
“Capek Sayang?” Tora merangkul putrinya masuk ke rumah. Ayah dan anak itu baru pulang hampir jam sembilan malam.
“Enggak Daddy,” jawabnya dengan senyuman cerah. Hari ini dia sangat bahagia bisa melihat tawa anak-anak yang kurang beruntung. Mereka menyusuri jalanan ibu kota dan mampir setiap melihat anak-anak yang meminta-minta maupun mengamen.
“Kalian dari mana aja, Mommy sampai khawatir. Di telpon gak ada yang nyahut.” Omel Ayumi kesal karena sudah dibuat menunggu berjam-jam tanpa kabar.
“Habis jalan-jalan Mom,” jawab Yumna lalu menghambur ke pelukan sang ibu.
“Bau aseem, kamu dari mana sih jadi bau keringat gini. Sana mandi!!” Ucap Ayumi galak.
Yumna menyengir lebar kemudian mengangguk. Jelas saja ia sengaja memeluk mommy nya itu. Karena sangat tahu kalau sang mommy tidak suka kalau dia bau keringat.
"Bye Mommy," sekali lagi Yumna sengaja mencium pipi Ayumi.
"Putrimu kenapa sih Mas?" Tanya Ayumi setelah Yumna kabur ke kamar.
Tora mengedikkan bahu sambil tertawa kecil, sekarang giliran lelaki itu yang mendekati istrinya.
"Jangan dekat-dekat!" Seru Ayumi waspada.
"Aku wangi Sayang," Tora langsung memeluk sang istri. Tidak memberikan Ayumi kesempatan untuk melarikan diri.
"Mas, bauuu!!" Pekik Ayumi mendorong-dorong tubuh suaminya, tapi pria beranak dua itu tak kunjung menjauh.
"Ingat umur!!" Decak Sagara, orang tuanya itu masih suka bermesraan dimana saja. Sampai lupa kalau sudah punya anak yang umurnya kepala tiga.
"Emang kamu aja yang mau manja-manja, Daddy juga lah." Tora mengecup basah pipi sang istri. Ayumi terpaksa pasrah karena tidak dapat melakukan perlawanan.
"Daddy aku gak mau punya adik lagi!!" Teriak Yumna dari lantai dua sambil tertawa gelak.
"Mommy-mu sudah gak bisa produksi adik lagi Sayang. Jadi jangan khawatir," balas Tora dengan berteriak. Dia sudah lama tidak membuat ibu dari anak-anaknya ini merajuk.
...🐾🐾🐾...
“Bunda, beli yang ini. Ini juga,” Arraz memasukkan semua barang-barang perlengkapan bayi yang baginya terlihat lucu ke dalam troli.
“Gak semua juga dimasukkan Sayang, kalau gak perlu jangan dimasukin.” Ujar Khalisa, mereka sekarang sedang berada di pusat perbelanjaan menemani Anindi membeli perlengkapan bayi bersama ibu mertuanya.
“Tapi itu perlu Bunda, buat sarung tangan Arraz main bola.” Jawab putra Ghani itu seraya meletakkan sarung tangan bayi ke dalam troli.
“Jadi Arraz beli buat sendiri atau buat adek?” Tanya sang nenek dengan kekehan, bisa-bisa satu toko ini dimasukkan Arraz dalam troli.
“Buat Arraz Oma,” sahutnya lugu.
“Sayang, itu gak akan bisa buat tangan Arraz. Tangan Arraz besar,” Anindi geli sendiri. Ia mengambil tangan Arraz, lalu membandingkannya dengan kaos tangan bayi itu. Emang main bola menggunakan kaos tangan, sudah seperti mau main tinju saja.
“Ya udah Arraz beli sepatu bola aja kalau gitu,” katanya cemberut.
"Ya udah ayo," Khalisa menuntun tangan putranya. Anindi dan Mira mengikut saja apa yang Arraz mau. Dari pada semua barang diboyong bocah itu ke rumah.
“Mama yang itu,” tunjuk seorang balita perempuan ke arah sepatu yang diinginkannya.
__ADS_1
“Sheryl,” sebut Anindi.
Khalisa dan Mira menoleh ke arah perempuan yang di sebut Anindi. Perempuan itu sedang memilih sepatu bersama anak perempuan yang seusia Arraz.
“Mama, ayo ambilkan yang itu.” Ulang balita perempuan itu menarik-narik tangan Sheryl.
Saat membalikkan badan Sheryl terkejut melihat keluarga calon suaminya.
“Sebentar Sayang, salim dulu teman-teman Mama.” Beritahunya, gadis perempuan itu menurut mengikuti perintah sang mama.
“Anak siapa ini cantik banget,” Khalisa mengelus-elus kepala gadis kecil itu.
“Anak aku Mbak,” jawab Sheryl. Dia memang belum memberitahu keluarga Guntur kalau sudah memiliki anak. Hanya Guntur yang tau dengan statusnya, lelaki itu tidak mempermasalahkan.
"Kami mau lihat-lihat dulu ya," ujar Khalisa menyusul putranya yang sudah berkeliaran.
