
Guntur membiarkan saja Yumna duduk di balkon kamar. Ia mengamati gadis yang sedari tadi menatap nanar cincin yang dipegangnya di bawah sinar rembulan.
“Dari siapa cincin itu?” tanya Guntur penasaran. Yumna hanya menangis saat cincin itu dibuang Aga.
“Seseorang, mungkin orangnya sudah Daddy jadikan mayat.” Jawab Yumna pelan, akankah semua selesai kalau dia menuruti kemauan sang ayah. Dan meminta jaminan agar mereka melepaskan kekasihnya.
“Kau tidak tau dia dibawa kemana?” tanya Guntur yang kasihan melihat Yumna harus dipaksa berpisah dengan cara sadis.
Gadis itu menggeleng pelan, "saat Daddy menangkapnya aku dikurung di kamar."
"Tidurlah di sini untuk malam ini," Guntur tidak bisa berjanji untuk membantu menemukan kekasih Yumna. Ia malas berurusan dengan gadis kecil ini, cukup sampai malam ini dia membantunya.
"Boleh mandi?" Tanya Yumna lugu.
"Mandilah, tidak ada yang melarang kau mandi di sini. Air masih gratis." Sahut Guntur tanpa berekspresi.
"Pinjam baju," gumam Yumna.
Guntur berdecak beranjak ke lemari mencarikan baju ukuran kecil untuk gadis itu. Sekecil-kecilnya baju Guntur tetap saja Yumna akan kelelep kalau memakainya.
"Jangan minta pakaian dalam juga, aku tidak punya yang sama sepertimu!!" Sarkas Guntur melemparkan kaos dan celana boxer pada Yumna.
Gadis itu mengangguk sambil memanyunkan bibir. Berjalan pelan menuju kamar mandi.
"Sudah berani cemberut rupanya," gumam Guntur.
Padahal banyak kamar di rumah ini, kenapa dia harus repot-repot membawa Yumna ke kamarnya. "Astaga, apa yang kau pikirkan Guntur!!" Seru Guntur frustasi pada dirinya sendiri.
Pria itu menggeleng pelan, membuka laptop untuk mengamati cctv di sekitar rumahnya. Guntur menghela napas lega, Tora dan anak buahnya sudah pergi.
“Aku tidur dimana?” tanya Yumna setelah keluar dari kamar mandi. Gadis itu menggunakan kaos hitam Guntur yang kebesaran di tubuhnya. Celana boxernya jadi tertutupi kaos.
“Tidur di mata,” jawab Guntur malas. Dia masih sibuk di depan laptop.
Yumna menghela napas pelan, “jutek.” Gumamnya.
“Hei apa kau bilang, sudah berani mengumpat di depanku!!” Sarkas Guntur menatap tajam ke arah gadis yang terlihat lucu dengan kaos kebesaran.
“Ara gak mengumpat, cuma bilang jutek.” Jawab Yumna yang sudah tidak takut lagi dengan Guntur.
“Sepertinya kau memang harus di didik mulai malam ini!!” Cetus Guntur mendekati Yumna yang memanyunkan bibir karena dimarahi. Gadis itu sampai menahan napas saat Guntur mendekati wajahnya. Matanya ikut tidak berkedip.
__ADS_1
“Ini mulut bisa tidak dimajukan, hah. Di sini kau tidak boleh manja. Ingat ini bukan rumahmu!” Beritahu Guntur setelah menyentil bibir Yumna kemudian menjauhkan wajahnya.
"Iya," jawab Yumna dengan anggukan lalu melengos ke sofa.
“Minara Yumna Damanuri, aku masih belum selesai bicara!!” teriak Guntur kesal.
“Ara masih bisa dengan suara Om di sini, bicaralah kalau Om ingin bicara. Ara masih belum tuli.” Yumna memberengut masam membanting pantatnya di sofa.
“Apa? Kau memanggilku Om. Aku bukan Oom-mu!” Guntur semakain kesal dibuat gadis kecil ini.
“Jadi Ara harus panggil apa? Bapak?” tanya Yumna polos.
“Araaa!! Kau bisa sopan sedikit dengan orang yang lebih tua!” teriak Guntur geram.
“Ara sudah sopan memanggil Om, tapi Om masih suka marah-marah.” Putri Tora itu tidak berhenti menjawab.
“Om seumuran dengan Bang Aga, Abang lebih tua sepuluh tahun dari Ara. Jadi wajar kalau Ara panggil Om kan?” Jelas Yumna terperinci.
