
“Ara ada main ke toko Nin, lama banget gak ada kabarnya?” Tanya Mira pada menantunya.
Seperti biasa mereka selalu berkumpul setelah makan malam. Hanya untuk mengobrol atau menonton televisi, agar selalu ada waktu untuk keluarga di tengah sibuknya aktivitas masing-masing.
“Gak ada Mah. Nomor hpnya juga gak bisa dihubungi lagi,” sahut Anindi sambil membelai lembut rambut Arraz.
Mendengar nama itu disebutkan Guntur menajamkan pendengaran. Tapi seolah acuh dan fokus pada toples cemilan di tangannya.
Sejak insiden yang terjadi di kantornya itu ia tidak pernah bertemu Yumna lagi. Ingin menemui tapi Guntur tidak memiliki alasan apapun.
Hampir setiap malam ia selalu dihantui bayangan gadis itu. Guntur lebih memilih mengalihkannya pada hal lain daripada memikirkan Yumna. Berusaha mengelak perasaan rindu yang terselip di hatinya.
“Ayah, Arraz juga mau ketemu Kak Una.” Ujar Arraz tiba-tiba, ia menoleh sebentar pada sang ayah.
Putra Ghani itu betah berdiri sambil memeluk dan menciumi perut Anindi yang semakin membuncit. Perkiraan satu bulan lagi wanita hamil itu akan melahirkan.
“Gak ada yang mau ke tempat Kak Yumna, Sayang.” Beritahu Ghani, anaknya ini tau aja apa yang sedang orang dewasa obrolkan.
“Tapi Arraz mau,” kekeuh Arraz.
“Ikut Om Guntur ke rumah Sesa aja ya Sayang. Nanti kapan-kapan kita ke rumah Kak Yumna nya,” bujuk Ghani.
Sesa merupakan putri Sheryl dengan mantan suaminya. Anak itu sudah dikenalkan pada keluarga besarnya ini, jadi Arraz sering bertemu. Mira juga sudah menyetujuinya.
“Boleh Om?” Anak lelaki itu melepaskan Anindi dari pelukannya berpindah pada Guntur yang akur berbagi cemilan bersama Airil, putra Ghina.
“Boleh, mau berangkat sekarang?” tanya Guntur setelah menyelesaikan kunyahannya.
“Iya,” Arraz mengangguk semangat. Masalah jalan-jalan itu kesukaannya, berbeda dengan Airil yang lebih anteng di rumah sambil main game.
“Hayuk kita cuuusss, Airil mau ikut.” Ajak Guntur yang sudah memegang tangan mungil Arraz. Om dan keponakan itu semangat mau apel malam minggu.
“Malas,” sahut bocah yang sedang asyik menonton televisi sambil menyemil itu. Persis meniru kebiasaan Guntur.
Dua orang lelaki berbeda usia itu keluar dari mobil dengan riang setelah sampai di depan rumah Sheryl. Bertepatan saat Guntur ingin mengetuk pintu, Shery keluar bersama putrinya.
__ADS_1
“Hei kesini gak ngasih kabar, untung kami masih di rumah.” Ujar Sheryl menyambut uluran tangan Arraz yang menyalaminya.
“Kalian mau kemana?” tanya Guntur.
“Mau belanja ke swalayan, barang-barang di rumah habisan. Kalian mau ikut?” ajak Sheryl.
“Ya sudah kami ikut aja sekalian jalan-jalan, iya kan Raz?” Konfirmasi Guntur pada keponakannya.
“Bener Om, Arraz mau belanja yang banyak. Tapi pake duit Om,” sahutnya dengan gaya tengil.
“Mata duitan kayak bundamu,” seloroh Guntur menuntun dua anak kecil itu untuk masuk ke mobilnya.
“Tapi Om ada duitnya gak, nanti Arraz gak bisa pulang kalau Om gak punya duit!!” Seruan putra Ghani itu membuat Sheryl mentertawakan Guntur yang sudah duduk dibalik kemudi.
“Arraz mau Om tinggal beneran,” ujar Guntur yang ikut tertawa kecil.
“Gak takut! Arraz bisa telepon ayah buat jemput,” jawabnya sombong. Sepanjang jalan hanya celotehan Arraz yang mendominasi di mobil.
Sesampainya di swalayan dua anak kecil itu langsung berlarian. Sheryl tersenyum geli melihat wajah Guntur yang frustasi menjaga Arraz.
