Gemuruh Cinta Sang Guntur

Gemuruh Cinta Sang Guntur
122. Nasya


__ADS_3

"Bunda akan baik-baik saja," Geo mengusap kepala bocah perempuan itu untuk menenangkan ditengah keheningan yang terjadi.


"Abang, bagaimana kita mengabari keluarganya?" Tanya Yumna pelan merasa iba pada anak itu.


"Coba ajak bicara, dia pasti anak yang pintar." Guntur tersenyum menggenggam tangan istrinya yang dingin. Ia sangat yakin tangan dingin Yumna bukan karena terkejut melihat kecelakaan itu tapi karena terkejut melihat Geo.


“Hei, namamu siapa?” Tanya Yumna pada bocah yang diperkirakan seusia Airil, ia menoleh sekilas ke belakang. Dan sadar kalau Geo terus menatap kearahnya.


Guntur juga mengawasi gerak-gerik Geo yang terus menatap istrinya. Suami Yumna itu menarik napas dengan pelan.


“Nasya,” jawab anak perempuan itu di tengah tangisnya.


“Nasya punya nomor telepon Daddy?” tanya Yumna lagi.


“Daddy?” tanya Nasya bingung. “Nasya cuma punya Abi,” sambungnya lalu membuka tas dan mengambil buku saku yang selalu dibawanya kemana-mana.


"Ya, Daddy, Abi, Papa, Ayah, itu sama." Jawab Yumna dengan senyuman kecil mengambil buku di tangan bocah itu menukarnya dengan coklat.


"Coklat buat Nasya?" Tanyanya sambil menghapus air mata.


"Ya itu buat Nasya," Yumna membuka buku yang di depannya bertulisan Nasya Aydan. Disan juga tertulis nama kedua orang tuanya dan nomor telepon.


“Adnan Aydan Atthallah dan Attisya Afifah,” eja Yumna. "Itu Abi sama Bunda Nasya?" Tanyanya yang sedikit kebingungan dengan panggilan abi dan bunda.


Sedang Guntur mengernyitkan kening menoleh ke arah Nasya. "Memang mirip," batinnya.

__ADS_1


"No, itu Abi dan Ummi Nasya," sahut Nasya.


"Lalu ini siapa?" Tanya Geo yang ikut kebingungan.


"Itu bunda, Nasya cuma senang memanggilnya bunda." Jelas Nasya yang membuat tiga orang dewasa dalam mobil itu ber oh ria.


Setelah menempuh perjalanan selama sepuluh menit mereka sampai di rumah sakit. Guntur memanggil para perawat untuk menangani perempuan itu.


"Bunda masih hidupkan?" Tanya Nasya melihat perempuan yang dipanggilnya bunda dibawa para perawat. Memecah keheningan yang lagi-lagi terjadi.


"Tentu saja masih hidup," Guntur mencubit pipi bocah yang menggemaskan itu.


"Abang pipinya sakit!" Yumna memukul tangan sang suami yang tidak bisa melihat anak kecil selalu gemas. Semua kemesraan itu tidak terlepas dari pandangan Geo.


"Ayo kita culik Sayang," bisik Guntur yang masih bisa didengar Nasya.


"Tentu saja Om ini penculik," jawab Guntur sambil menahan diri agar tidak tertawa. Apalagi saat tahu gadis kecil itu putri siapa, jiwa usilnya langsung tergerak untuk mengerjai Abi Nasya.


"Abang, jangan macam-macam!!" Yumna melotot tajam pada sang suami. Disaat seperti ini suaminya ini masih saja bisa bercanda.


"Cuma satu macam Sayang," Guntur mengedipkan mata pada wanitanya.


Nasya membuang wajah dari Guntur lalu menoleh pada Geo. “Baju Om penculik kotor,” pekiknya lalu mengeluarkan tissue basah dari dalam tas.


“No problem nanti langsung Om buang bajunya,” jawab Geo asal karena kegerahan melihat kemesraan Guntur dan mantan kekasihnya.

__ADS_1


“Om, gak baik mubazir.” Sahut Nasya kemudian matanya menatap perut buncit Yumna, baru menyadari kalau wanita itu hamil.


“Ada baby sama kayak perut Ummi,” seru Nasya nyaring langsung memeluk Yumna.


“Kamu ini turunan siapa sih?” tanya Guntur gemas. Dia sangat tahu kalau kedua orang tua gadis kecil ini tidak ada barbar.


“Om ini selalu menyebalkan!” Nasya yang tadi senang langsung cemberut.


“Nasya, are you okay?” tanya Ken, paman bocah itu. Karena kakaknya Adnan sedang ada meeting yang tidak bisa ditinggal jadi dia yang datang ke rumah sakit.


“Yes, I’m okay. Tapi bunda masih belum bangun,” lirihnya memeluk sang paman dengan erat.


“It’s okay. Dokter insyaAllah bisa sembuhin bunda.” Ken menggendong keponakannya dan mengucapkan terima kasih pada Geo yang sudah menolong kakak sepupu istrinya.


“Mereka yang membawa ke rumah sakit,” Geo menunjuk pada Guntur dan Yumna kemudian dia berpamitan pulang lebih dulu.


“Om penculik namanya siapa?” teriak Nasya memanggil Geo yang meninggalkan mereka.


“Geo,” jawab Geo lalu melanjutkan langkahnya karena merasa tidak kuat hati berada diantara pasangan itu.


“Om penculik?” Ken mengernyitkan kening.


“Itu Om penculik yang Nasya ceritakan di pinggir danau Abi.” Nasya memanggil paman dan bibinya sama dengan sebutan untuk kedua orang tuanya. Ken mengangguk mengerti kemudian menoleh pada pasangan yang sedari tadi duduk di kursi tunggu.


Ken yang melihat Guntur pura-pura tidak mengenalnya langsung melempari pria itu dengan botol minum Nasya.

__ADS_1


“Sialan kau Ken!!” Pekik Guntur terkejut, untung botol itu tidak mengenai perut buncit istrinya. Bisa langsung mental, kasihan botolnya.


__ADS_2