
"Ayah, tembak, tembak." Teriak Arraz berlari kecil mendatangi sang ayah setelah mendengar suara tembakan berkali-kali.
"Sayang, suaranya pelanin nanti bunda sama bibi bangun." Beritahu Ghani, menggendong Arraz ke luar kamar.
Ia bersyukur tidak ada yang terluka. Brayen berhasil dilumpuhkan Yumna, itulah akibat terlalu meremehkan. Gadis yang dianggap lemah malah membuatnya hampir kehilangan nyawa.
"Om keren!!" Pekik Arraz masih heboh mengingat gerakan Guntur menembak di rooftop tadi.
Para pria dewasa itu serentak melotot ke arah Ghani.
"Arraz maksa mau main nyamuk," jawab Ghani sambil menyengir lebar. Tempat itu sudah dibersihkan dari darah yang berceceran.
Putra laki-laki Ghani itu merosot minta di turunkan. Ia mendekati Guntur, "ayo main tembak-tembakan." Serunya menarik-narik tangan Guntur.
"Gak boleh, bundamu bisa langsung pingsan melihatmu belajar menembak." Gumam Guntur pelan berjongkok di depan Arraz. Anak lelaki itu langsung naik ke punggungnya.
"Zaky mana?" Tanya Ghina yang membuka pintu kamar Arraz sambil menuntun putranya.
"Aku di sini Sayang," Zaky terkekeh geli melihat istrinya yang seperti ingin memangsa manusia.
"Ayo kita main di bawah Arraz," Ucap Guntur membawa Arraz turun. Akan ada banyak drama yang terjadi di sini, lebih baik dia mengamankan diri sebelum dibully. Emran juga membawa tamunya ke ruang tengah.
"Arraz mau belajar menembak, Om. Ayooo!!" Rengek Arraz.
"Kalau sudah besar baru Om ajarin, makan yang banyak biar cepat besar." Guntur memasukkan kue kering ke mulut bocah kecil itu agar berhenti merengek.
"Gak enak!!" Seru Arraz memuntahkannya di lantai.
"Gha urus anakmu, aku capek mau tidur!" Kesal Guntur meninggalkan putra Ghani yang menangis. Dia malas mengurus anak kecil.
"Gimana mau punya anak kalau kelakuan gitu," Emran geleng-geleng kepala menenangkan cucunya.
"Aku gak akan nikah dan punya anak Pah!!" Sahut Guntur nyaring dari undakan tangga.
"Sembarangan kalau bicara!!" Hasna yang ingin turun berpapasan dengan Guntur langsung menjewer telinga putranya itu.
__ADS_1
"Mah, aku salah apa. Ini sakit, telingaku bisa lepas. Aku gak bisa dengar Mama marah-marah lagi nanti." Seloroh Guntur yang membuat Hasna semakin kencang menjewer dan menarik putranya itu di telinga untuk mengikutinya turun ke bawah.
"Kamu mau Mama gak punya cucu! Nungguin kamu nikah aja sampai karatan!!" Tukas Hasna geram pada putranya.
"Itu cucu Mama," Guntur menunjuk Arraz kemudian beralih pada Airil yang masih berada di lantai atas dalam gendongan Zaky. "Itu juga, yang masih dalam perut juga ada." Jawabnya sambil mengelus telinga yang memerah setelah Hasna melepaskan jewerannya.
"Mama mau cucu dari kamu, buktikan kalau burungmu itu berfungsi normal!" Sarkas Hasna tanpa malu, sedang semua yang ada di ruangan itu tertawa gelak.
"Mama jangan bikin malu. Burungku ini masih berfungsi dengan baik, bisa terbang kemanapun dia mau." Guntur memutar bola mata jengah kabur dari tempat itu, tidak mempedulikan mama-nya yang berteriak kesal. Selalu saja dia yang jadi bahan bully-an.
Ia masuk ke kamar langsung mengunci pintu dengan napas ngos-ngosan. Inikah definisi the power of emak-emak yang sebenarnya. Telinga Guntur serasa ingin lepas dari tempatnya menempel. Lelaki itu menghempaskan tubuhnya di tempay tidur.
Baru saja ia berbaring sudah ada yang mengetuk pintu. Guntur menghela napas panjang.
"Abang," panggil Yumna lembut.
Mendengar suara itu semakin membuat Guntur kesal, "apalagi?" Teriaknya tanpa membuka pintu.
