Gemuruh Cinta Sang Guntur

Gemuruh Cinta Sang Guntur
24. Brownies


__ADS_3

“Hei, mau kemana anak nakal!!” Seru Guntur. Ia masih sempat mengejar gadis yang membuntuti Anindi. Menarik kunciran rambut Yumna, sampai gadis itu meringis menahan rambutnya dengan tangan dan tertarik ke belakang.


“Jadi kau membawa kabur mobil Abangmu, heh!!”


Tidak ada satupun ucapan Guntur yang ditanggapi Yumna.


“Mbak tolongin Ara!!” Teriaknya nyaring, seperti sedang ditangkap penculik saja. Membuat heboh toko Anindi.


“Mbak gak ikutan Ara, selesaikan masalahmu sendiri saja.” Kekeh Anindi meninggalkan gadis yang mendengus dengan wajah manyun.


Yumna memasang tampang memelas pada Guntur, “Abang rambut Ara sakit. Lepasin please. Abang Ara traktir cake apapun yang Abang mau di sini.” Katanya memohon belas kasihan Guntur seperti membujuk anak kecil.


Guntur ingin tertawa tapi gengsi, pria itu masih memasang tampang sangarnya di hadapan Yumna.


“Beneran sakit Abang, nanti kepala Ara botak kayak Indro warkop.” Sebut gadis itu, Guntur menarik Yumna untuk mundur. Mengembalikannya ke meja, pesanan gadis itu sudah tiba di sana.


“Tadi malam berduaan sama siapa di ruangan tertutup, hm?” tanya Guntur yang sudah tidak bisa mengabaikan rasa penasarannya.


Yumna membulatkan mata, “Abang menguntit Ara ya?” tuduhnya.


“Jangan-jangan Abang suka sama Ara, tapi gengsi bilangnya. Gak papa kok gak perlu gengsi, bilang aja. Ara sudah sering nolak cowok, dari yang mukanya ganteng sampai yang mukanya standar.” Gadis itu berceloteh panjang.


“Pletak!!”


Guntur menjentik kening gadis itu karena sebal. Pertanyaannya apa, jawabannya apa.


“Abang sakiiit,” rengek Yumna manja.


“Aku bukan Abangmu!!” Sarkas Guntur lalu pergi ke ruangan Anindi.


Yumna memanyunkan bibir sambil mengusap-usap keningnya yang terasa panas. “Coba Ara gak punya pacar. Sudah Ara bikin Om bucin sama Ara, terus Ara tinggalin nikah sama orang lain!!” Pekik Yumna dalam hati sambil melahap cake yang ada di hadapannya.


“Itu lagi kesal apa senang sih disamperin om-om ganteng,” goda Mita usil.


“Coba Mbak ulang lagi, Om ganteng?” Yumna memasang tampang seperti ingin muntah.

__ADS_1


“Iya ganteng kalau dilihat dari puncak monas pake lubang sedotan!!” seru Yumna masih kesal.


“Masih nakal ya, mulutnya ini memang mau dikasih pelajaran.” Guntur tigak segan-segan membekap mulut gadis itu dengan cake yang ada di tangannya.


“Astaga Guntur, itu brownies Mama kenapa malah dijadikan korban!!” Seru Anindi melotot melihat wajah Yumna belepotan dengan brownie kukus yang masih hangat. Khusus ia buatkan untuk ibu mertuanya.


“Brownies bisa bikin lagi!” sahut Guntur tenang.


“Ara gak bisa nafas, huuhh!!” Pekik gadis itu, Mita mengambilkan tissue membantu membersihkan brownies yang menempel di hidung Yumna.


“Keterlaluan kamu Guntur, kesal gak harus main fisik juga!!” Omel Anindi, membawa Yumna ke kamar mandi untuk membersihkan wajahnya.


Guntur mengendikkan bahu lalu melengos pergi.


“Abang kenapa jahat sama Ara, Mbak. Ara salah apa?” Gumam Yumna setelah selesai membersihkan wajah.


“Jangan kamu ambil hati, Guntur gak sejahat itu kok. Buktinya masih mau menolong Ara kan?” Ujar Anindi membawa gadis itu ke ruangannya, ia meminta Mita untuk mengantarkan makanan Yumna tadi.


“Tapi Abang benci banget kayaknya sama Ara,” Yumna menghabiskan minuman dingin yang ada di hadapannya. Pagi-pagi hawanya sudah panas.


“Geo,” gumamnya langsung menjawab video call dari sang kekasih.


“Sayang, kamu di mana. Gak ke kampus lagi hari ini?” tanya Geo sudah seperti baby sitter Yumna. Gadis itu menyengir lebar pada Geo dari layar ponsel.


