Gemuruh Cinta Sang Guntur

Gemuruh Cinta Sang Guntur
62. Dingin


__ADS_3

“Celamat malam Nefa,” Guntur menirukan suara anak kecil sambal menciumi pipi baby girl yang baru satu minggu menyapa dunia.


Daripada memikirkan kepalanya sedang berserabut, lebih baik ia mengganggu putri Tomi. Ingin mengganggu Arraz, tapi bocah kecil itu ada di rumah sebelah.


“Gimana persiapan pernikahan kalian?” tanya Anindi yang tidak tau kalau Guntur sedang perang dingin dengan Yumna. Selama satu minggu ini dia focus memulihkan diri pasca melahirkan si kecil.


“Dikit lagi batal,” Guntur asal menjawab.


“Kata-kata bisa jadi doa loh, ucapkan yang baik-baik.” Ujar Anindi, dia membiarkan saja Guntur mengunyel-unyel pipi putrinya.


“Mau gimana lagi kenyataannya begitu,” Guntur menarik nafas pelan mengingat kejadian tadi siang. Entah kenapa hatinya serasa dicubit.


“Kalau ada masalah diselesaikan dengan komunikasi, bukan saling diam dan menyalahkan. Ajak bicara dari hati ke hati, pernikahan tidak hanya masalah cinta. Tapi juga komunikasi yang harus terjalin dengan baik,” nasehat Tomi seraya menepuk bahu Guntur.


“Entahlah,” Guntur mengangkat Nefa dari box dengan hati-hati. Bayi mungil itu berada dalam bedongan jadi dia tidak terlalu khawatir mengangkatnya.


“Mungkin Ara masih belum menyadari kalau yang dibutuhkannya itu Ammar bukan aku,” gumamnya pelan. Ingin meyakinkan diri kalau Yumna mencintainya, tapi kenyataan gadis itu sangat lengket dengan Ammar.


“Jadi ingin menyerah saat pernikahan sudah ada di depan mata, dua minggu lagi kalian menikah.”


“Aku masih ingat Tomi, tidak perlu diingatkan lagi. Hanya saja tidak tau calon mempelai perempuannya ada atau tidak.” Sahut Guntur dengan tertawa miris.


Tolong katakan padanya cara menghadapi perempuan yang baik, agar dia tidak salah bertindak. Padahal Guntur ingin memberikan pernikahan impian seperti yang gadis itu inginkan. Tapi Yumna sendiri yang mengagalkannya.


Anindi menatap suaminya, dia tidak tau harus memberikan saran seperti apa pada Guntur yang terlihat putus asa.


Sementara di kediamannya Tora sedang menyidang sang putri.

__ADS_1


“Pernikahan ini mau dilanjut atau batalkan saja!” Tegas Tora yang kepalang emosi.


“Daddy selalu nanya gitu sama Ara. Ara mana tau, Om masih mau nikah atau nggak sama Ara.” Sahut Yumna kesal, itu lagi, itu lagi yang dipermasalahkan. Telinganya sampai panas mendengarkan.


“Itu karena kamu yang berulah. Kalau Daddy yang jadi Guntur juga pasti ragu menikah sama kamu." Tukas Tora dengan suara tinggi.


“Iya, Ara memang salah. Ara ini memang gak pantas menikah. Siapa juga yang mau sama Ara yang manja ini,” jawab Yumna dengan suara yang tak kalah nyaring menandingi suara Tora.


“Kalau sudah tau kekuranganmu dimana, ya perbaiki. Bukan dibanggakan!” Cetus Tora yang semakin kesal dibuat putrinya.


“Mas,” Ayumi mengusap tangan sang suami agar tidak hilang kendali. Ruang tengah itu seperti sedang mendengarkan percakapan dua orang tuli saja. Ayah dan anak saling berteriak.


“Mau gimanapun Ara memperbaiki tetap aja semua orang hanya melihat kekurangan Ara, gak pernah ada yang ngerti sama Ara.”


“Kurang pengertian apalagi Daddy sama kamu?” Tanya Tora sengit yang tidak mampu Yumna jawab. Sagara juga tidak berani membela adiknya, sang daddy sedang marah.