"Bukain Ara pintu," ucap gadis itu manja.
"Bukain bentar aja, Ara gak gangguin Abang. Janji," mohon Yumna.
Dengan malas Guntur bangun membukakan pintu untuk anak kecil itu agar tidak mengganggunya lagi.
"Ara bawain Abang makan siang, makan dulu ya." Ucap Yumna dengan ceria, meletakkan nampan di atas nakas dan duduk di sisi ranjang.
"Aku malas makan, bawa makanannya lagi. Aku gak suka kamarku bau makanan!!" Guntur berujar ketus, membaringkan tubuhnya kembali ke kasur.
"Abaaaang," rengek Yumna. "Ara yang suapin," ucapnya manja. Guntur mendengus, sampai kapan dia harus melihat wajah gadis pengganggu ini.
"Aku bukan orang lumpuh yang makan harus dibantu orang lain!" Tukas Guntur jengkel.
Yumna menggembungkan pipi, dia harus menebalkan telinga mendengarkan ucapan pedas Guntur. Dan tidak memasukkannya ke hati.
"Abang makan sendiri, Ara tungguin." Putus Yumna, kapan pria dewasa ini mau bersikap baik padanya. Tidak menganggapnya seperti musuh lagi.
__ADS_1
"Keluar Ara, aku tidak suka kau ada di sini!!" Bentak Guntur kasar, kenapa hidupnya harus sial bertemu dengan anak kecil ini.
"Abang galak," gumam Yumna menyendok makanan itu ke mulutnya sendiri.
Guntur menghela napas lelah, Yumna dimarahi bagaimanapun tidak mempan.
"Ini enak, coba Abang makan sedikit." Ujar Yumna menyodorkan sendok ke depan mulut Guntur.
"Kau mau aku kena rabies karena makan bekas mulutmu!!"
Yumna menghempaskan piring ke atas nakas, dia sudah tidak tahan mendengar Guntur terus memakinya. Gadis itu membungkam mulut Guntur dengan bibirnya, menggigit pelan di sana.
Guntur terbelalak, bibir yang menempel itu membuat jantungnya gladak gluduk. Darahnya berdesir panas apalagi saat Yumna menggigitnya. Sudah lama dia tidak merasakan sensasi seperti ini. Ada yang merespon aktif di bawah sana.
Ia lekas menyingkirkan tubuh Yumna dengan kasar. Menghapus bekas bibir gadis itu di bibirnya dengan telapak tangan.
"Keluar Ara!!" Usir Guntur dengan tatapan tajam.
"Iya, Ara pulang." Gumam gadis itu dengan mata berkaca-kaca.
"Aarrrkkkhhhh," Guntur berteriak frustasi setelah Yumna meninggalkan kamarnya. Gadis yang dianggapnya anak kecil itu sangat berani membuat tubuhnya panas dingin.
Untung dia masih waras, tidak terbawa suasana ingin mencicipi rasa bibir itu lebih jauh lagi. Guntur ke kamar mandi untuk menenangkan si kecil yang sudah dibuat Yumna bangun. Baru disentuh sedikit saja sudah tersengat listrik.
"Ara kau nakal!!" Geram Guntur frustasi. Otaknya terus memunculkan bayangkan wajah Yumna dengan balutan kimono waktu di kamar hotel, saat dia menolong gadis itu pertama kali.
Yumna kembali ke bawah dengan wajah lemas. "Daddy, ayo kita pulang. Ara capek," ucapnya lesu. Lalu berpamitan dengan keluarga Emran yang sudah banyak membantunya.
Sepanjang jalan gadis itu hanya diam. Yumna merasa malu karena diusir Guntur. Ia sudah menjatuhkan harga dirinya di depan lelaki itu.
Pasti Guntur menganggapnya perempuan murahan. Padahal itu sentuhan pertama yang pernah Yumna lakukan pada laki-laki.
"Ada yang sakit Sayang?" Tora menoleh ke kursi belakang, putrinya seperti tidak bersemangat.
"Apa mau ke rumah sakit dulu." Tora menduga ada bagian tubuh Yumna yang sakit setelah menyerang Brayen tadi.
__ADS_1
"No Daddy. Ara cuma ngantuk," jawab Yumna pelan. Tora mengangguk percaya saja, padahal hati Yumna yang sedikit sakit.