Gemuruh Cinta Sang Guntur

Gemuruh Cinta Sang Guntur
14. Takdir Ara


__ADS_3

“Mah anak kecil itu mana, gak ada di kamar?” tanya Guntur yang datang membawakan perlengkapan untuk Yumna. Dia pergi hanya untuk membelikan semua keperluan gadis itu.


“Tadi katanya mau keliling-keliling di rumah ini, Mama gak bisa menemani.” Jawab Hasna masih sibuk mencetak kue kering.


“Sudah lama?”


“Lumayan, hampir satu jam mungkin.”


“Guntur cari dulu, siapa tau mati kecebur di kolam renang.”


“Guntur, kalau bicara yang baik Nak, bisa jadi doa. Kamu ini kalau bicara suka asal." Omel Hasna, Guntur menyengir lebar meninggalkan sang mama.


Pria itu mengelilingi seluruh sisi rumahnya, namun tidak menemukan Yumna. Berkeliling di rumah besar itu membuatnya ngos-ngosan. Setara dengan joging di lapangan sepak bola.


“Araaa, kau sembunyi di mana?” Teriak Guntur, setelah lelah mencari. Dia terus berteriak menggaungkan nama Yumna.


“Mah, anak kecil itu gak ada.” Gumam Guntur kembali ke dapur. Setelahnya dia menghabiskan satu botol air mineral dingin, kemejanya sudah basah dengan keringat.


Pria itu duduk di kursi sambil mengatur napas sejenak sebelum berpikir kemana harus mencari Yumna.


“Kamu serius, gak lagi main-mainkan Guntur.”


“Beneran, aku seruius Mah. Aku sudah mengelilingi rumah ini seperti anjing pelacak sampai keringetan. Masa Mama anggap bercanda,” jawab Guntur.


"Habisnya kamu memang suka bikin Mama khawatir dengan candaan garingmu itu."


"Aku cek cctv dulu Mah."


"Mama ikut!" Seru perempuan paruh baya itu, mematikan oven mengikuti putranya.


Guntur masuk ke ruang kerja sang ayah memeriksa layar yang menampilkan rekaman cctv. Dia memutar ulang rekaman satu jam yang lalu di setiap sudut rumahnya itu.


"Tidak ada apa-apa Mah. Dia cuma keliing-keling. Kemana anak kecil itu hilang." Sekali lagi menajamkan penglihatannya, agar tidak ada yang terlewat.


Netranya membulat saat menemukan Yumna dibawa abangnya di halaman samping dekat kolam renang.

__ADS_1


“Dia siapa?” tanya Hasna panik menepuk keras bahu sang putra.


"Mah, gak pake mukul Guntur juga. Tangan Mama ini bisa dibuat sambal, pedasnya sama dengan cabe rawit." Guntur mengelus-elus bahunya yang teraniaya.


Hasna memutar bola mata malas, "lebay." Gumamnya mencubit pipi Guntur. "Mama tanya yang menculik Ara itu siapa?"


“Abang Ara Mah, mereka mau menikahkan Ara minggu depan.” Jawab Guntur lemas, langsung menghubungi Papa Emran. Bisa-bisa dia yang kena amuk papa-nya itu karena dianggap sengaja memberikan Yumna pada Aga.


“Kamu menyukainya Nak?”


Guntur mengkerutkan kening mendengar pertanyaan sang ibu. “Mah, Ara itu anak kecil. Dia kabur dari rumah karena dipaksa menikah. Mana mungkin Guntur menyukainya," jawabnya berbelit-belit.


"Berarti kamu gak mau nolong dia dong?" Ucap Hasna cemberut.


"Ya gak gitu juga, emang menolong orang harus suka dulu. Mama kenapa ih mikirnya kelebaran jadi meluber kemana-mana kayak air ember bocor," cerocos Guntur.


"Kamu ini turunan siapa sih, kalau ngomong suka gak dikasih rem." Hasna menyentil mulut putrannya.


"Mama gak sadar Guntur ini turunan siapa, jangan-jangan aku anak pungut yang tertukar." Sahutnya asal sambil memijat kepala pusing, harusnya dia tidak meninggalkan Yumna sendirian.


"Guntur jemput Ara dulu," pamit Guntur sebelum Hasna mengeluarkan bara api karena ucapan asalnya barusan.


"Ngadi-ngadi Mah, kayak gak ada perempuan matang aja. Aku bakal cepat keriput ngurusin anak itu kalau menikah dengannya." Tukas Guntur kemudian pergi, Hasna hanya senyam-senyum melepas putranya.


...🍀🍀🍀 ...