“Sesa berhenti lari-larian Sayang, kalau jatuh sakit.” Beritahu Sheryl pada putrinya, gadis kecil itu langsung menurut. Berbeda dengan Arraz yang semakin usil.
“Kak Una!!” Teriak Arraz melihat perempuan yang sangat mirip dengan Yumna di depan sana. Putra Ghani itu melepaskan tangan Guntur dan berlari mengejar Yumna.
Dengan helaan nafas berat Guntur mengikuti bocah itu, jangan sampai yang Arraz lihat benar-benar Yumna.
“Kita susul Arraz dulu ya, Sesa sini gendong sama Om biar cepat.” Ujar Guntur merentangkan tangan, membawa gadis kecil itu dalam gendongan.
“Hei Boy sama siapa?” Sapa Aga yang melihat Arraz berlari mendekatinya dengan napas turun naik.
“Sama Om, tadi Arraz lihat Kak Una disini.” Gumam mulut mungil itu dengan wajah kecewa, karena Yumna sudah menghilang.
“Kak Una?” Sagara menatap istrinya bingung.
“Minara Yumna Mas,” ujar Ranaya menyebutkan nama lengkap adik iparnya sambil tersenyum geli.
__ADS_1
“Oh, Yumna-Una,” Aga manggut-manggut membawa bocah itu menyusul Yumna.
“Ra ada fans mu yang lari-larian ngejar nih.” Tunjuk Aga pada Arraz yang sudah berada di gendongannya.
“Arraz sama siapa dia Bang? Kalau ayahnya bingung nyariin gimana?” Seru Yumna yang baru membuat sang abang sadar. Sagara menggaruk kepalanya sambil menyengir pada sang adik.
“Arraz, mau Om tinggal beneran disini ya!!” Seru Guntur menurunkan Sesa dari gendongannya. Ternyata benar Yumna yang keponakannya itu kejar, tapi Guntur bersikap biasa saja.
“Kan Arraz sudah bilang Kak Una,” jawab Arraz yang membuat Aga terkekeh kecil.
Yumna tidak ikut bersuara sibuk memasukkan makanan ringan dalam troli. Dia memang menghindari Guntur dan keluarganya beberapa waktu ini.
“Abang mau ada yang dibeli lagi, Ara mau ke kasir duluan ya.” Ujar Yumna tanpa menoleh ke arah Guntur yang terus menatapnya.
“Tapi Arraz nyariin kamu Ra, masa kamu tinggal.” Ujar Aga bingung, tidak biasanya sang adik cuek pada orang lain.
“Kakak duluan,” Yumna mengusap rambut Arraz sambil tersenyum lalu pergi dari sana.
Tingkah Yumna itu malah mengundang rasa penasaran Ranaya juga Sheryl yang pernah melihat gadis itu waktu di toko kue.
Guntur sadar dialah orang yang dihindari Yumna. "Ayo Om gendong, Om Aga mau belanja lagi tuh." Bujuknya pada Arraz, bocah laki-laki itu menggelengkan kepala. Beringsut turun dari gendongan Sagara mengejar Yumna.
“Kak Una tunggu!!” Teriak Arraz sambil berlari kecil.
Mendengar suara itu Yumna memelankan langkahnya. Dia bukan tidak ingin menemani Arraz, hanya malas melihat wajah Guntur apalagi sedang bersama perempuan.
"Kak Una jangan tinggalin Arraz, ikut!!" Pekiknya menghadang Yumna, gadis itu terkekeh kecil mengangkat Arraz lalu mendudukkannya di troli.
“Bilangin Ghani nanti aku antar pulang kalau Arraz sudah puas main sama Ara.” Ujar Aga yang menghela nafas lega melihat Yumna mau membawa Arraz. Pasti ada sesuatu antara adiknya itu dengan Guntur.
"Oke," sahut Guntur.
Mereka akhirnya berpisah, Sagara dan Ranaya segera menyusul Yumna. Sedang Guntur melanjutkan menemani Sheryl belanja. Walau moodnya sudah hilang melihat Yumna yang tidak suka bertemu dengannya.
...💥💥💥...
__ADS_1
...Hai baca juga cerita aku yang lain ya, semoga suka. Semua sudah tamat. Jangan lupa like, komen dan votenya. Terimakasih sudah mampir, dukung terus othor amatiran ini 😊...