Gemuruh Cinta Sang Guntur

Gemuruh Cinta Sang Guntur
18. Singa Betina Kecil


__ADS_3

Mereka terlambat, Brayen sudah membuat keributan di rooftop. Mengepung rumah Emran. Lelaki itu turun ke lantai dua, menghadang Yumna yang ingin masuk ke kamar Ghani.


"Mau kemana kau Baby," Brayen menarik tangan Yumna. Dia berhasil masuk saat yang lain sibuk menghadapi anak buahnya.


"Daddy!!" Teriak Yumna, Tomi yang sudah masuk dalam kamar saling pandang dengan Ghani.


"Tolong Ara, Daddy!!" Pekik Yumna lagi dengan sekuat tenaga.


"Aku bisa menembak Daddy-mu dari sini kalau kau nakal Baby." Brayen merangkul erat pinggang gadis itu agar tidak banyak bergerak.


"Sebelum kau menembaknya aku yang akan memecahkan kepalamu lebih dulu." Ucap Tomi yang muncul dari kamar Ghani.


"Rupanya kau juga ada di sini Tomi," Brayen tidak mengalihkan pistolnya yang mengarah pada Tora.


"Jangan senang dulu karena berhasil masuk ke rumah ini!" Sebut Tomi dengan senyuman meremehkan.


Tora dan Emran melangkah naik, kekacauan itu persis terjadi di depan kamar Ghani. Emran khawatir menantunya terbangun dan mendengar suara tembakan.


Sedang di kamarnya Ghani dibuat pusing oleh Ghina yang ingin keluar.


"Sayang mau kemana?" Tanya Ghani pada adiknya yang tiba-tiba muncul dari pintu kamar Arraz.


"Mau keluar Abang."


"Enggak, kamu gak boleh keluar. Tetap di dalam temani anak-anak."


"Aku gak bisa diam, Zaky di luar dalam bahaya Abang."


"Zaky bisa menjaga dirinya Sayang." Ghani menarik sang adik untuk duduk.


"Aku khawatir, aku mau keluar membantunya." Kekeuh Ghina.


"Sudah banyak orang di luar, kamu gak perlu ikut."


"Tapi mereka banyak Abang." Tunjuk Ghina ke arah balkon. Di sana sudah ada yang berusaha memecahkan kaca kamar Ghani.


Ghani mengambil remote dan memasang pengamanan ganda. Kaca itu tiba-tiba menjadi gelap.


"Lumpuhkan yang ada di balkon kamarku." Perintah Ghani sambil menepuk-nepuk bahu Ghina agar tidak kabur dengan satu tangan. Sedang Arraz masih kegirangan melihat rekaman yang di hasilkan drone.


"Lindungi kamar Ghani!" Teriak Zaky mulai panik, semua ada di sana.

__ADS_1


"Gha hubungkan ke Ghina," pintanya. Ghani menempelkan headset bluetooth ke telinga sang adik.


"Sayang, jangan kemana-mana oke." Ucap Zaky, dia tau istrinya itu pasti gelisah. "Tetap di kamar Sayang temani anak-anak." Beritahunya dengan lembut.


"Sayang, aku mau keluar." Kekeuh Ghina merengek.


"Kamu jangan bikin aku khawatir, tetap di kamar Sayang. I Love you," ucap Zaky.


Ghina menggembungkan pipi mengembalikan headset itu pada sang kakak. Pembicaraan mereka pasti di dengar semua yang terhubung dengan Ghani.


"Sudah di sini aja temani Abang." Ghani mengamati situasi di atas rooftop. Guntur dan Zaky sedang melawan musuh yang ada di atas sana bersama pasukannya.


"Tembaaak!!" Arraz menirukan gaya menembak, Ghani menutup mata putranya itu. Tontonan live ini berbahaya buat putranya.


"Abaang, Zaky!" Rengek Ghina.


"Zaky gak akan kenapa-kenapa," Ghani memeluk Ghina untuk menenangkan. Harusnya dia juga memberikan obat tidur untuk adiknya ini.


"Bawa Arraz ke kamarnya Sayang," pinta Ghani lembut pada adik kembarnya, Ghina mengangguk sambil cemberut.


"Arraz mau di sini Ayah. Arraz mau lihat Om berantem," gumamnya.


"Baiklah!" Bocah kecil itu turun dari sofa dengan semangat empat lima menarik tangan Ghina.


Ghani meringis melihat putranya yang menggebu-gebu ingin jadi hero. Ia tidak bisa meninggalkan kamar untuk membantu kekacauan yang terjadi di luar. Tangannya bergerak mengawasi cctv di depan kamar.


