
"Yah gak bisa masuk," gumam Yumna mencoba membuka pintu samping yang biasanya ia gunakan untuk melarikan diri. Tapi gagal terbuka, gadis itu menyengir sambil garuk-garuk kepala.
"Pasti daddy sudah mengganti semua kunci di rumah ini," ringisnya. Karena hari ini dia berangkat tidak izin jadi tidak bisa masuk lewat pintu depan. Bakal sangat panjang ceramah yang akan dia dapatkan. Dan dia sedang malas berdebat.
"Kenapa? Gak bisa masuk, hm?" Tanya Tora dengan tangan terlipat di depan dada dan tatapan dinginnya yang menusuk.
"Daddy bisa lihat sendirikan," jawab Yumna lalu melengos ke pintu depan. Awalnya dia kaget karena kepergok, tapi kadung sudah ketahuan. Biar sekalian saja kena omelnya.
Tora tidak tau lagi harus bagaimana mendisiplinkan putri kecilnya ini. Ia mengikuti Yumna masuk ke rumah.
"Kamu akan Daddy jodohkan, sepertinya Daddy ada di sini sudah tidak kamu anggap lagi!!"
Gadis yang satu kakinya sudah menapaki anak tangga itu berhenti melangkah. Membalikkan badan, menatap Tora dengan senyuman miring.
"Kalau sudah dari sananya licik ya tetap akan licik. Tidak akan peduli siapa yang akan dilumpuhkannya!!" Sarkas Yumna. Tora sangat mengerti arti sindiran putrinya itu.
"Daddy bahkan sudah tau kalau Geo itu bukan Leo, tapi Daddy tetap egois. Bertahun-tahun aku harus menikmati keegoisan kalian di rumah ini." Lanjutnya dengan tatapan terluka, sudah tidak peduli sedang berbicara dengan siapa.
Kaki mungil itu kembali melangkah menaiki undakan tangga, semakin lama dia ada di sana. Maka bisa semakin banyak unek-unek yang dia keluarkan nanti.
Tora tidak menjawab, membiarkan saja putrinya masuk ke kamar. Apa yang dikatakan Yumna benar, dia egois karena sangat takut putri kesayangannya itu terluka.
"Menyayangi tidak perlu mengekangnya terlalu berlebihan lagi Mas, Geo pasti bisa menjaga Ara." Ayumi mengusap-usap tangan sang suami, membawanya duduk di sofa.
Sagara yang kembali melihat perdebatan antara anak dan ayah itu hanya bisa menarik napas panjang. Ia mendatangi adiknya ke kamar.
Yumna sedang menangis sambil memeluk lulut di balkon. Tapi bibirnya tersenyum kecil menatap bintang di langit. Seakan sedang bercerita bahwa dia lelah berada di rumah ini.
Lelaki itu duduk di samping sang adik kemudian memeluknya. Sambil mengusap-usap di pipi Yumna yang basah. Sontak Yumna menghapus air matanya dan berhenti menangis.
__ADS_1
"Kalau Daddy ingin Ara menikah juga, kenapa Daddy tidak membiarkan Geo saja yang menikahi Ara. Kenapa harus dijodohkan dengan orang lain. Ini hati Bang," lirih Yumna meletakkan tangan sang abang di dada.
Menunjukkan bahwa hatinya sedang berdenyut nyeri merasakan perih. Tidak bisakah dia memilih jalan hidupnya sendiri.
“Tidak ada alasan lain, selain Daddy sangat takut kamu terluka Dek. Cara Daddy mungkin sangat tidak adil bagi kamu, tapi semua itu buat kamu. Kami menyayangimu, khawatir kamu terluka.” Jelas Aga lembut, dia kira Yumna akan bertengkar dengan Geo. Ternyata malah sebaliknya.
“Ara cuma mau menikah sama Geo, Abang. Gak mau sama selain Geo.” Sebut Yumna, dia tidak ingin menikah dengan lelaki selain Geo.
“Itu sangat berbahaya buat Ara. Kamu bisa setiap saat berada dalam bahaya yang mengintai,” beritahu Aga.
“Ara bisa jaga diri, Abang. Bantu bujuk Daddy,” mohon Yumna dengan tampang memelas.
Sagara menggeleng pelan, “Abang gak bisa menentang keputusan Daddy Sayang.”
