Gemuruh Cinta Sang Guntur

Gemuruh Cinta Sang Guntur
49. Pusing


__ADS_3

“Kenapa wajahnya kecut gitu, hm.” Goda Ghani pada sepupunya. Dia sedang menemani Khalisa menyirami bunga di halaman depan.


Guntur berjalan lesu tanpa mempedulikan ocehan Ghani.


“Abang usil iih, orang lagi bimbang dan tak tentu arah juga.” Tegur Khalisa, mengarahkan selang air yang menyala ke arah Ghani.


“Belain Guntur gak pake nyiram Abang juga Kha,” ujar Ghani merebut selang di tangan Khalisa lalu menyemburkan ke arah sang istri.


“Basaaaahhh!! Kalian mau pacaran,pacaran aja. Gak usah pamer kemesraan!!” Geram Guntur yang kecipratan air ketika dia lewat.


Khalisa dan Ghani saling pandang lalu mereka tertawa bersamaan.


“Yang lagi patah hati sewot,” ledek Ghani mematikan keran air. Lalu membawa istrinya masuk rumah lewat pintu belakang. Kalau lewat depan alamat kena omel kanjeng mami. 


Guntur mendengus melihat pasangan yang sama anehnya itu. Semakin hari Ghani semakin ketularan tingkah istrinya yang rada tidak jelas. Pria itu menghempaskan pantatnya di sofa. Kenapa kalau hari minggu rumah ini sudah seperti bioskop, tempatnya orang pacaran. Hanya dia yang tidak memiliki pasangan.


“Airil, Arraz pijetin Om.” Titah Guntur, lelaki itu tiarap di sofa.


“Arraz bukan tukang pijit, Om.” Protes putra Ghani, tidak seperti Airil yang langsung naik ke punggung Guntur.


“Kamu ini persis bundamu suka protes!!” Sarkas Guntur.


“Arraz kan anak bunda, jadi wajar persis bunda.” Jawab Arraz lancar, Guntur dibuat pusing meladeni anak kecil itu.


“Arraz, gak boleh menjawab kalau orang tua ngomong Sayang.” Nasehat Khalisa yang sudah berganti pakaian. Perempuan itu datang membawakan susu untuk putranya.

__ADS_1


“Bunda, jatah coklat Arraz!” Ujarnya mengulurkan tangan, tidak menanggapi ucapan sang bunda. Khalisa memberikan tiga coklat koin ke tangan Arraz.


“Om, ini Arraz kasih coklat biar bisa bahagia. Gak marah-marah terus,” Ujar Arraz menggemaskan. Lelaki yang baru patah hati itu tidak merespon.


“Abang, Om gak matikan jadi diam aja?” tanya Arraz pada kakak sepupunya.


“Arraz, Bunda gak suka Arraz ngomongnya begitu.” Tegur Khalisa sambil menahan tawa, yang lain hanya tersenyum geli mendengar celotehan putra Ghani itu.


“Kan kalau orang ditanya gak jawab jangan-jangan sudah gak hidup lagi Bunda," jelas Arraz.


“Ssttt, jangan ngomong terus. Minum susunya,” Khalisa menahan mulut putranya agar berhenti bicara sembarangan. Orang yang lagi patah hati, hatinya sangat senditif.


“Sini Om minta coklatnya, tapi semua.” Guntur mengulurkan tangan, Arraz memberikan saja. Walau dia tidak jadi makan coklat itu.


“Abang gak dikasih?” tanya Airil yang sambil memukul-mukul punggung Guntur dengan tangan mungilnya. Itulah pijitan persi Airil.


“Ini buat Abang,” Khalisa memberikan coklat koin pada keponakannya. Lalu bocah laki-laki itu mengajak Arraz pergi dari sana.


“Kenapa dikasih makanan sih, kan jadinya kabur.” Decak Guntur, putra Ghina itu tidak bisa melihat makanan.


“Banguuun, selesaikan masalahmu. Jangan sampai Sheryl dapat berita yang gak enak di dengar dari orang lain.” Ghani menarik Guntur yang sedang malas-malasan itu untuk duduk.


“Biarin aja,” gumam Guntur menyandarkan kepalanya ke bahu Ghani.


“Lembek gini gimana mau ngejar Ara, Ara itu bukan Kha yang kalau marah cuma bisanya mengomel dan merajuk. Ara kalau marah bisa membuat babak belur lawannya.”

__ADS_1


“Abaaang dukung yang mana sih. Ara atau Sheryl, kalian kayak setuju pernikahan itu dibatalkan.” Ujar Khalisa bingung, kalau sudah tau akhirnya seperti ini kenapa setuju melamarkan Sheryl untuk Guntur.


“Kalau gak bisa menyelesaikan masalah, biar Papa yang menyelesaikan. Kamu tetap menikah dengan Sheryl,” putus Emran.


Kalimat serius itu langsung membuat Guntur menegakkan tubuh.


“Pah,” rengek Guntur.


“Gak terima penolakan, bukan Papa yang maksa kamu melamar Sheryl kan. Kamu sendiri yang ngotot dengan keinginanmu itu agar bisa menjauhi Ara. Sekarang apa, nyeselkan?” Tegas Emran, Guntur dibuat semakin lesu.


“Gak gitu Pah, kemaren Guntur masih belum yakin dengan perasaan Guntur.” Sahut Guntur pasrah, memang tidak ada orang yang bisa mengerti perasaannya.


“Belum yakin gak harus membuat masalah baru Guntur!! Meyakinkan diri tidak perlu dengan cara mencari pelarian yang akhirnya bikin repot sendiri."


“Siyap salah,” sahut Guntur lesu. Lelaki itu lebih memilih menenangkan diri di kamar.


“Kebiasaan, orang tua belum selesai ngomong sudah kabur.” Omel Emran, “Papa gak akan bantu masalahmu. Kamu selesaikan aja sendiri!!” Tukasnya emosi, kakek Airil dan Arraz itu menarik nafas panjang melihat kelakuan bungsunya.


“Padahal yang paling enjoy, kenapa jadi susah diurus.” Gumam Mira yang ikut lelah sendiri.


“Bakar saja semua undangan ini,” ucap Emran pada anak-anaknya yang lain sambil memijat pelipis pusing.


.


.

__ADS_1


.


Guntur suka banget bikin orang tua pusing. Nanti kualat loh 🤣🤣


__ADS_2