“Aku gak mau ngomong sama daddy-mu, kalau kamu masih suka bolos kuliah!" Tegas Geo, sangat hapal kalau pacarnya menyengir lebar seperti itu sudah pasti tidak akan mau menurut.


“Nanti aku kuliah, tapi gak hari ini. Lagi mager ih!” Seru Yumna dengan tampang memelas.


“Kamu kebanyakan mimpi kalau mau daddy-mu merestui kita. Kamunya aja malas-malasan gini. Nanti dikira aku yang ngajarin kamu,” ucap Geo. Dia menyerah membujuk Yumna agar segera menyelesaikan kuliah dan cepat wisuda.


“Sayang, hari ini aja aku bolos. Besok kuliah kalau ingat,” sahut Yumna dengan cengiran.


Anindi yang mendengar perbincangan itu menggeleng pelan, gadis ini sungguh keras kepala. Suka semaunya sendiri.


“Aku mau habiskan ini dulu,” Yumna mengangkat piring yang berisi cake agar terlihat oleh sang pacar. “Setelah itu mau test drive mobil Abang,” sebut Yumna yang membuat Geo memberikan tatapan tajam.

__ADS_1


“Kalau mau aku bicara sama daddy, batalkan keinginanmu itu Minara Yumna Damanuri!!” Tegas Geo, dia saja yang mengkhawatirkan. Yang punya diri tidak sadar sama sekali.


Gadis itu lagi-lagi memanyunkan wajah cemberut sebagai senjata andalannya.


“Kalau kamu tidak menurut juga aku tidak akan menghubungimu lagi!!” Ancam Geo yang membuat Yumna tak berani berkutik.


“Iya Ara nurut!!” Ucap gadis itu kesal.


Di seberang sana Geo tersenyum kecil. “Anak pintar,” pujinya.


“Lanjutkan makannya, aku mau kerja dulu. Ingat jangan sampai melanggar janji!!” Peringat Geo sebelum mematikan sambungan telepon.


Gadis itu meletakkan ponselnya dengan kasar ke atas meja, Anindi mengernyit bingung. Mood anak ini sangat mudah berubah.


"Mau senang-senang aja serba gak boleh!!" Gumam Yumna meludeskan cake di piringnya dalam sekejap.


"Ya jelas gak boleh, kamu mau ngebut-ngebutan. Dia itu khawatir sama kamu, kamunya aja yang gak sayang sama diri sendiri." Nasehat Anindi lembut.


"Ara bingung," sebut Yumna sendu.  "Sampai kapan harus menjalani hubungan yang tidak di restui daddy ini."


"Tanda-tanda seseorang itu jodoh kita, Allah akan memudahkan segala urusan menuju halal termasuk restu." Anindi tersenyum menepuk pundak Yumna lembut.


"Apa itu artinya Geo bukan jodoh Ara?"


"Tidak ada yang tau perihal rahasia jodoh. Mungkin Allah sedang menguji keseriusan cinta kalian. Kalau memang takdir kalian bersatu, Allah pasti memberikan jalan yang tidak pernah kamu duga. Kamu hanya perlu bersabar dan berdoa, mudah bagi Allah untuk melembutkan hati daddy-mu."


"Cintai manusia hanya sekedarnya apalagi kalau belum halal. Agar kita mudah menerima jika takdir Allah nanti tidak sesuai yang kita inginkan. Berharap dengan manusia sering membuat kita kecewa," Anindi menatap Yumna teduh.


"Kejutan dari Allah itu kadang awalnya tidak selalu menyenangkan. Tapi percayalah, takdir yang Allah tuliskan itu selalu yang terbaik." Lanjut Anindi,  iamenasehati Yumna dengan penuh kelembutan.


Yumna merentangkan tangan minta di peluk, wanita hamil itu langsung menyambutnya. Selama ini ia tidak pernah diberitahu hal yang seperti itu. Yang Yumna dapat hanya kemewahan materi dan ilmu dunia saja.


"Kalau Ara tidak kabur dari rumah. Ara gak akan ketemu orang baik seperti kalian," ucap Yumna pelan.


"Itulah takdir pertemuan kita Ara," Anindi mengusap-usap punggung gadis itu. Dia tidak tau ada berapa banyak misteri yang gadis ini miliki. Yang awalnya dia temukan dalam keadaan menyedihkan, sampai keahlian yang Yumna miliki dalam menghadapi musuh. Kalau orang tidak tau mungkin hanya akan menganggapnya gadis manja yang tidak tau apa-apa.

__ADS_1


__ADS_2