Gemuruh Cinta Sang Guntur

Gemuruh Cinta Sang Guntur
83. Takut Kehilangan


__ADS_3

Selepas pembicaraan dengan ayah mertuanya Guntur kembali ke kamar. Memeluk wanitanya dengan sangat erat. Bagaimana mungkin dia mengembalikan wanita yang sudah mengisi hari-harinya ini pada orang tuanya. Selelah apapun menghadapi Yumna, ia tidak akan melakukan itu.


Apalagi ada darah dagingnya yang sedang bersemayam di perut mungil istrinya ini


"Abang ada apa?" Yumna merasakan tangan kekar yang melingkar di pinggangnya sangat erat. Seperti melarangnya untuk bergerak.


"Ara bangun?" Guntur tersenyum manis pada kekasihnya.


"Abang bikin Ara gak bisa napas," Yumna mengusap-usap tangan kekar yang berada diatas perutnya.


"Maaf," Guntur melonggarkan pelukan sambil menyengir. Istrinya itu sudah lebih segar dan tidak demam seperti siang tadi lagi.


Yumna membimbing tangannya untuk mengusap rahang tegas milik sang suami. "Kenapa?" Gumamnya, dapat merasakan tatapan sendu dari mata indah yang selalu menatapnya penuh cinta akhir-akhir ini.


"Hanya takut jauh dari kalian apalagi sampai kehilangan kalian. Kamu hidup Abang, Sayang." Guntur menahan tangan mungil itu kemudian mengecupnya berkali-kali untuk menyalurkan rasa cintanya.

__ADS_1


"Benarkah? Bukan takut karena gak dapat jatah, hm." Yumna menggoda dengan senyuman tengilnya.


"Itu salah satu penyebabnya juga." Sahut Guntur dengan kekehan, "ternyata istri Abang ini kecil-kecil pintar memuaskan ya." Katanya menyentil hidung mancung Yumna, gemas.


"Tentu saja, Ara kan sudah belajar." Dengan bangga Yumna menepuk dada, "jadi gak perlu kuliah lagi kan?" Ujarnya mengedipkan sebelah mata pada sang suami.


"Ternyata ada maunya ya," Guntur mencubit gemas pipi sang istri. "Untuk itu tidak ada penawaran, harga mati harus lulus kuliah."


"Ara itu gak suka denger dosen ceramah Abang, terus tugasnya banyak. Kan sekarang Ara lagi hamil jadi harus banyak istirahat." Ucap Yumna dengan wajah memelas.


"Kamu itu memang jago akting, tapi gak akan mempan sama Abang. Biasanya juga Abang yang bantu ngerjain tugas." Guntur tertawa gelak melihat bibir yang langsung mengerucut tajam.


Guntur menggeleng, masih dengan tawanya menggigit hidung sang istri gemas. "Abang lagi gak pengen. Apalagi Ara sakit dan bau asem, belum mandi."


"Bener-bener Abang ya, Ara gak akan kasih jatah selama satu bulan!!" Ketus Yumna kesal karena tidak berhasil merayu suaminya.

__ADS_1


"Satu bulan ya?" Guntur nampak berpikir kemudian menyeringai tipis, "emang Ara tahan, hm."


Sontak Yumna menggeleng sayu karena Guntur sudah menyerang intinya.


"Coba Abang lihat, mana tadi yang gak mau ngasih jatah satu bulan, hm." Guntur mengulum senyum, baru kena sentuhan sedikit saja tubuh mungil itu sudah tersetrum.


"A-ara bercanda A-abang!!" Pekik Yumna yang sudah terserang panas dingin.


"Ara kenapa Sayang?" Tanya Guntur pura-pura lugu mengusap pipi istrinya dengan lembut.


"Abang selesaikan please, Ara gak kuat!!" Rengek Yumna.


Guntur mengangkat sebelah alis menggeleng, "enggak ada jatah buat Ara malam ini." Jawabnya dengan tawa gelak, membawa Yumna keatas tubuhnya.


"Jahat, Abang jahat!" Yumna membenamkan wajahnya di ceruk leher sang suami. Semenit, dua menit, tiga menit tidak ada pergerakan apa-apa.

__ADS_1


Guntur mengira istrinya tertidur. Namun detik-detik terakhir tubuhnya dibuat menegang, karena Yumna mengigit lehernya seperti vampir.


"Ara!!" Pekik Guntur dengan melotot, bergegas ia menurunkan sang istri dari atas tubuhnya. Si empunya hanya tersenyum menggoda tanpa merasa bersalah.


__ADS_2