Gadis yang Guntur bilang anak kecil itu tidak melakukan perlawanan apapun. Ia menurut saja saat sampai rumah langsung di dandani ingin dinikahkan hari ini juga. Yumna tidak ingin menyusahkan orang lain lagi, biar saja dia yang menderita.


“Kamu gak papa Sayang?” Tanya Ayumi memeluk putrinya yang seminggu terakhir ini kabur dari rumah.


“Ara gak papa Mom,” jawab Yumna tidak ada air mata yang terjatuh. Bibir mungil itu tersenyum simpul.


“Maafin Mommy gak bisa bantu kamu agar Daddy membatalkan pernikahan ini Sayang,” sesal Ayumi karena tidak bisa membahagiakan putrinya.


“Bukan salah Mommy, mungkin takdir Ara memang begini.” Jawab Yumna sambil tersenyum, “ayo bantu Ara ganti baju Mom. Nanti Daddy marah sama Mommy kalau lambat.” Yumna melepaskan cincin di jari manisnya meletakkan kembali ke kotak asal lalu menyimpannya di laci.

__ADS_1


“Takdir kamu memang di tempat ini cincin. Seperti takdirku yang terperangkap dengan lelaki pilihan Daddy. Bahkan aku tidak pernah tau bagaimana wajahnya.” Lirih Yumna dalam hati, mengambil kebaya yang sudah disiapkan. Ia berganti di kamar mandi.


“Aku cantikkan Mom?” tanya Yumna di depan cermin dengan tersenyum manis.


“Tentu saja putri Mommy cantik.”


“Kecantikan tidak bisa menjamin kebahagiaan ya Mom, takdir Ara memang di tangan Daddy.” Sebut Yumna, Ayumi langsung memeluk putrinya dari belakang. Kalimat itu memang putrinya ucapkan dengan tersenyum. Tapi maknanya sangat menusuk.


Tora yang berdiri di pintu kamar putrinya merasa tersentil. Emran benar, dia sudah menjual kebahagiaan putrinya sendiri. Tapi semua ini demi Yumna, agar putri kecilnya itu tidak berada dalam bahaya.


"Daddy, Ara diikuti!!" Ucap Yumna panik dengan handsfree yang menempel di telinganya. Dia terus berlari menghindari kejaran musuh sang ayah.


"Ara dimana Sayang, sembunyi di tempat yang ramai. Daddy akan segera menjemput Ara."


"Ara masuk swalayan Daddy, di sini lagi rame antri minyak goreng." Jawab Ara dengan napas turun naik.


"Ya, bersikaplah seperti pembeli. Jangan mencurigakan. Masukkan barang apapun dalam keranjang. Bersikaplah santai, Daddy sudah meluncur. Jangan matikan teleponnya Sayang." Tora mendikte putrinya yang baru berusia delapan belas tahun. Semenjak Yumna masuk kuliah, perlahan identitas aslinya mulai terbaca oleh musuh-musuhnya dan menjadi incaran.


"Yes Daddy, Ara ambil apapun sekarang." Yumna memasukkan apa saja yang ada di depannya ke dalam keranjang.


"Bruuukkk... Aaawww!!" Ringisnya yang terpental karena menabrak orang.


"Ara, kamu kenapa Sayang?" Panggil Tora khawatir mendengar teriakan putrinya.


"Sorry," terdengar suara lelaki yang Tora tangkap.


"Ah, iya. Maaf sudah menabrak anda, Pak." Ujar Yumna lalu bergegas pergi.


"Ara nabrak orang Dad, untung gak dimarahin." Sebut Yumna yang kemudian mencari tempat aman untuk bersembunyi. Tapi tiba-tiba ada yang menarik tangannya.


"Daddy, Ara ketangkap." Lirih Yumna sangat pelan agar tidak ketahuan masih terhubung dengan sang daddy.


"Ara tenanglah Sayang, Daddy akan menjemput Ara. Jangan menangis atau bersuara apapun. Ara cukup dengarkan Daddy Sayang." Tora menenangkan putrinya. Walau dia sendiri sangat khawatir.


“Sudah selesai? Tamu sudah menunggu di bawah.” Ujar Tora, dia tidak berani menatap mata putrinya itu. Mereka sangat menyayangi Yumna, sampai sebuah perjanjian terpaksa dia buat agar putrinya itu tidak berada dalam bahaya lagi.

__ADS_1


“Sebentar lagi Sayang, tunggu lah di bawah. Lima menit lagi aku bawa Ara turun," jawab Ayumi.


“Cepatlah sedikit!” perintah Tora yang cepat diangguki sang istri.


__ADS_2