Gemuruh Cinta Sang Guntur

Gemuruh Cinta Sang Guntur
71. Nasehat


__ADS_3

"Ara gak kuliah?" Tanya Tora pada putrinya yang berleha-leha duduk di sofa sambil menonton kartun.


"Daddy kenapa gak ke kantor?" Yumna malah balik bertanya. Ia menoleh sebentar pada pria yang masih tampan walau sudah tidak muda lagi.


"Daddy libur, kan hari minggu." Jawab Tora, "kamu ini ditanya malah nanya balik."


"Please deh Daddy, Ara gak mau jadi profesor terlalu dini dengan masuk kuliah di hari minggu." Jawab Yumna dengan wajah yang kecut.


"Astaga, Daddy lupa Sayang. Maklum sudah tua," Tora tertawa gelak duduk di samping sang putri mencubiti pipinya dengan gemas.


"Suamimu mana?" Tora tidak melihat menantunya lagi setelah sarapan tadi pagi.


"Abang ada urusan Daddy, Ara malas ikut. Badan Ara capek karena Daddy paksa kuliah." Jawabnya dengan manja meringsek ke pelukan sang ayah.


"Ara mau berhenti kuliah?" Tora menatap putrinya dengan intens. Anaknya yang sudah tidak gadis itu mengangguk cepat.


"Ara mau Abang nanti tergoda dengan perempuan yang lebih pintar. Sedang kamu kuliah pun gak selesai. Apa yang bisa Ara banggakan kalau berhenti kuliah?"


"Daddy kenapa nanya gitu?"


"Kita harus berpikir realistis Sayang, kadang interaksi suami istri di tempat tidur itu tidak dapat menjamin orang yang kita cintai tetap setia. Siapa yang bisa menjamin kalau Guntur menemukan perempuan yang lebih cantik, pintar dan mempesona darimu tidak tergoda?"

__ADS_1


"Gak ada yang bisa menjamin Sayang. Kamu harus bisa mengimbangi. Jadilah cantik tidak hanya diluar, tapi cantik karena memiliki nilai lebih dalam dirimu." Lanjut Tora menasehati putrinya.


"Sekarang Ara harus apa? Ara gak mau Abang diambil orang."


"Ara harus belajar lebih dewasa. Layani suami dengan baik, tidak hanya ditempat tidur. Ara harus mengurus makan dan minumnya dari tangan Ara sendiri. Itu nilai plus Sayang, karena masakan yang dimasak penuh cinta itu tidak akan ada tandingannya. Lihat Mommy, walau banyak yang membantu di rumah tapi Mommy tidak pernah absen melayani Daddy kan. Bahkan kita setiap hari makan dari masakan Mommy langsung."


"Ara gak bisa masak Daddy," sebut Yumna sendu. Bukan hanya memasak, dia tidak bisa mengerjakan pekerjaan rumah apapun.


"Ara bisa belajar sama Mommy, gunakan waktu senggang Ara untuk belajar."


"Satu hal yang harus Ara ingat, Guntur berasal dari keluarga terhormat. Mereka sangat menjaga penampilan sesuai ajaran islam. Daddy tidak memaksa Ara menggunakan jilbab. Tapi Ara usahakan untuk tidak memakai pakaian yang terlalu terbuka."


Tora sangat tahu, jika ditinjau dari sisi agama mungkin putrinya ini tidak termasuk dalam kriteria menantu Emran. Hanya karena mereka sudah menyayangi Yumna jadi menerimanya dengan tangan terbuka.


"Daddy gak menakut-nakuti Ara, Daddy hanya ingin Ara bisa menjadi menantu kebanggaan mereka seperti yang lain. Juga jadi kebanggan Daddy."


Tora memang tidak pernah mengajarkan cara beragama yang baik pada anak-anaknya. Ia berharap dengan Yumna berada dikeluarga Emran, itu bisa membawa mereka pada perubahan. Ia sadar betul kalau selama ini masih jauh dari Tuhan.


"Apa mereka akan membuang Ara, kalau Ara gak mau punya anak?" Yumna bertanya dengan wajah yang semakin sendu.


Semua yang daddy bilang benar, ia bukanlah wanita yang pantas menjadi menantu dikeluarga itu. Walaupun kalau dilihat dari kekayaan mereka seimbang.

__ADS_1


Tora tersenyum, "mereka tidak akan membuang putri Daddy seperti itu. Asal Ara jangan membuat kesalahan fatal, berselingkuh contohnya."


Dia akan menukar apapun demi kebahagiaan putrinya ini. Tora tidak ingin menyesal untuk yang kedua kalinya.


"Apa Ara bisa jadi istri yang baik, Daddy."


"Ara bisa Sayang," Tora mengelus sayang belakang kepala putrinya yang sudah tidak bisa dia peluk setiap saat lagi.


.


.


.


.


.


.


...🌺🌺🌺...

__ADS_1


Kalau Ara jadi profesor kebayangkan kepala siapa yang botak duluan 🤣.


Tuh dengerin Ra, jangan terlalu manja. Nanti babangnya digaet orang.


__ADS_2