
"Abang kenal?" Tanya Yumna pada Guntur ditengah kebingungannya. Tadi ia membaca nama abinya Nasya itu Adnan tapi kenapa suaminya memanggil dengan sebutan Ken.
"Kenal Sayang," jawab Guntur singkat.
"Abi kenal Om penculik menyebalkan itu?" Sekarang giliran Nasya yang bertanya pada sang paman.
Ken mengangguk dengan alis yang bertaut, "Om penculik menyebalkan?" Tanyanya butuh penjelasan.
"Tadi Om itu mau menculik Sya," adunya dengan wajah cemberut membuat Guntur semakin gemas.
"Sekarang pun Om masih mau menculik kamu," ucap Guntur dengan seringaian jahil dan tangannya langsung dipukul Yumna.
"Abang berhenti godain anak orang!!" Tegur Yumna.
"Abang cuma godain anak kecil sayang masa kamu cemburu," Guntur tersenyum menggoda pada ibu hamilnya.
"Yang bilang Ara cemburu siapa!!"
"Jangan panggil aku anak kecil Om!!"
Seru Yumna dan Nasya bersamaan dengan mata yang sama-sama melotot ke arah Guntur. Ken bersusah payah agar tidak tertawa gelak di rumah sakit.
"Ara mau melahirkan?" Tanya Zaky yang tiba-tiba datang. Ia bergegas menyusul saat salah satu perawat mengatakan Guntur ada di rumah sakit bersama istrinya.
__ADS_1
"OMG!!" Guntur menepuk jidat, dia salah datang ke rumah sakit ini. Harusnya Guntur tidak membawa korban kecelakaan itu ke rumah sakit keluarganya.
"Siapa yang bilang Ara mau melahirkan?" Yumna menatap sengit Zaky.
"Perawat," jawab Zaky santai. "Jadi siapa yang melahirkan?" Pria itu menatap kearah Ken. Mereka tidak kenal dekat tapi saling mengenal.
"Mana mungkin aku melahirkan!!" Sergah Ken sebelum dituduh ingin melahirkan.
"Mana bisa burungmu melahirkan!!" Sarkas Guntur frontal, Yumna langsung mencubit bibir suaminya yang seperti jalan tol kalau bicara.
"Sayang apa yang salah, Abang benarkan?" Guntur memegangi tangan Yumna agar tidak menyakitinya lagi.
"Abang salah, burung bukan melahirkan tapi bertelur." Sahut Yumna yang membuat Guntur memutar bola mata jengah.
"Bunda yang sakit," jawab Nasya yang kesal dengan orang-orang dewasa itu. Mereka sedari tadi bercanda disaat yang tidak tepat. "Abi kenapa bunda lama?"
"Nasya sabar ya, bunda sedang diperiksa perawat." Ken menenangkan keponakannya.
"Tunggu-tunggu, ini Abi Nasya?" Tanya Yumna penasaran.
"Bukan Sayang," gemas Guntur.
"Bukan? Lalu kenapa Nasya panggilnya Abi?" Tanya Yumna semakin bingung.
__ADS_1
"Karena Nasya suka panggil Abi." Lagi-lagi Nasya yang menjawab dengan suara ketus.
Yumna meringis mendengar jawaban anak kecil itu, "yang tua mengalah sajalah," batinnya.
"Abinya Nasya kakakku dan yang di dalam itu kakak sepupu istriku." Ken menguraikan agar ibu hamil itu tidak bingung, takut langsung brojol karena banyak pikiran.
"Paham Sayang?" Tanya Guntur.
"Paham," sahut Zaky dan Yumna bersamaan. Guntur langsung melotot pada iparnya yang ikut-ikutan.
"Zak kebetulan kau disini, temani Ken." Pesan Guntur, Zaky mengangguk saja.
"Hei anak kecil tunggu Om nanti culik kamu," bisik Guntur sebelum pulang dan sempat-sempatnya menciumi pipi kanan dan kiri Nasya dengan gemas.
"Abiiii, aku gak suka dicium orang asing!!" Pekik Nasya kesal sampai menyapu pipinya yang bekas dicium Guntur.
"Bilas pakai air minum Sya, biar gak rabies." Ken membukakan tutup botol air minum keponakannya.
"Hei aku bukan anjing yang bisa bikin rabies!!" Seru Guntur kesal, sedang Zaky dan Yumna tertawa gelak.
"Aku tidak mengatakannya, kau sendiri yang berpikir seperti itu." Jawab Ken dengan tersenyum smirk. Dia berhasil membuat kesal Guntur yang sudah membuat keponakannya menangis.
"Siyal, awas saja kau ku serang ke rumah!!" Geram Guntur membawa istrinya pergi, kalau saja bukan rumah sakit sudah dia ajak gulat.
__ADS_1
Ken dan Zaky saling pandang lalu mereka tertawa bersama lagi yang tidak dimengerti Nasya, karena tidak ada yang lucu.