
Sudah tiga bulan Yumna mengurung diri, gadis itu tidak mau kuliah lagi. Makan pun susah, sudah beberapa kali bungsu Tora itu masuk rumah sakit dalam tiga bulan ini.
Sekarang tubuhnya semakin kurus, dengan lingkar mata menghitam. Tidak ada yang dilakukannya selain mengurung diri di kamar memandangi foto Geo. Kalau mau keluar rumah pun hanya untuk mengunjungi makam Geo.
Sempat beberapa kali Tora menemukan putrinya itu tidur di atas gundukan tanah pemakaman Geo. Itu menjadi pukulan telak bagi Tora, raga putrinya memang masih ada tapi seakan tidak bernyawa.
“Sayang,” Tora masuk ke kamar membawakan roti dan segelas susu strawberry kesukaan Yumna. “Sarapan dulu Daddy suapi,” katanya meletakkan nampan di atas nakas lalu duduk di samping sang putri.
Yumna mengangguk lesu, perlahan Tora menyuapi putrinya itu. Kalau tidak begitu, tidak ada makanan yang masuk ke perut anak gadisnya ini.
“Hari ini gak ke makam Geo Sayang. Sudah seratus hari Geo pergi,” Tora mengingatkan.
“Nanti sore Daddy, kalau pagi banyak keluarganya dia sana.”
Pernah satu kali Yumna berpapasan dengan keluarga Geo di pemakaman. Ibu kekasihnya itu sangat membencinya, sampai kalimat yang diucapkan perempuan tua itu sangat menusuk perasaannya.
“Daddy temani,” Tora mengusap rambut putrinya. Untungnya putrinya ini tidak mogok mandi. Hanya hal seperti ini yang bisa Tora lakukan untuk menebus segala kesalahannya.
“Iya,” sahut Yumna sangat pelan seperti gumaman.
“Daddy sangat berharap kamu tidak terpuruk lagi Sayang, sudah saatnya kamu melanjutkan kuliah. Hidup Ara tetap berlanjut walau tanpa Geo. Geo sangat ingin melihat Ara wisudakan.” Ucap Tora, dengan menjual nama Geo dia bisa melihat Yumna bersemangat lagi.
“Semester depan nanti Ara lanjut Daddy. Sekarang sudah nanggung,” jawab Yumna. Ia memang harus bangkit untuk melakukan balas dendam pada Leo.
Tora tersenyum, habis satu potong roti yang ia suapkan pada Yumna. Ia memberikan segelas susu pada putrinya.
Selesai minum Yumna mengamati gelas kaca di tangannya itu. “Apa bisa hati Ara utuh lagi, Daddy. Gelas ini kalau Ara hempaskan pasti akan remuk, begitulah hati Ara sekarang. Tidak akan bisa disatukan kembali menjadi gelas yang utuh.”
“Hati Ara bukan buatan manusia Sayang, berbeda dengan gelas ini.” Tora mengambil gelas di tangan putrinya itu. Khawatir benar-benar Yumna hempaskan.
“Hati akan bisa sembuh perlahan kalau menemukan obat yang tepat.”
“Tapi orang itu pasti bukan Geo, Daddy.” Lirih Yumna menyandarkan kepalanya di bahu sang ayah.
__ADS_1
“Kadang Tuhan hanya menitipkan seseorang itu sebentar pada kita Sayang, lalu akan menggantikannya dengan yang lebih baik. Bukan berarti orang yang pertama itu tidak baik untuk kita. Hanya saja dia bukan takdir kita, dia hanya menjadi jembatan untuk kita bertemu dengan takdir yang sesungguhnya.” Nasehat Tora sambil mengusap-usap tangan sang putri.
“Ara tidak ingin ditakdirkan dengan siapapun lagi, Daddy.” Lirih gadis itu, Tora menangguk saja.
Percuma menasehati orang yang sedang patah hati. Biarlah Yumna menyembuhkan hatinya terlebih dulu. Perihal jatuh cinta lagi itu menjadi urusan nanti. Tora tidak ingin memaksakan, itu akan berujung hati Yumna patah kembali.
...🦋🦋🦋 ...
“Jadi kapan melamar Sheryl?” tanya Emran pada bungsunya setelah selesai sarapan.
“Kapan aja Papa mau melamarkannya.” Jawab Guntur tidak terlalu antusias.
Hubungannya dengan Sheryl memang semakin dekat. Sudah dua kali dia membawa Sheryl ke rumah. Semua pihak keluarganya juga setuju-setuju saja. Termasuk kedua orang tua kandungnya.
“Sudah bicara dengan orang tuanya?” tanya Emran lagi.
