Gemuruh Cinta Sang Guntur

Gemuruh Cinta Sang Guntur
64. Vampir


__ADS_3

Sepasang pengantin baru itu tidak ada yang beranjak dari peraduan sampai melewatkan makan siang.


“Abang, Ara lapar. Perutnya kriuk kriuk,” ucap Yumna yang membuat Guntur terkekeh kecil pada gadis yang baru menjadi istrinya ini.


Eh bukan gadis lagi, karena ia sudah berhasil mengambil kegadisan istri kecilnya ini. Walau banyak drama yang harus Guntur lalui. Yumna menangis ketakutan saat dia berusaha menerobos gawang.


“Coba Abang dengar?" Guntur menempelkan telinganya di perut Yumna yang masih polos. Mereka masih berada di bawah selimut yang sama, "gak ada suaranya tuh.”


"Abaaang jangan bikin Ara geli lagi. Ara capek, lapar juga." Yumna menyingkirkan kepala sang suami yang sudah membuatnya tersetrum lagi.


"Kenapa kalau Abang dekat-dekat rasanya Ara kesetrum. Badan Abang ada aliran listriknya ya?"


"Masa sih Ara kesetrum," dengan usil Guntur mengusap-usap perut Yumna.


"Iya beneran, Ara kayak digelitiki." Yumna menyingkirkan tangan Guntur dari perutnya. Tapi pria yang baru berubah status jadi suami itu tidak berhenti mengusili sang istri.


"Abang, Ara beneran lapar." Rengek Yumna saat Guntur kembali mencumbuinya. Tentu saja tubuhnya merespon dengan sangat cepat, walau otaknya menolak.


"Beneran Ara lapar, tapi kenapa geliat-geliat mau gitu?" Goda Guntur dengan tertawa gelak.


Ia mengambil ponsel lalu memesan makan malam. Ternyata sudah jam sembilan, pantas saja Yumna kelaparan. Mana tenaganya sudah habis dia peras.


"Makanya Abang jauhin tangannya ihh," Yumna menggulung tubuhnya dengan selimut setelah menyingkirkan tangan Guntur. Suaminya itu sedang berbicara ditelepon jadi belum menyadari kalau dia bangkit dari kasur.


"Hei mau kemana Sayang," Guntur menarik selimut Yumna sampai selimut itu terlepas.


Yumna membelalakkan mata, sementara Guntur tersenyum penuh kemenangan menangkap istrinya kembali. Yumna tidak bisa berlari karena bagian intinya masih sakit. Bangun saja dia harus pelan-pelan.


"Ara mau mandi Abang, badan Ara lengket semua nih."


"Mandinya sama Abang," Guntur sudah mengangkat tubuh Yumna tanpa persetujuan.


"Gak mau, Ara malu."


"Ara malu?" Tanya Guntur semakin tertawa, "apa yang bikin Ara malu, hm. Abang sudah lihat semuanya Sayang." Katanya seraya menurunkan Yumna ke dalam bathtub.


Wajah cantik itu memberengut masam. Baru sehari bersama pria dewasa ini, dia sudah dibuat sangat malu.


Guntur terus menggoda istri kecilnya yang terkadang otaknya masih polos sampai acara mandi berdua itu selesai. Tidak lama setelah mereka selesai mandi makan malam datang.

__ADS_1


“Makan yang banyak biar cepat jadi dedek,” pria itu tersenyum lembut mengusap pipi Yumna.


“Ara takut hamil, Abang. Kuliah Ara aja masih belum lulus masa sudah gendong dedek.”


"Itu karena Ara suka bolos jadi gak lulus-lulus. Kalau Ara masih takut gapapa." Guntur membelai rambut sang istri dengan sayang.


"Dimasuki punya Abang yang sekecil itu aja sakit, gimana kalau ngeluarin kepala bayi Abang." Yumna bergidik ngeri membayangkannya. Sedang Guntur melotot tajam karena miliknya dibilang kecil.


"Punya Abang kecil? Jadi bisa main lagi dong." Tanya Guntur sambil memainkan alis menggoda.


"Ee-enggak, maksud Ara lebih kecil dari bayi. Ih Abang, masih sakit tahu." Yumna urung menyuap nasi ke mulut karena menanggapi ucapan Guntur.


"Gak mau lagi, hm?" Goda Guntur.


