang mengerti tatapan mengejek Tomi.


"Sembarangan, bisa-bisa perang saudara." Sergah Tomi, Khalisa yang tentunya akan lebih dulu mengamuk kalau itu benar terjadi.


"Biarin, biar seru." Guntur tersenyum penuh kemenangan. Dia tidak bisa membayangkan kalau itu benar-benar terjadi, pasti akan sangat menggemparkan.


"Lo buang-buang waktu gue!!" Tomi meninggalkan ruangan Guntur. Mendengarkan bualan lelaki itu membuatnya merinding.


"Lah yang nyuruh kesini siapa?" Guntur mengendikkan bahu acuh.


.


.


.


.


.


.


Itu Tomi belum tau aja kalau di masa depan nanti putrinya jadi fotocopyan Kha dan Ara 😆

__ADS_1


Othor nyicil, mumpung mata masih bisa melek lebar ini 🤣


__ADS_2