Yumna terdiam menghela napas panjang. Kabur kemanapun dia daddy pasti akan bisa menemukannya. Jadi kabur bukan rencana yang baik saat ini. Ia akan mendiskusikan ini dengan Geo nanti.
“Istirahatlah, tapi jangan lupa mandi. Kamu bau asem,” canda Aga mengecup kening sang adik.
Yumna mengangguk seraya tersenyum kecil. Dia sedang tidak mood untuk bercanda. Mendengar sang daddy akan menjodokannya kembali saja sudah membuatnya pusing.
...🥀🥀🥀 ...
Yumna sudah membuat janji ingin bertemu dengan Geo hari ini di taman, setelah sang pacar selesai meeting. Gadis itu siap berangkat dengan ceria, melupakan kejadian tadi malam.
“Mau pergi lagi?” tanya Tora tidak ramah.
Yumna hanya mengangguk acuh tidak mempedulikan sang ayah. Karena dia tidak punya kunci rumah lagi, jadilah keluar lewat pintu semestinya.
“Daddy tidak mengijinkanmu keluar dari rumah ini, Ara!!” Tegas Tora dengan tatapan semakin menajam.
__ADS_1
“Daddy! Daddy gak bisa melarang Ara melakukan hal yang ingin Ara lakukan!!” Seru Yumna tidak kalah tegas. Gadis itu memang tidak bisa dikasari, maka akan bertindak semakin kasar.
“Ingat statusmu di rumah ini MINARA YUMNA DAMANURI. Kamu masih putri TORA DAMANURI!” Tekan Tora dengan tatapan mengintimidasi, tapi Yumna tidak terpengaruh sedikitpun.
“Ara akan tetap ingat kalau darah yang mengalir dalam tubuh Ara ini milik seorang singa licik.” Gadis itu tersenyum mengejek tanpa rasa takut.
“Tidak akan ada yang bisa merubah kenyataan kalau buah jatuh tidak akan jauh dari pohonnya kecuali dibawa monyet." Sebut Yumna, "Daddy lihat sosok yang ada di depan Daddy sekarang, inilah sosok yang mewarisi kekerasan Daddy.” Ucapnya yang membuat Tora kembali terbungkam karena keberanian sang putri. Jika putranya tidak pernah membangkang padanya, maka berbeda dengan Yumna yang sangat berani.
“Jadi apa? Daddy ingin marah. Sebelum Daddy marah pada Ara, sebaiknya Daddy lihat diri Daddy terlebih dahulu. Coba marahi diri Daddy sendiri, bisakah dia menurut. Kalau tidak, maka itulah diri MINARA YUMNA DAMANURI.” Selesai mengucapkannya Yumna beranjak dari sana.
Sagara dan Ranaya dibuat mengelus dada, jika saja dia yang mengatakan seperti itu mungkin sudah dilempar sang ayah ke neraka.
Ayumi memeluk suaminya dari belakang, dia tau Tora sangat marah sekarang. Tapi tidak bisa berbuat apa-apa karena sangat menyayangi putri kecilnya itu.
Tora mengusap wajah kasar, yang tadinya lapar kini sudah tidak lapar lagi. Lelaki itu melepaskan tangan sang istri dari pinggangnya lalu naik ke kamar atas. Dia perlu menenangkan diri sejenak.
Sepanjang dalam taksi Yumna melamun, ingin sekali menangis tapi ditahannya. Gadis itu menatap jalanan dengan sendu, dia minta di turunkan di taman.
Sambil menunggu Geo datang Yumna bermain ayunan. Dia tau apa yang diucapkannya tadi itu akan menyakiti sang ayah. Tapi ia tidak dapat menahan lagi, hatinya terasa sangat sakit.
"Kenapa anak itu suka sekali melamun," gumam Guntur melihat Yumna duduk melamun diayunan.
Ia sedang membawa Arraz bermain di taman. Bocah kecil itu minta ditemani main perosotan sementara menunggu Anindi selesai membuatkan brownies khusus untuk sang mama.
"Sayang kenapa melamun?" Geo menghampiri Yumna dan ikut duduk di ayunan. Semua tidak terlepas dari mata elang Guntur.
...🐾🐾🐾...
Jangan lupa kasih sesajen🌹, like, komen dan vote di lapak othor ya bestie. Bantu karya-karya othor agar dilihat pembaca yang lain 😆
__ADS_1