
Satu minggu kemudian.
"Kalian jalan-jalan lah, biar aku yang jaga Bian." Ucap Khalisa pada Guntur dan Yumna, mengambil keponakannya dari troli. Khalisa dan Ghani baru pulang liburan kemarin sore.
"Serius, Abang temani Ara belanja ya!!" Seru Yumna girang.
"Iya, biar gak ada Kha yang jaga baby, Abang bisa menemani Ara belanja sepuasnya." Guntur mengacak gemas rambut wanitanya.
"Beda Abang, Ara lebih tenang kalau Kha yang jaga baby." Yumna mengerucutkan bibir bergelayut manja di tangan Guntur.
"Oke," Guntur mengecup telapak tangan sang istri. Bibirnya tersenyum tipis dengan sejuta rencana yang ada dalam otaknya.
"Apa kalian juga mau aku jaga Nefa?" Khalisa menoleh pada Tomi dan Anindi. Keduanya serentak menggelengkan kepala.
"Kami mau ajak Nefa ke rumah ayah dan ibu," ujar Anindi. Ayah dan ibu yang dia maksud adalah orang tua Khalisa. Karena orang tuanya sudah tidak ada sama seperti kedua orang tua sang suami.
"Arraz ikut ke rumah kakek!!" Seru Arraz yang diiyakan Anindi dan meminta keponakannya untuk bersiap-siap. Dengan segera putra Ghani itu beranjak dari tempat duduknya.
"Kha mau ke rumah ibu juga?" Tanya Ghani pada istrinya yang masih bermain dengan baby Bian.
"Boleh, Ara siapkan keperluan Bian ya. Kalian puas-puaslah bikin dedek Bian." Kekeh Khalisa seraya mengedipkan mata menggoda pada Yumna.
"Tanpa disuruh pun itu tidak akan pernah absen." Ucap Tomi dengan wajah tenangnya seperti tidak mengucapkan apa-apa.
"Really? Jangan bilang kalian bercinta di depan Arraz dan merusak tatanan otak putraku yang masih suci." Tukas Ghani, kebetulan tidak ada papa dan mama di rumah jadi mereka bisa puas berdebat. Zaky dan Ghina juga tidak ada, mereka sedang mengunjungi kakek Airil dari pihak Zaky.
"Tatanan otaknya memang sudah tidak suci lagi. Buktinya bisa memilih calon istri!" Ucap Guntur dengan tertawa menatap gemas Nefa yang belajar berdiri.
"Sial, kau menghina putraku!" Umpat Ghani.
"Sudah jangan bawa-bawa putriku." Tomi yang mengerti arah tatapan mata Guntur langsung menghentikan keisengan daddy Bian sebelum Khalisa ikut mengamuk. Si empunya malah tertawa semakin nyaring.
"Kita mau berdebat disini sampai Mama Papa pulang atau mau menikmati hari libur?"
"Kita ketemu kakek," ujar Khalisa membawa baby Bian beranjak. Dia sengaja tidak menanggapi ucapan Guntur yang hanya ingin mencari keributan.
Ghani mengelus dada, "untung anteng." Gumamnya melihat sang istri yang menjauh pergi kemudian menatap tajam Guntur.
"Jangan bahas Arraz dan Nefa lagi di depan Kha!!" Peringat Ghani, dia tidak ingin istrinya yang sangat overthinking itu memikirkan candaan Guntur.
Si empunya hanya mengedikkan bahu sambil tertawa gelak.
...🌹🌹🌹...
Geo yang sedang berada di sebuah pusat perbelanjaan tidak sengaja melihat mantan kekasihnya bergandengan mesra dengan sang suami.
Refleks Geo memegangi dadanya yang terasa nyeri. Kenapa nasib percintaannya sangatlah sial. Niatnya keluar untuk membunuh rasa bosan tapi malah bertemu mantan. Ia berbalik Arah menghindari dua orang itu.
“Aww, Bunda sakit.” Seru anak kecil memegangi jidatnya yang terkena jam tangan Geo dengan keras sampai memerah.
__ADS_1
"Sakit?" Aish mengusap-usap kening Nasya. Keponakannya itu hanya menganggukkan kepala.
Entah apa sebutan yang tepat untuk bocah kecil ini. Nasya merupakan anak dari kakak Ken, suami sepupunya. Karena dia sering mengunjungi sang sepupu, jadilah gadis kecil ini sangat dekat dengannya sampai memanggilnya dengan sebutan bunda.
“Maaf,” Geo langsung menunduk dan meniup kening anak perempuan itu. “Kau,” Geo mengenali gadis kecil yang ada di hadapannya. Tapi dia lupa nama anak yang memanggilnya dengan sebutan om penculik.
“Om penculik, kenapa kita selalu bertemu. Apa kita jodoh,” ucap Nasya dengan polos.
“Hei Nasya bicara apa?” Aish terkekeh kecil mendengar celotehan Nasya.
Geo yang mendengar ikut tertawa, “ya mungkin kita memang berjodoh.” Katanya mengacak gemas rambut Nasya lalu berdiri mengucapkan maaf dengan datar pada perempuan yang Nasya panggil bunda. Setahu Geo itu bukan ibu kandung Nasya. Kemudian melanjutkan langkahnya sebelum dia berpapasan dengan Guntur dan Yumna.
“Om gak mau traktir jodohnya sebagai permintaan maaf!” Seru Nasya dengan wajah cool, Geo yang sudah berjalan kini membalikkan badan kembali.
“Nasya gak boleh gitu!!” Tegur Aish. Dia merasa tidak enak dan mengucapkan maaf, tapi tidak direspon apa-apa oleh pria itu.
