
"Kau harus membayar semua ini Tora!" Brayen menatap tajam Tora, lelaki yang di tatap hanya tersenyum simpul.
"Kau sedang berada di wilayahku Brayen, jangan coba-coba mengancam. Kau lukai sedikit saja putriku. Aku akan membakar mansionmu!!" Ucap Brayen tenang dengan tatapan membunuh.
Dia yakin Emran juga sedang mengumpulkan pasukan untuk melindungi Yumna. Jadi dia tidak sendirian melawan Brayen. Itu akan lebih menguntungkan pihaknya saat ini.
"Cih, kau merasa menang karena Emran mendukungmu?" Brayen berdecih, meludah di dekat kaki Tora.
Lagi-lagi Tora tersenyum, "aku menyutujui menikahkan putriku denganmu agar mudah melenyapkanmu, Brayen!!" Serunya dalam hati, dia tidak bodoh mengorbankan putrinya untuk manusia brengsek seperti Brayen.
Kalau Yumna menikah dengan Brayen, semua akan tunduk pada putrinya. Itu akan memudahkan Tora melumpuhkan lelaki ini. Tapi rencananya sudah gagal, karena Emran ikut campur.
"Aku tidak butuh siapapun untuk membantuku Brayen, kita sama-sama berada dalam dunia hitam ini lama. Tidakkah kau mengenalku." Tora menepuk kedua bahu Brayen, "pulanglah. Rumahku ini tidak mudah untuk di serang, apalagi oleh anak buahmu itu." Katanya sambil bersiul sebagai kode pasukannya siap menyerang.
"Dasar singa licik!" Desis Brayen melepaskan tangan Tora dari bahunya.
"Aku tidak akan melepaskan putrimu!" Tekannya sebelum pergi.
Tora mengangguk menantang, dia juga tidak akan membiarkan siapapun menyentuh putrinya.
"Aga kirim pasukan ke rumah Emran, perketat penjagaan di sana. Pasti Brayen akan menyerang ke rumah itu!" Perintah Tora pada putranya.
"Siap Daddy," jawab Aga. Ia langsung memberikan perintah pada anak buahnya.
"Maass," Ayumi mendatangi suaminya. Rumah mereka sekarang sepi. Semua tamu sudah pulang.
"Ya Sayang, kita ke kamar." Tora menggandeng istrinya membawa ke lantai dua, kamar mereka.
"Apa Ara baik-baik aja Mas?" Tanya Ayumi cemas.
"Di sana Ara akan terlindungi, kita titip Ara sebentar pada Emran ya Sayang."
"Bagaimana Ara bisa mengenal mereka Mas, kita tidak pernah mengenalkan Ara pada siapapun. Aga hanya sering membawanya latihan menembak."
"Mereka yang menolong Ara saat kabur dari rumah." Tora mendudukkan istrinya di tempat tidur. Dia mengambil dua pistol di laci, meletakkan di balik pinggung. Ayumi sudah biasa melihat itu, jadi tidak khawatir ketika suaminya membawa senjata api kemana-mana.
__ADS_1
"Bisakah Mas berhenti melakukan pekerjaan yang berbahaya ini," pinta Ayumi pelan. Tora segera menutup laci berbalik mendekati istrinya.
"Aku khawatir kamu kenapa-kenapa Mas, setiap hari kamu harus berurusan dengan benda yang bisa memecahkan otak manusia itu," lanjut Ayumi dengan gumaman.
"Sayang," Tora membawa istrinya dalam pelukan. "Percayalah aku akan menjaga diri dengan baik untuk kalian. Jangan cemaskan aku, aku sudah biasakan seperti ini."
Ayumi menggelengkan kepala, "aku takut."
"Kita susul Ara, Sayang." Ajak Tora, mengalihkan perhatian sang istri. Ia membawa Ayumi turun kembali mendatangi anak dan menantunya setelah berganti jas yang sudah dirancang anti peluru.
"Ranaya, kamu tinggal di rumah ya Nak. Masuk kamar jangan ke mana-mana." Beritahu Tora pada istri Sagara. Menantunya itu mengangguk patuh.
"Iya Daddy, Aya ke kamar." Sahut Ranaya.
"Mas, aku temani Aya aja di rumah, kalian aja yang pergi." Ujar Ayumi, tidak tega meninggalkan menantunya sendirian di rumah. Walau tidak benar-benar sendiri, banyak pelayan di rumah ini.
"Ya sudah, kalian hati-hati di rumah." Ucap Tora mengecup kening sang istri dan mengusap kepala menantunya lembut, kemudian pergi diikuti sang putra.