Guntur menggeleng ragu, Sheryl memang baik. Kriteria istri idaman. Tidak merepotkan seperti yang dia mau, sangat mandiri. Tapi rasanya ada yang kurang, hatinya tidak condong pada wanita itu.
“Minggu depan saja langsung lamar, lebih cepat lebih baik. Bilang sama Papa-mu juga,” saran Emran yang diangguki Guntur.
“Yakin mau nikah sama Sheryl?” Tanya Zaky tiba-tiba.
Semua orang jadi menatap ke arah Zaky yang meragukan Guntur. Suami Ghina itu meringis, dia seperti ingin diterkam saja.
Ia bisa melihat kalau Guntur tidak memiliki perasaan pada Sheryl. Cara Guntur memandang Sheryl berbeda seperti caranya memandang Yumna waktu di rumah sakit. Walau Guntur sering marah-marah pada gadis mungil itu, Zaky yakin, iparnya itu sudah memiliki perasaan pada Yumna.
“Zaky, jangan mengecoh adik iparmu itu. Dia itu labil loh. Nanti bisa-bisa gak jadi nikah lagi, mumpung dia sedang berubah pikiran.” Tegur Mira pada menantunya. Bisa dilihat, hanya ditanya seperti itu saja ekspresi Guntur sudah berubah.
“Kan cuma nanya Mah,” sahut Zaky dengan cengiran.
"Memilih calon istri bukan cuma dilihat dari baiknya kan. Buat apa baik kalau nanti hatinya malah milik orang lain," sindirnya.
Guntur mendelik, menatap tajam Zaky. Apa coba maksudnya menyindir seperti itu.
__ADS_1
"Ekheem," Ghani menggoda sepupunya itu dengan berdehem.
"Apa ikut-ikutan, kalian nikah juga karena dijodohkan ya!!" Sarkas Guntur pada Ghani.
"Aku gak ngomong apa-apa, kenapa jadi kena. Kan yang ngomong Zaky," ujar Ghani sok polos sambil memainkan tangan putranya yang duduk di pangkuan.
"Sama aja kompor!!" Desis Guntur geram.
"Gaasss!!" Sahut Ghina ikut nimbrung dengan cengiran lebar.
"Kan, kan jadi bertengkar." Tegur Mira frustasi, dia pusing kalau setiap kali berkumpul anak menantunya itu pasti berdebat. Padahal cuma punya empat anak dan tiga menantu.
“Oh ya Pah, aku lihat data di rumah sakit kayaknya Ara sering keluar masuk rumah sakit deh dalam beberapa bulan ini. Papa tau?” Zaky mengalihkan pembicaraan sengaja ingin melihat reaksi Guntur.
“Enggak. Tora cuma bilang putrinya sekarang suka mengurung diri di kamar aja,” sahut Emran.
“Mereka memang tertutup sih kalau soal Ara, satu minggu yang lalu aku ketemu di rumah sakit. Anaknya sekarang kurus banget.” Ujar Zaky sembari melirik Guntur yang dibuat gelisah hanya mendengar nama Ara disebutkan.
"Kasihan pasti sangat terpukul karena kepergian pacarnya," gumam Emran. Itu mengingatkannya pada Khalisa yang dulu sempat mengalami hal seperti itu.
“Nindi jenguk boleh Pah,” ujar wanita yang sedang hamil besar itu. Setelah kejadian tokonya yang dibuat Yumna berantakan dan berceceran darah itu dia tidak pernah bertemu Yumna lagi.
“Boleh Sayang,” sahut Emran tersenyum. Menantu-menantunya di rumah ini memang memiliki hati yang lembut dan penyayang.
“Arraz ikut!!” Seru putra Ghani yang sedari tadi ikut menyimak pembicaraan orang dewasa itu.
“Arraz ijin sama ayah dan bunda dulu ya,” Emran mengusak rambut cucunya.
“Boleh?” bocah kecil itu menoleh pada ayah dan bundanya.
“Enggak,” sahut Khalisa lebih dulu. Bocah laki-laki itu langsung membuang wajahnya dari sang bunda dengan dengusan kecil.
“Namanya juga minta ijin Sayang, belum tentu dapat ijinnya kan?” Goda Ghani pada putranya, membuat Arraz semakin memajukan bibir kesal
__ADS_1
“Arraz gak boleh ikut kalau bunda gak diajak.” Ujar Khalisa yang sontak membuat Arraz tersenyum cerah kembali.
Berbeda dengan Guntur yang gelisah. Dia harus mencari cara agar bisa bertemu dengan gadis itu. Mana mungkin dia ikut menjenguk Yumna, bisa besar hati gadis manja itu.