
“Kenapa pulang lagi?” Tora menatap putrinya yang membawa barang seperti orang ingin pindahan denganpenuh tanda tanya.
“Ish Daddy gak suka banget Ara mau tinggal disini, kemaren-kemaren maksa Ara sampai marah gak jelas.” Seloroh Yumna dengan wajah cemberut seolah tidak ada kesedihan di hatinya.
“Bukan Daddy gak suka Ara pulang. Tapi aneh aja, apalagi sendirian gak sama Guntur.” Tora mengulurkan tangan pada Yumna dan memeluknya.
“Ara kangen Daddy mau tinggal disini sendirian masa gak boleh, jahat banget. Aku anak Daddy bukan sih, atau cuma Bang Aga yang anak Daddy.” Ujar Yumna sengaja agar sang daddy tidak membahas masalah Guntur.
“Boleh Sayang. Kalian bertengkar?” tanya Tora menyelidik.
“Kalau Ara pulang sendirian emang harus selalu karena bertengkar ya. Doa Daddy gak baik banget sama anak sendiri.” Yumna menusuk-nusuk gemas pipi Tora dengan telunjuknya sambil menyengir lebar.
Sagara menghela napas panjang, membawakan barang-barang sang adik ke kamar. Lebih baik dia menjauh daripada sandiwara adiknya terbongkar karena wajah cemasnya yang tidak bisa disembunyikan.
“Enggak juga sih,” Tora menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Putrinya ini pintar sekali membolak-balikkan perkataannya.
“Ara mau tinggal disini antar ke kamar apa susahnya sih Mas. Kayak petugas imigrasi aja ditanya segala macam.” Sela Ayumi yang sebenarnya juga bingung melihat tingkah aneh Yumna.
“Yoo ayoo kita ke kamar. Mau jalan sendiri apa digendong?” Goda Tora.
“Kalau Ara minta gendong juga Daddy mana sanggup,” jawabnya dengan dengusan kecil lalu beranjak lebih dulu.
“Sanggup Sayang, Mommy juga masih sering minta gendong kalau habis—”
__ADS_1
Plak
Tora mendapat pukulan di bahu dari sang istri sebelum selesai mengucapkan kalimatnya. Yumna tertawa gelak melihat wajah sang daddy yang meringis dilebih-lebihkan.
“Sayang galak banget sih, kan emang kamu suka minta gendong."
“Mas!!” teriak Ayumi sampai melotot. Tidak tahu malu sekali di hadapan putrinya bicara masalah seperti itu.
“Lanjutkan Mom!!” Seru Yumna ditengah tawanya. Kemudian mengusap perutnya, bisakah dia membesarkan anaknya seperti Mom dan Dad yang mendampinginya sampai menua bersama.
Mengingat sang suami lagi-lagi ada bagian hatinya yang terasa sakit dan sesak. Yumna tidak tahu harus berdoa seperti apa pada Tuhan.
Apakah dia harus menyesali pertemuannya dengan Geo. Atau menyesali pertemuannya dengan Guntur. Dua orang yang sekarang membuat kepalanya serasa ingin meledak.
Jawabannya tidak, ia tidak menyesali keduanya. Hanya saja sekarang Yumna sedang bingung seperti ombak yang terombang-ambing.
"Ara harus ingat, Abang selalu ada mendukung Ara." Sagara menangkup kedua pipi sang adik.
Ia tidak bisa menyalahkan Guntur karena memang adiknya yang salah. Dan tidak bisa menyalahkan Geo juga, karena keadaan harus membuatnya menghilang dari Yumna.
"Kalian kenapa?" Tora menatap datar putra-putrinya. Tidak salah kecurigaannya, memang ada yang sedang mereka sembunyikan.
Yumna membeku ditempat sampai tidak berani menatap sang daddy. Ia hanya menunduk dan terus menatap ke bawah.
__ADS_1
"Sagara!!" Panggil Tora dengan lantang.
"Dad jangan marah-marah, nanti cucu Daddy kaget." Sahut Sagara dengan tenang membawa adiknya dalam pelukan.
Tora meraup wajah gusar diikuti helaan napas kasar, mendekati putrinya. "Ara kenapa Sayang, cerita sama Daddy. Biar Daddy gak marah-marah tanpa sebab sama Ara." Ujarnya lembut sambil menepuk pipi sang putri.
"Guntur mendiamkan Ara karena cemburu sama Geo Daddy," beritahu Sagara saat adiknya tak berani bersuara.
Pria paruh baya itu menautkan kedua keningnya, "Ara berbuat apa lagi sampai Guntur cemburu?" Tanya Tora keheranan.
Apa yang bisa dilakukan orang mati sampai membuat menantunya cemburu berlebihan. Padahal setaunya Guntur selalu mendukung Yumna untuk melupakan lelaki itu secara perlahan.
"Geo masih hidup dan menemui Ara." Lagi-lagi Sagara yang menjawab pertanyaan sang daddy.
Tora semakin menautkan kening berusaha mencerna ucapan putra sulungnya.
Karena tidak ingin membuat daddy-nya tambah pusing Sagara menceritakan kemunculan sosok Geo yang tiba-tiba seperti hantu itu.
"Daddy gak bisa membantu Ara, karena disini Ara yang salah." Ujar Tora lembut, putrinya itu hanya mengangguk paham.
"Ara memang salah Daddy. Ara gak minta Daddy melakukan apapun. Ara cuma mau menumpang tinggal disini," ucap Yumna sendu.
Ia tidak berani berharap Guntur akan mencarinya lagi. Karena memang dia yang salah, walau semua bukan kesalahannya. Yumna bahkan tidak tau kalau dua lelaki itu menguntitnya.
__ADS_1
"Rumah ini milik Ara, Sayang." Tora mengambil alih putrinya, mendekapnya dengan sangat erat.
"Jaga cucu Daddy baik-baik, Daddy akan selalu menemani Ara." Ucap Tora dengan ribuan penyesalan. Luka hati yang Yumna rasakan tak terlepas karena kesalahannya.