
“Bangun!” Brayen menepuk pipi Yumna.
“Om!!” Yumna terpekik kaget, “Ara dimana?” tanyanya dengan kening berkerut.
“Ayo bangun!” Ulang Brayen dengan tatapan dingin.
“Om gak lihat tangan Ara dirantai, gimana Ara bisa bangun!” Sarkas Yumna dengan berani.
“Ck, buka rantainya!!” Perintah Brayen pada anak buahnya. Ia ingin melihat sejauh mana putri Tora itu bisa bersikap angkuh.
“Terima kasih” Yumna tersenyum manis lalu beranjak dari tempat tidur.
“Siapa yang menyuruhmu pergi!!” Sentak Brayen, anak buahnya sudah siap siaga.
“Kalian mau ikut Ara ke kamar mandi?” Yumna tersenyum kecut, “atau Ara pipis disini saja.”
Brayen mengibaskan tangan, “kenapa dia tidak terlihat takut sama sekali,” gumamnya.
“Ara lapar!” Yumna menghempaskan tubuhnya ke sofa setelah keluar dari kamar mandi.
“Masak sendiri, disini tidak ada yang melayanimu. Dan mulai sekarang kau memasak untukku dan membereskan seisi rumah ini.”
“Jadi aku dibawa kesini hanya untuk dijadikan pembantu,” Yumna mengangkat tangan kanan dan memperhatikan kuku-kuku cantiknya yang terawat.
__ADS_1
“Berapa bayaran untukku, kalau aku mengerjakan semuanya?”
“Nyawamu bayarannya, kalau kau masih ingin hidup lakukan semua yang kuperintahkan!!”
“Padahal aku lebih memilih mati, agar bisa bertemu Geo lebih cepat.” Yumna menjawab dengan tenang, bibirnya menyeringai tipis.
"Sekarang ambilkan Ara makanan!!" Perintah Yumna angkuh pada anak buah Brayen.
"Kami hanya akan tunduk pada perintah Tuan Brayen Nona," sahut salah satu anak buah Brayen.
Brayen tersenyum tipis, namun senyuman itu mendadak hilang saat Yumna melemparkan vas bunga kearahnya. Ia baru menyadari saat benda itu mengenai kepalanya dan pecahan vas bunga berserakan di lantai.
"Kau!!" Tunjuk Brayen dengan tatapan elang yang siap mengobrak-abrik Yumna.
"Om bilang agar mereka menuruti perintahku!!" Yumna beralih pada Brayen sambil memainkan asbak rokok yang terbuat dari kaca. "Aku tidak tau kalau benda ini mengenai kepala apakah bisa langsung membuatnya geger otak."
"Turuti semua keinginannya!!" Perintah Brayen pada dua anak buahnya. Sebelum kepalanya jadi sasaran lagi.
"Bersihkan!!" Titah Brayen pada Yumna menunjuk pecahan vas bunga yang berserakan.
"Ara lapar, belum siap jadi pembantu!!" Jawab Yumna tanpa rasa takut sedikitpun.
"Sial, aku salah menculik orang!!" Umpat Brayen pada dirinya sendiri. Ia menjaga jarak dari wanita itu karena tau Yumna bisa kapan saja menyerangnya.
__ADS_1
Dia tidak boleh memancing emosi Yumna, karena putri Tora itu akan semakin beringas saat marah. Jadi Brayen harus bermain dengan halus.
...🐥🐥🐥 ...
"Belum ada kabar?" Tanya Guntur pada orang-orang yang disuruhnya mencari keberadaan sang istri. Setiap sepuluh menit ia akan menanyakan pertanyaan itu.
"Makan dulu Nak," Mira membawa putranya duduk. Sejak tadi siang Guntur belum ada menyentuh nasi hanya mondar-mandir tidak jelas.
"Guntur gak bisa makan Mah, sampai sekarang Ara belum ada kabarnya." Guntur mengusap wajah gusar.
Apalagi sekarang mertuanya sangat marah. Menyalahkannya karena tidak bisa menjaga Yumna dengan baik.
"Ara pasti bisa mengatasinya," Rizal menepuk pundak putranya untuk memberikan ketenangan.
"Ara sendirian Pah, sehebat apapun Ara pasti akan kesulitan menghadapi Brayen dan anak buahnya. Apalagi sekarang dia sedang hamil," lagi-lagi Guntur bernapas dengan berat. Sangat khawatir dengan keadaan sang istri.
"Ada Allah yang melindungi Ara," Hasna memeluk putranya yang tengah hancur. Baru pertama kali ia melihat putra sulungnya yang tengil dan selalu tenang sekacau ini.
"Allah," gumam Guntur. Diantara sepupu-sepupunya hanya dia yang tidak terlalu peduli perihal agama. Baginya hidup itu mengalir mengikuti arus seperti air. Saat orang sholat dia ikut sholat, hanya sebatas itu.
"Ya, Allah bisa menjangkau apa yang tidak bisa kita jangkau. Dan Allah bisa melindungi apa yang tidak bisa kita lindungi." Sebut Hasna membuat Guntur terdiam.
Ia tidak pernah mengikut sertakan Allah disetiap tindakan. Hanya mengenal Allah sebagai Tuhan tempat bersujud. Ia lupa kalau Allah pemilik langit dan bumi, bisa melakukan segala-galanya jika DIA berkehendak.
__ADS_1