
"Mau apalagi kau datang ke rumahku?" Seru Tora dengan tatapan tajam pada Guntur yang pagi-pagi sudah ada di rumahnya.
"Mas, jangan galak-galak sama menantu sendiri." Tegur Ayumi pada suaminya.
"Dia bukan menantuku lagi!!" Tora berucap tegas tanpa mengalihkan pandangannya pada Guntur yang masih terlihat santai.
"Bicara jangan sembarangan Mas, Guntur itu ayah dari cucumu!!" Ucap Ayumi tidak kalah tegas. Mereka saling menatap tajam satu sama lain.
Guntur memijat kening pusing, kenapa malah kedua mertuanya yang bersitegang.
"Sayang," Guntur langsung mendekati Yumna yang baru muncul, memeluknya dengan erat. "I miss you," ucapnya diikuti kecupan diseluruh wajah Yumna.
Ayumi dan Tora melongo melihat kelakuan Guntur. Menantunya itu tidak mempedulikan mereka yang bertengkar.
"Guntur!!" Teriak Tora menghentikan pria yang saat ini tengah mencumbui putrinya dengan hangat tanpa takut dengan kemarahannya.
"Sebentar Daddy, marahnya delay dulu. Baby lagi kangen." Sahut Guntur tanpa menghentikan kegiatannya menciumi perut Yumna.
"Abang, Daddy beneran marah tuh." Yumna tidak mau daddy-nya semakin marah pada Guntur.
"Biarin Sayang, Abang kangen Ara." Guntur berdiri dan memeluk Yumna kembali.
"Stop Guntur!!" Teriak Tora semakin murka, Guntur malah menganggapnya seperti tidak terlihat.
"Mas, awas darah tinggi. Aku nggak mau ngurusin kamu kalau sakit nanti!! Sadar diri sudah tua itu jangan marah-marah terus!!" Ayumi semakin jengkel, bagaimana tidak jengkel kalau sang suami berteriak di samping telinganya. Kalau punya mulut mungkin telinganya akan ikut berteriak.
__ADS_1
Tora melotot tajam pada Ayumi, bisa-bisanya sang istri berbicara seperti itu di depan anak dan menantunya.
"Dad, Mom, bisa kalian berhenti bertengkar. Aku pusing!!" Tegur Sagara menuruni tangga sambil menggandeng tangan Ranaya yang tidak mau berpisah sedikitpun darinya.
Tora dan Ayumi saling pandang kemudian menatap putranya yang berwajah kusut. Begitu juga Guntur dan Yumna, sekarang mereka terfokus pada pasangan suami istri itu. Yang satu senyum-senyum tidak jelas dan yang satu bermuka masam.
"Kak Aya kemasukan setan apa?" Gumam Yumna pelan yang masih bisa didengar Guntur.
"Sstt, jangan bicara sembarangan Ara mau kesambet juga." Bisik Guntur membuat Yumna menggelengkan kepala.
"Abang kenapa?" Yumna menatap bingung pada kakak kandungnya.
"Guntur tolong buatkan Aya susu, dia merengek ingin minum susu buatanmu." Sagara memijat kepala pusing mengabaikan pertanyaan sang adik. Akhir-akhir ini istrinya selalu berulah. Tadi saat tahu adik iparnya ada di bawah Ranaya langsung merengek ingin minum susu buatan Guntur.
Empat orang yang ada disana menatap Ranaya dengan wajah semakin bingung. Sedang si empunya bergelayut manja di tangan Sagara dengan senyuman lebar.
"Kakak iparmu kenapa?" Tanya Guntur keheranan, tiba-tiba saja dia yang disuruh membuatkan susu.
"Abang buatin aja, Kak Aya sukanya susu rasa vanila." Tunjuk Yumna kearah lemari yang berisi stok susu promil milik kakak iparnya.
"Ini semua punya Aya?" Tanya Guntur takjub satu lemari berisi susu promil berbagai macam merk dengan rasa vanila.
Yumna mengangguk, sekarang Guntur mengerti dengan apa yang terjadi. Mereka kembali ke ruang tengah setelah selesai membuatkan susu. Guntur membawa dua gelas, satu rasa vanila dan satu rasa strawbery kesukaan istrinya.
Ketegangan yang tadi terjadi sudah terhenti. Mereka yang ada di ruang tengah semua terdiam dengan pemikiran masing-masing.
__ADS_1
“Ara minum dulu Sayang,” Guntur mengambilkan susu rasa strawberry untuk istrinya. Namun belum sampai ke tangan Yumna susu itu sudah direbut oleh Ranaya.
“Kak, itu susu Ara.” Yumna menatap jengkel Ranaya karena tangannya kalah cepat merebut gelas itu. Kini dia hanya bisa melihat gelas itu kosong dalam beberapa kali teguk.
"Itu kan masih panas, apa Kak Aya beneran kemasukan setan?" Yumna menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Selang beberapa menit kemudian Ranaya langsung memuntahkan susu itu di tempat.
“Kamu itu kenapa, sudah tahu gak suka susu rasa selain vanila, malah merebut punya Ara.” Omel Sagara, dengan sigap membersihkan mulut istrinya menggunakan tissue. Wanita yang diomeli itu kini matanya berkaca-kaca.
Yumna semakin dibuat cengo oleh pemandangan yang ada di depannya. Sungguh bukan kakak iparnya yang bersikap seperti itu walaupun sangat lembut tapi Ranaya tidak manja sepertinya.
Sagara langsung menggendong istrinya ke kamar saat melihat Ranaya ingin muntah kembali. Istrinya memang tidak bisa minum susu selain rasa vanila, kalau dipaksakan maka akan muntah-muntah.
“Mom, Kak Aya kenapa?” tanya Yumna. Sungguh dia merasa sangat heran pada tingkah kakak iparnya itu. Kakak iparnya bukan orang yang suka mencoba-coba, kalau tidak suka maka dia tidak akan menyentuh lagi. Sejak dulu istri abangnya itu selalu menghindari berbagai macam varian susu yang aneh-aneh.
“Mungkin bosan minum susu vanila, jadi mau nyobain yang lain.” Ayumi menatap menantunya yang di gendong sang putra dengan khawatir. Bagaimana tidak bosan, sudah hampir tiga tahun meminum susu rasa vanila setiap hari.
Ayumi menyusul putranya ke kamar, ingin memastikan kalau menantunya baik-baik saja.
"Mom, telepon dokter please." Pinta Sagara yang baru selesai menggantikan pakaian Ranaya saat melihat mommy-nya menyusul ke kamar.
“Kamu ini kenapa, kan udah tahu gak bisa minum perasa yang aneh-aneh.” Sagara menyelimuti istrinya yang terbaring lemas dengan wajah pucat.
Ranaya menggelengkan kepala, tadi dia cuma mau membantu Yumna agar ayah mertuanya tidak marah-marah terus. Jadi dia menahan Guntur karena dengan caranya. Tapi entah mengapa ia jadi tergiur melihat susu strawberry yang biasa diminum adik iparnya. Ranaya pikir dengan kondisi hamil tidak akan muntah-muntah seperti biasanya lagi. Tapi ternyata tetap saja bahkan lebih parah.
__ADS_1
Ya, Ranaya memang sedang mengandung namun masih merahasiakan pada Sagara. Karena ingin memberikan surprise di hari ulang tahun pernikahan mereka.