"Guntur, ke depan kamarku bantu Tomi. Di atas sudah banyak yang membantu Zaky." Dikte Ghani, bolak-balik mengamati layar laptop dan tab di depannya. Sambil mengarahkan jika ada musuh yang tiba-tiba ingin menyerang salah satu dari mereka. Dia seperti sedang bermain game.


"Aku segera ke sana!" Jawab Guntur.


"Dor!"


Sempat-sempatnya lelaki itu melepaskan satu peluru pada orang yang ingin menghalangi langkahnya. Ghani geleng-geleng kepala.


"Kha," gumamnya bergegas memasangkan earphone ke telinga sang istri. Untuk menghindari Khalisa mendengar suara tembakan jika ada yang melepaskannya dalam rumah.


Di sana Brayen sengaja menunda waktu agar anak buahnya menyusul untuk membantunya membawa Yumna kabur.


"Aku tidak akan melepaskan gadis ini!" Ucapnya dengan arogan. Kemudian melepaskan tembakan pada Tora setelah anak buahnya datang. Untung Tora berhasil menghindar.


"Dor!"

__ADS_1


Yumna membelalakkan mata, hampir saja ayahnya dalam bahaya. Gadis itu tersenyum tipis mengangkat rok kebayanya hingga paha, lalu melesat menendang kaki Brayen.


Ia mengeluarkan pistol yang disembunyikannya di karet pinggang rok kebaya, menodongkan di kepala Brayen.


Kesempatan itu Tomi gunakan untuk menyerang tiga orang anak buah Brayen. Dia meminimalisir mengeluarkan suara tembakan dalam rumah.


Guntur yang tiba di sana sampai dibuat menganga, ia membantu Tomi melumpuhkan anak buah Brayen yang ingin menyerang Yumna.


"Kau tidak sedang menghadapi anak kecil, brengsek!!" Teriak Yumna murka, mengeluarkan sifat aslinya. Sebelum menembak dia menendang rudal milik lelaki itu.


"Kau, tembak dia!" Perintah Brayen pada anak buahnya yang sedang kesulitan melawan Tomi dan Guntur.


Ia mengarahkan pistol pada Yumna sambil meringis kesakitan, kejantanannya terasa nyeri membuat lututnya lemas. Tenaga gadis kecil ini cukup besar.


Sekali lagi Yumna melemaskan kaki kemudian menendang lelaki itu berkali-kali saat lengah sampai tersungkur. Tangannya menembak anak buah Brayen yang lolos dari Guntur mengenai di bahu kiri, sampai pistol yang terarah padanya terlepas.


Gadis itu melakukan dengan gesit sambil menghentak dada Brayen dengan kaki yang menggunakan heel.


"Aargghh," teriak Brayen. Dadanya terasa terhimpit. Dia mendapatkan double kick karena meremehkan gadis kecil ini.


Tomi dan Emran yang melihat aksi Yumna dibuat menganga, sedang Tora tersenyum lebar. Dia bukan tanpa persiapan mengumpankan putrinya pada Brayen.


"Sekarang kau sudah berkenalan dengan putriku Brayen," ucap Tora bangga pada putrinya.


Brayen berguling melepaskan diri dari Yumna. Memberikan tembakan pada gadis itu.


"Dor!!"


Empat orang pria yang ada di sana langsung menegang. Melihat itu Guntur langsung menyerang Brayen yang mencoba bangun sampai tersungkur kembali ke lantai.


"Araaaa!!" Teriak Tora.


Yumna berhasil menghindar dengan gesit. Sekarang dia sudah menindih tubuh Brayen yang kehilangan banyak tenaga. Menempelkan pistol tepat di dada lelaki itu.


"Perintahkan pasukanmu mundur atau kubuat jantungmu sekarang bocor manusia brengsek. Aku bukan gadis yang tiga tahun lalu kau tertawakan." Teriak Yumna murka, Guntur dan Tomi sudah menyingkirkan tiga orang anak buah Brayen yang terkapar. Bisa mati di tempat kalau jadi sasaran Yumna.


"Perkenalannya sudah cukup Sayang, Daddy gak mau kamu jadi pembunuh." Tora menarik lembut singa betina kecilnya yang sedang mengamuk.


"Daddy tidak terluka," lanjutnya. Tora sangat tau kalau putrinya akan mengamuk jika orang tersayangnya diserang. Ia menurunkan rok Yumna, memeluknya dengan sayang.


"Ternyata kau kalah dengan anak kecil Brayen!!" Emran membantu Brayen bangun dengan senyuman mengejek. Menyerahkan pada putranya untuk diamankan.

__ADS_1


__ADS_2