Gemuruh Cinta Sang Guntur

Gemuruh Cinta Sang Guntur
74. Balkon


__ADS_3

Lama Yumna melamun sampai sebuah lengan kekar melingkar di lehernya.


"Abang gak akan ninggalin Ara," Guntur mengecup belakang kepala sang istri seakan mengerti kekhawatiran yang wanitanya rasakan.


Ia hanya emosi sesaat, mana mungkin Guntur bisa lama-lama marah dengan kesayangannya ini.


"Ara ingin membunuh Brayen itu karena Ara takut kehilangan Abang, bukan sepenuhnya karena Geo." Gumam Yumna, menarik kalung di lehernya ingin membuang. Kalau memang Geo bisa menyebabkan hubungan mereka retak, ia tidak akan berusaha untuk menghilangkan nama itu dari hidupnya.


Tangan yang ingin melemparkan kalung itu ditahan Guntur. "Kalau Ara takut Abang pergi, maka Abang juga takut Ara pergi." Ia memasangkan kembali kalung itu ke leher sang istri.


"Kita bisa mengalahkan mereka dengan cara lain Sayang. Tidak perlu Ara yang langsung menyerahkan diri dalam bahaya."


Yumna mengangguk, tidak ingin membantah lagi. Baru beberapa jam berada dalam situasi tidak enak seperti ini, dia sudah gelisah.


Guntur mengecup basah pipi istri kecilnya, "ayo kita ulangi yang tadi." Ucapnya dengan tangan yang sudah meringsek dalam kaos Yumna.


"Gak mau nyoba di luar Abang, bisa sambil lihat langit."


"Disini gak ada kasur Sayang, tapi kalau Ara mau disini boleh kita coba." Guntur memutari kursi kayu lalu mendudukkan istrinya diatas meja kecil.


"Jantung Ara dag dig dug," gumam Yumna dengan senyuman yang cerah kembali.


"Masa sih, Abang gak dengar." Guntur dengan sengaja menempelkan telinga diantara dua squishy yang menyembul tidak tertutup apapun. Karena penutupnya sudah ia singkirkan.


Suara detakan jantung Yumna sangat jelas terdengar di telinganya. Dengan satu gerakan Guntur melahapnya dengan lapar membuat Yumna mengerang kecil karena terkejut.

__ADS_1


Pasangan itu menikmati percintaannya di balkon kamar sampai tubuh Yumna lemas. Barulah Guntur menggendong istrinya yang sudah tidak berdaya ke tempat tidur. Menyelesaikan pelepasannya yang tertunda.


Ia ambruk disisi Yumna. Guntur membawa tubuh sang istri keatasnya dan memeluk dengan posesif. Ia tidak akan membiarkan wanitanya ini tersentuh sedikitpun oleh Brayen maupun Leo.


Yumna mengerjapkan mata perlahan. Ia terbangun masih berada diatas tubuh sang suami. Wanita itu segera menggelindingkan tubuhnya kesamping kanan.


"Kenapa turun Sayang?" Guntur menciumi pipi Yumna, dia masih saja gemas dengan istrinya ini.


"Abang capek nahan tubuh Ara," ucap Yumna dengan mata yang masih kelap-kelip layaknya lampu disco.


"Ara ringan, gak berasa kok."


"Emm, beneran Ara ringan?"


"Sudah berani ya nakal sama Abang."


"Ara kan emang berani," jawabnya dengan senyuman menggoda.


Lagi-lagi sepasang suami istri itu kembali melakukan percintaan panas di siang yang panas. Pendingin ruangan seperti tidak berfungsi lagi karena mereka tetap banjir keringat. Suara ketukan di pintu membuat Guntur harus melepaskan istrinya yang terkulai lemas untuk kesekian kalinya hari ini.


"Tempur terus sampai lupa makan siang!!" Decak Ghani kesal melihat penampilan Guntur yang berantakan. Dia kesal karena disuruh menjemput pasangan yang tadinya bertengkar itu.


Guntur mengendikkan bahu acuh, "kalian makan duluan. Nanti kami menyusul."


"Makan cinta sekalian sampai kenyang!!" Sarkas Ghani.

__ADS_1


"Kayak lo gak suka makan cinta aja!! Makan Kha ya sukanya." Guntur memainkan alis menggoda sang sepupu.


"Tapi gue gak sampai bercinta di balkon!!" Sindir Ghani yang membuat Guntur melotot tajam, semoga istrinya tidak mendengar.


"Hust sana, sana! Ribet banget sih, serah gue mau bercinta dimana. Sekalian nanti gue coba bercinta di ruang tengah!!" Guntur balas menyindir.


"Atau kita battle aja gimana?" Tawar Guntur usil.


"GILA!!" Umpat Ghani, setelah menjitak jidat Guntur baru dia pergi dari sana. Awal menikah dulu dia tidak segila itu dengan Kha. Karena memang hubungan mereka awalnya tidak berjalan dengan baik.


Guntur kembali ke kamar membangunkan istrinya setelah Ghani pergi, "Sayang bangun, kita makan siang." Panggilnya seraya menepuk lembut pipi Yumna yang masih memejamkan mata karena kelelahan mendapat serangan berulang kali.


Karena tidak bangun-bangun Guntur memboyong tubuh mungil itu ke kamar mandi. Memangkunya duduk disisian bathtub sembari menunggu air penuh.


"Ara lemas Abang," gumam mulut mungil itu.


"Makanya mandi dulu biar segar Sayang." Guntur merendam tubuh Yumna ke dalam bathtub. Tidak menyangka kalau hidupnya harus mengurus bayi besar.


Setelah tiga puluh menit mereka baru turun ke bawah. Semua orang sudah selesai makan siang.


"Ara capek gak nafsu makan Abang," Yumna menolak untuk makan.


"Tapi Ara harus tetap makan Sayang," bujuk Guntur. Siang malam ia menggempur istrinya inj. Bisa sakit kalau tidak dikasih asupan nutrisi.


"Abang suapin, Ara cukup buka mulut." Pria itu menyuapi istrinya yang teramat manja dengan penuh kesabaran. Dia dituntut untuk memiliki stok sabar yang banyak.

__ADS_1


__ADS_2