"Iya Mbak," sahut Sheryl tersenyum ramah.
Mira sudah siap memberikan tausiyah pada perempuan itu. Namun Anindi menahannya, “kita bicarakan di rumah aja Mah.”
Wanita hamil itu menarik tangan sang mertua menyusul Khalisa dan Arraz.
...🌹🌹🌹...
“Guntur, Mama gak setuju kamu menikah dengan Sheryl!!” Teriak Mira meletakkan belanjaannya dengan kasar ke atas meja.
Khalisa langsung membawa putranya ke kamar, pasti akan terjadi perang dunia sebentar lagi.
Bukan hanya dia yang bingung. Para pria yang ada di ruang tengah itu juga ikut bingung. Mereka sedang asyik mengobrol ala lelaki.
“Sheryl sudah punya anak. Mama gak suka perempuan gak jujur seperti itu jadi menantu.”
Guntur mendesah berat, “memangnya kenapa kalau dia sudah punya anak Mah. Kan Guntur gak perlu susah-susah bikin anak lagi," jawabnya asal.
“Kamu tau dia punya anak?” tanya Mira berang.
“Tau,” jawab Guntur tenang.
“Pokoknya Mama gak suka!”
“Terserah Mama maunya gimana, mau dibatalkan ya batalkan aja!” Sahut Guntur tak ingin repot. Dia malas berdebat masalah sepele seperti itu.
“Sebenarnya kamu itu niat nikah gak sih Guntuuuuurrr!!!” Teriak Mira frustasi.
Kalau biasanya orang akan memberontak jika hubungannya ditentang. Tapi ini anak malah tidak peduli.
“Aku malas mikirin Mah, terserah Mama maunya gimana.” Lagi-lagi Guntur menjawab acuh.
“Semudah itu ngomongnya,” Ghani berdecak. Isi otak sepupunya ini apa sih sebenarnya. Jangan-jangan jeroan semua.
“Mah tenang dulu,” Emran menarik istrinya untuk duduk.
__ADS_1
“Mama gak suka perempuan gak jujur seperti itu jadi menantu Pah,” sebut Mira masih kesal.
“Mah, Sheryl itu cuman belum bilang. Bukan gak jujur. Dia masih belum ketemu waktu yang tepat buat jujur sama kita,” bela Guntur.
“Kalian sebentar lagi akan menikah, seharusnya hal seperti ini dibicarakan lebih dulu. Biar gak ada yang ditutup-tutupi apapun alasannya.”
“Mungkin Sheryl punya alasan sendiri Mah,” Emran menenangkan istrinya.
“Mama tetap gak suka, titik.” Kekeuh Mira, mereka bahkan tidak tau siapa ayah dari anak itu.
“Yang menjalani pernikahan inikan Guntur Mah, bukan Mama. Biar Guntur yang memutuskan sendiri, perempuan janda belum tentu tidak terhormatkan.” Guntur melembutkan suaranya, semakin dia bersikap tidak peduli. Masalah kecil ini akan semakin berakar panjang dibuat oleh mamanya.
"Guntur benar Mah, biar dia yang mengambil keputusan. Mama juga gak bisa asal menuduh Sheryl. Kita bisa tanya anak itu dulu, kenapa selama ini gak jujur kalau sudah punya anak." Nasehat Emran, Mira menganggukkan kepala malas.
.
.
.
.
.
.
.
.
...🪴🪴🪴...
Yang belum mampir di Story Ajari Aku mencintaimu. Hayook kita mampir dulu sambil menunggu cerita ini update 😄
Panggilan Emran, sang papa yang meminta Ghani kembali ke Indonesia sebulan yang lalu ternyata untuk membicarakan perihal pernikahan yang sudah direncanakan Emran sejak lama. Ancaman Emran membuat Ghani tak bisa berkutik.
Ghani terpaksa menyembunyikan status pernikahannya dari sang kekasih.
Bagi Khalisa bukan sebuah keberuntungan bertemu dengan Ghani kembali setelah tak pernah bertukar kabar selama tujuh belas tahun.
Bisakah Khalisa bertahan dengan pernikahan tanpa cinta ini, sedang suaminya masih mencintai perempuan lain.
...***...
"Kamu sendiri yang membuatmu terjebak." Ghani sudah berdiri di depannya, menyalahkan semua yang terjadi pada Khalisa. "Kalau kamu tidak menyetujui lamaran Papa tidak akan terjebak seperti ini." Sangat jelas kekesalan lelaki itu ditujukan padanya.
"Kalau kamu bisa menahan Papamu untuk tidak melamarku semua ini tidak akan terjadi Gha, kamu memanfaatkanku agar masih bisa menikmati kekayaan yang Papamu berikan."
"Benar, aku akan menyiksamu dengan menjadi istriku, Kha." Suara tawa yang menyeramkan keluar dari mulut lelaki itu. Membuat Khalisa bergidik ngeri, berlari ke ranjang menyelimuti seluruh tubuh. Ghani kemudian pergi meninggalkan kamar.
__ADS_1