Guntur mendesah kasar. Gadis itu benar, dia yang salah. “Panggil Abang!”
“Tapi Om bukan Abangku," tolak Yumna.
“Dan aku juga bukan Om-mu,” jawab Guntur sengit. Dia sudah terserang darah tinggi mengurus anak kecil ini.
“Siapa yang menyuruhmu tidur di sofa?” sergah Guntur
“Mata Ara gak punya tempat tidurnya Bang,” gadis itu tak peduli pada Guntur yang emosian.
Ya Tuhan, Guntur bisa semakin cepat tua kalau meladeni anak ini. Pria itu menutup laptop kemudian keluar dari kamar. Dia malas mengurus Yumna.
“Ooomm, Ara takut tidur sendirian!!” Teriak Yumna. Saat di toko Anindi dia tidur dengan karyawan yang lain, jadi tidak sendirian.
Guntur menghentikan langkahnya menoleh ke belakang menatap tajam Yumna.
“Abang,” ralat Yumna pelan.
“Kau ini sangat merepotkanku anak kecil!!” Pekik Guntur tertahan.
“Ayo kuantar ke kamar Nindi.” Lebih baik dia mengalah daripada terus meladeni anak kecil ini.
"Terimakasih Abang," ucap Yumna manis mengikuti Guntur dari belakang.
__ADS_1
“Kau ini nakal tapi penakut!” omel Guntur.
"Ara cuma takut di tempat baru, di rumah Ara gak penakut kok." Sahut Yumna membela diri.
Guntur diam saja, malas bersuara lagi sampai di kamar Tomi. Pria itu mengetuk pintu kamar, semoga pasangan itu belum tertidur.
“Ada apa?” tanya Tomi yang membuka pintu. Dia sedang menidurkan istrinya yang merengek nyeri perut.
“Anak kecil ini takut tidur sendirian. Bisakah dia tidur dengan Nindi,” ujar Guntur.
“Nindi lagi sakit, gak bisa kutinggal. Kamu aja yang temani malam ini dulu," sahut Tomi.
“Kha?”
Suami Anindi itu menggeleng pelan. “Sama, Kha kumat lihat pistol tadi, jadi gak bisa jauh dari Ghani.”
"Ya sudah, Nindi gak perlu di bawa ke rumah sakit kan?" Tanya Guntur khawatir, para perempuan itu pasti ketakutan melihat Aga yang ingin menembaknya tadi.
"Lihat perkembangannya dulu." Ujar Tomi sambil melirik ke arah kamar untuk memastikan istrinya baik-baik saja.
"Oke, aku ke kamar dulu. Kabari kalau ada apa-apa." Guntur menarik Yumna kembali ke kamarnya. Tidak mungkin dia mengganggu sang mama ataupun Ghina, anak itu pasti sudah ngorok dalam pelukan Zaky.
"Iya, jangan macam-macam!" Peringat Tomi sebelum menutup pintu. Guntur memutar bola mata malas, ngapain juga dia macam-macam sama anak bau kencur ini.
"Tidur. Jangan rewel lagi!!" Guntur menghempaskan tangan Yumna setelah sampai kamar.
"Abang tidur di mana?" Tanya Yumna yang sudah naik ke atas tempat tidur.
"Sofa," jawab Guntur malas.
"Jangan, biar Ara yang tidur di sofa!" Gadis itu membawa bantal dan selimut turun dari kasur.
"ARA!! Aku malas berdebat denganmu lagi. Jadi anak penurut selama bersamaku!!" Peringat Guntur dengan suara rendah tapi penuh penekanan.
Yumna tidak jadi ke sofa, "Abang tidur di sini. Ara gak ganggu. Biasa Bang Aga menemani Ara tidur juga." Ucap gadis itu lembut menepuk-nepuk bantal di sampingnya. Sadar sudah membuat Guntur marah-marah dari tadi.
"Iya," jawab Guntur lelah. Ia pergi ke kamar mandi untuk merendam tubuhnya yang lelah dan kepala mendidihnya ini.
Kenapa nasibnya apes, harus mengurus anak kecil yang sangat merepotkan. Cukup malam ini dia dibuat susah anak itu. Setelah ini Guntur tidak ingin berurusan lagi dengan Yumna.
...💥💥💥...
__ADS_1
...Hai baca juga cerita aku yang lain ya, semoga suka. Semua sudah tamat. Jangan lupa like, komen dan votenya. Terimakasih sudah mampir 😊...