“Daddy sudah menerima lelaki yang Ara mau, tapi kenapa Ara bersikap seperti ini.” Tora melembutkan suaranya Kembali setelah berkali-kali dicubit sang istri.


“Maafin Ara,” sahut Yumna dengan rasa bersalah.


“Semua gak bisa hanya dengan kata maaf. Daddy mau Ara belajar lebih dewasa, Ara pikirkan dulu sebelum mengambil keputusan.”


Yumna menganggukkan kepala, “terserah Daddy aja. Ara nurut,” ujar Yumna pasrah.


...🌺🌺🌺 ...


Hari pernikahan diantara dua orang yang masih perang dingin itu tiba. Tidak ada yang berani menggagalkan rencana pernikahan baik Guntur maupun Yumna. Semua berjalan dengan lancar, tidak ada yang mengira dua orang itu sedang tidak bertegur sapa.

__ADS_1


Kamar hotel ini mengingatkan saat Yumna saat pertama kali bertemu Guntur. Lelaki itu memang terus tersenyum saat acara pernikahan mereka berlangsung. Tapi tidak memperhatikannya sedikitpun, hanya bersikap mesra saat ada yang ingin berfoto atau di depan keluarga mereka. Sungguh sangat pandai bersandiwara.


Yumna membaringkan tubuhnya di sofa, tidak menganggu Guntur yang sudah terlelap di tempat tidur. Matanya menerawang ke langit-langit, pasti tidak akan seperti ini nasibnya kalau lelaki yang dinikahinya itu Geo. Bukan lelaki yang sekarang bersikap dingin padanya seperti ini.


Tidak ada lagi kehangatan yang Guntur berikan padanya. Padahal dia sudah berulang kali meminta maaf seperti saran sang daddy.


Saking lelahnya Yumna tertidur sampai pagi walau badannya sakit karena tiduran di sofa yang sama sekali tidak enak untuk dijadikan tempat tidur. Kamar itu sudah kosong, tidak ada lagi Guntur disana. Yumna segera mandi dan mencari sarapan keluar kamar. Menunggu Guntur dia bisa lemas kelaparan.


Ingin minta temani Ammar tapi takut sang suami salah paham. Yumna benci kesepian, dia selalu merindukan Geo kalau sendirian seperti ini. Gadis itu memutuskan pergi ke makam Geo setelah sarapan untuk membunuh sepi.


“Selamat pagi Geo, Ara datang lagi.” Yumna meletakkan bucket bunga di atas pemakaman sambil tersenyum cerah.


“Bisa gak sih Geo datang ke mimpi Ara sebentar aja, biar kangen Ara hilang.” Gumamnya sambil memeluk batu nisan, mengungkapkan segala keluh kesahnya disana.


“Ara kesepian, Abang gak mau negur Ara. Abang cuma senyum sama orang, tapi sama Ara enggak. Ara disini aja biar gak kesepian.” Ucap Yumna sambil tersenyum tanpa menyadari Guntur yang ada disana dan mendengar semua curhatannya.


“Ara pulang!”


“Iya Abang,” Yumna lekas bangun saat mendengar suara Guntur. Ia membersihkan tubuhnya dari tanah yang menempel. Gadis itu menghapus air mata yang sempat terjatuh lalu mengikuti Guntur yang sudah berjalan lebih dulu. Dia tidak tau kenapa lelaki itu bisa ada ditempat ini juga.


Tanpa bersuara Guntur membawa Yumna Kembali ke hotel, kalau ada keluarganya yang melihat Yumna berkeliaran dia yang bakal repot menjawab berbagai pertanyaan.


“Abang, Ara boleh beli es krim dulu?” pinta Yumna saat melihat minimarket.


“Sudah lewat,” jawab Guntur acuh.


Yumna mengangguk sambil tersenyum menatap jalanan. Guntur yang sempat dicintainya bukan lelaki seperti ini.

__ADS_1


Padahal dia sangat takut kehilangan lelaki itu. Ia tidak mengerti kenapa Guntur bersikap dingin setelah kejadian di shooting range waktu itu.


__ADS_2