...🍀🍀🍀...
"Rumah kita di kepung!!" Teriak Zaky.
Suami Ghina itu menaiki tangga sambil terengah-engah, padahal ada lift. Dia sudah tidak bisa berpikir jernih lagi. Sang mertua pasti ada di ruang rahasia sekarang.
"Sayang, kenapa lari-lari?" Tegur Ghina mendapati suaminya ngos-ngosan. Dia sedang menemani Airil bermain di kamar. Zaky menarik istrinya ke arah jendela, menunjuk keadaan di luar sana. Walau tidak terlalu jelas tapi masih bisa dilihat.
"Kita diserang Sayang," ucap Zaky pelan agar putranya tidak mendengar. "Pegang, gunakan saat kamu perlu." Zaky memberikan pistol ke tangan Ghina lalu mengecup di kening sang istri.
"Aku belum pernah menembak benda bergerak Sayang." Ghina langsung cemas memegang benda itu, dia baru belajar menembak.
"Kamu bisa, kita sudah sering berlatih." Zaky mengambil dua pistol lagi dari lemari khusus. Ia berganti jas, memasukkan benda itu lalu menggendong sang putra.
"Sayang kita main sama adek," ajak Zaky membawa putranya ke kamar Arraz diikuti sang istri.
"Sayang kamu temani Arraz dan Airil bermain di sini." Sebut Zaky, kamar itu terhubung langsung dengan kamar Ghani.
__ADS_1
Ia mengaktifkan double key di kamar itu selepas menurunkan Airil kemudian menutup semua kaca. Bocah berumur empat tahun itu hanya memandang sang ayah bingung.
Setelahnya Zaky menjemput Arraz di kamar sebelah lewat connecting door. Ghani dan yang lain masih mengatur strategi. Di kamar itu sudah ada mama mertuanya dan Yumna. Juga ibu Guntur yang sedang memangku Arraz.
"Mama sama Mama Hasna temani Ghina di dalam ya Ara juga," ujar Zaky mengambil Arraz dari pangkuan Hasna.
"Biar Ghani nanti yang menemani Kha di sini," ucapnya langsung membawa sang keponakan ke sebelah diikuti yang lain. Khalisa hanya diam di tempat, tidak tau harus berbuat apa.
Yumna memejamkan mata, menghela napas panjang. Semua terjadi karenanya.
Zaky menarik Yumna ke pojokan kamar, "aku tau kamu ahli menggunakan pedang dan pistol Ara. Gunakan ini, tapi jangan sampai mengeluarkannya di depan Kha!" Peringat Zaky.
"Ara sudah lama gak latihan," sahut gadis itu cemas.
"Ara bisa, lindungi dirimu dan mereka." Zaky meyakinkan, Yumna mengangguk pelan. Menyimpan pistol di antara karet rok kebaya belakangnya dengan jantung yang berdebar-debar. Dia sudah lama tidak memegang benda itu, karena tidak diijinkan sang daddy.
"Kha, are you oke?" Tanya Zaky saat ingin keluar melewati pintu kamar Ghani. Istri Ghani itu sedang melamun menatap ke arah balkon.
"Jantungku dad dig dug," sahut Khalisa sambil menempelkan tangan di dada.
"Tunggulah, sebentar lagi Ghani akan ke sini." Zaky menutup tirai di kamar itu, agar Khalisa berhenti melihat ke arah luar.
"Ya," jawab Khalisa singkat.
Zaky segera pergi, dia tidak bisa lama-lama mengurus Khalisa. Ada yang lebih penting sekarang, suami Ghina itu mendatangi ruang rahasia sang mertua.
Di ruangan itu terdapat koleksi senjata dan monitor-monitor besar untuk mengawasi keadaan di sekeliling rumah.
"Gha, Kha sudah menunggu. Cepatlah ke kamar," beritahu Zaky yang langsung duduk di depan layar monitor.
"Sebentar, mana nyamuk kesayanganku." Ghani mengambil spy drone terbaru keluaran Amerika sambil mengelus-elusnya. "Ahirnya kau berguna juga," gumamnya sambil tersenyum tipis.
"Tidurkan Kha, sebelum kamu menerbangkannya Gha." Emran mengingatkan, jangan sampai menantunya itu kumat lagi.
"Oke Pah," sahut Ghani kemudian keluar dari sana.
__ADS_1
"Tomi sedang kesusahan membawa Nindi masuk, kirim bantuan Tur." Ujar Zaky yang sudah fokus di depan monitor.
"Iya-iya sabar," decak Guntur. Dia baru duduk dengan tenang sudah dapat panggilan lagi.