"Abang, Ara lapar ish diajak ngomong terus." Ketus Yumna, pipinya memanas mengingat apa yang terjadi tadi siang. Ia mengabaikan Guntur yang masih terus menggoda, menyuap nasi dengan lahap.


...💐💐💐...


Setelah tiga hari menginap di hotel mereka pulang ke rumah orang tua kandung Guntur. Guntur tidak bisa membawa Yumna bulan madu ke tempat yang jauh. Karena istrinya itu harus masuk kuliah.


"Abang, boleh nanti temani Ara bagi-bagi makanan buat anak jalanan." Pinta Yumna, sudah tiga minggu dia tidak membagikan makanan dari uang yang Geo tinggalkan. Biasanya dia ditemani Ammar kalau sang daddy sibuk.


"Ara gak tau kemana menyerahkannya, Abang."


"Nanti Abang antar."


"Beneran? Makasih Abang," Yumna berbinar cerah menghambur ke pelukan sang suami.


"Iya Sayang," Guntur tersenyum menyambut hangat pelukan itu. Setelahnya ia mengajak Yumna keluar kamar. Mereka sudah ditunggu untuk sarapan.


"Menantu Mama sudah keluar. Ayo sarapan Sayang," sambut Hasna.


Guntur bersyukur Yumna tidak akan merasa kehilangan kasih sayang mommy dan daddy-nya saat tinggal bersamanya. Karena kedua orang tuanya menyambut hangat kehadiran Yumna.


Yumna tersenyum duduk di samping Guntur. Dia diperlakukan seperti putri raja di rumah ini.


"Suamimu gak berbuat ulah kan Nak. Kalau dia macam‐macam kamu lapor aja sama Papa," ujar Rizal.


"Eemm itu, Abang suka gigit Ara di leher. Kayak vampir," adu Yumna. "Abang gak keturunanan vampirkan?" Tanyanya hati-hati takut salah bicara.

__ADS_1


Guntur membelalakkan mata, Hasna dan sang suami mengulum senyum melihat pipi putranya yang memerah seperti tomat matang.


"Bukan cuma vampir yang bisa menghisap darah seperti ini Sayang." Hasna menunjuk bekas kissmark di leher sang menantu.


"Oh Tuhan, habislah aku." Guntur mendesah frustasi karena lupa menyembunyikan bekas percintaannya di leher sang istri.


"Terus Abang ngapain Ara lagi?" Introgasi Hasna yang ingin sekali tertawa gelak tapi ditahannya.


"A-abang suka bikin Ara gak bisa napas dan kepanasan."


"Terus-terus, apalagi?" Hasna semakin bersemangat menggoda putranya yang sudah gelisah ditempat duduk.


"Abang itu, anu...."


"Ara makan Sayang," potong Guntur langsung menyuapi Yumna agar berhenti bicara. Bisa terbeber semua kegilaannya selama tiga hari ini kalau dibiarkan.


"Mama Papa jangan usil deh, bisa kebongkar semua aib rumah tangga." Decak Guntur, semoga istrinya itu tidak mengerti maksud ucapannya.


"Mama cuma nanya, gak usil kok. Gak sabar juga pengen nimang..."


Guntur langsung menggeleng, mengisyaratkan pada sang mama untuk tidak melanjutkan ucapannya.


"Enak?" Tanya Guntur untuk mengalihkan perhatian Yumna.


"Enak. Ara gak bisa masak kayak gini," ucapnya sendu.


"Jangankan masak, rebus air juga gosong."  Gumam Guntur dalam hati, untung sayang. "Gapapa, Ara bisa makan sepuasnya masakan Mama kalau pengen. Iyakan Mah?"


"Iya, Ara bisa makan apapun yang Ara suka. Kalau mau belajar masak, nanti Mama ajarin." Ujar Hasna yang diangguki Yumna dengan binar cerah.


Guntur tidak berharap banyak agar Yumna bisa memasak. Tidak membuat dapur berantakan saja itu sudah lebih baik.


...🐾🐾🐾...


Gak jadi tamat eh. Othor kembali lagi, berharap karya amatir ini banyak yang lihat🤣.


Tolong kasih Othor bunga buat sesajen Vampir Guntur.


Yang sudah baca cerita Babang Guntur sampai sini dan belum mampir ke lapak Babang Ghani bisa mampir dulu di cerita AJARI AKU MENCINTAIMU sambil ngopi atau ngeteh.

__ADS_1


Kha dan Ara itu hampir mirip cuma berbeda generasi dan isi otaknya 🤣.


__ADS_2