Nasya meletakkan jari telunjuk di bibir mengisyaratkan agar Aish diam, wanita dewasa itu hanya menurut.
“Jadi jodoh Om penculik ini minta ditraktir makan?” Geo berjongkok dan tersenyum pada gadis kecil yang sudah bisa menghibur hatinya. Dengan cepat Nasya menganggukkan kepala.
“Ayo,” ajak Geo mengulurkan tangan pada Nasya dan menggenggam tangan mungil itu menuju restoran.
Aish yang bingung hanya mengikuti saja. Pria itu terlihat tersenyum hangat dengan Nasya namun dengannya terkesan dingin dan tidak berekspresi.
“Bolehkah jodoh Om ini minta antar pulang juga?” pinta Nasya dengan ngelunjak setelah perutnya kenyang.
“Baiklah, sebagai permintaan maaf.” Geo tersenyum mengacak gemas puncak kepala Nasya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Kenalan dulu dengan babang Ken di story EL & KEN
__ADS_1
Cuplikan.
"Kenapa sih menghilang lagi?" terdengar suara percakapan dari sudut ruangan. Ada dua gadis yang sedang asyik mengobrol. Cafe itu tidak terlalu ramai pengunjung sehingga suara dapat tertangkap dengan jelas.
"Aku bagai mayat hidup sekarang Fan, tidak tau harus berbuat apa. Sekarang hanya sekedar bertahan hidup seperti orang normal biasanya."
"Kami merindukanmu, sungguh sangat rindu keceriaanmu dulu. Bukan pilihan yang bijak jika mengambil jalan ini. Bukankah kau orang yang bijaksana seperti arti namamu yang selalu kamu banggakan."
"Semua sudah berubah Fany, tidak seperti dulu lagi. Sudah tidak ada yang perlu diperjuangkan lagi." Sahut gadis itu dengan tersenyum, suara gemetar menggemuruh mengisi seluruh ruangan. Meskipun diucapkan dengan lirih, namun maknanya begitu dalam. Tidak ada yang tau apa yang sedang dirasakan gadis itu.
"Aku tak bisa melihatmu seperti ini, izinkan aku membawamu keluar dari penderitaan ini?" Ujar Fany sendu.
"Tidak perlu, kau adalah sahabat terbaikku yang selalu paham isi hatiku meskipun disaat aku tidak mau bercerita." Senyum yang keluar dari wajah gadis itu begitu menenangkan, namun ada luka yang terselip di sana.
"Allah... kenapa susah sekali sih membuatmu untuk bersemangat dan bangkit kembali."
"Tak usah repot-repot untuk itu Fany, jika merindukanku, kita bisa bertemu di sini." Ujar gadis itu yang mendapatkan pelototan dari sahabatnya.
"Hei.. kenapa menatapku seperti itu, aku memang depresi, tapi aku tidak akan bunuh diri Fany." Tawanya pecah melihat wajah lawan bicaranya sedang tegang. Rambut panjang sahabatnya itu terurai menutupi bahu.
"Aku khawatir denganmu, kenapa kau masih bisa tertawa seperti ini," ujar Fany geram, menampakkan wajah sebalnya.
"Wajah cemberutmu bukan membuatku iba tapi ingin tertawa puas." Sekali lagi tawanya tersembul keluar.
"Aku sedang tidak ingin bercanda denganmu." Fany masih menampakkan wajah yang cemberut.
"Mengertilah Fan, aku masih butuh menyendiri."
"Hei, tamu yang terhormat sudah dua tahun anda menghilang dari peredaran dan menyendiri apakah itu masih kurang."
"Wooww, rupanya diriku penting juga ya." Sahut gadis itu dengan sombongnya.
"Bodoh, pertanyaan yang cukup bodoh." Fany melemparkan dompet pada orang yang ada dihadapannya.
"Benar sekali, itu adalah kata yang tepat untukku. Aku terlalu bodoh hingga tidak bisa melawan pikiranku sendiri." Senyuman masih terus memancar dari wajahnya yang teduh.
"Sudahlah jangan bicara seperti itu, kau membuatku sedih. Aku bahkan tidak tau apa yang kurang dari dirimu sehingga membuatmu seperti ini."
"Mau menemaniku berkeliling," pintanya dengan tersenyum. Lagi-lagi senyuman palsu yang nampak.
"Tentu saja, akulah dulu yang selalu menemanimu menangis di sepanjang jalan."
"Aku cengeng ya?" tanya gadis itu seraya tertawa.
"Banget..." Fany tersenyum melihat sahabatnya yang selalu berusaha tertawa sejak tadi. "Siapa lagi yang mau mendengarkan tangismu selain aku."
"Hei kenapa masih duduk disitu, ayo kita jalan sekalian cari pentol bakar." Fany menarik tangan sahabatnya keluar dari cafe.
Anda terlalu bodoh nona, terlalu naif dan mudah percaya. Fany tersenyum miring yang tak dapat dilihat lawan bicaranya.
__ADS_1
Dua bersahabat itu menunggangi motor scoopy dan berkeliling menikmati suasana jalanan yang dapat menciptakan ketenangan, sambil mengadukan segala resah yang dirasakan jiwa.
Dari luar cafe ada seorang pria dengan tubuh tegap tengah bersembunyi, melihat dua orang itu pergi menjauh. "Jangan percaya dengannya, dia akan menyakitimu. Fany bukan sahabatmu yang baik." Lirih pria itu, dia akan terus mengikuti kemanapun gadisnya pergi.