Gemuruh Cinta Sang Guntur

Gemuruh Cinta Sang Guntur
92. Menculik


__ADS_3

"Masih sakit Sayang?" Guntur membangunkan sang istri, memeluk pelan tubuh mungil itu dari belakang.


Yumna menggeleng, "Ara kangen Abang," rengeknya semakin beringsut dalam pelukan lelaki yang sangat ia rindukan.


Sagara mengamati dari luar pertemuan dua orang itu. Bibirnya mengulas senyum melihat  kemanjaan sang adik. Dialah yang memanggil Guntur setelah sang mommy berhasil membawa daddy-nya pulang.


Ya semua ini tanpa sepengetahuan Tora. Sagara tidak tega mendengar adiknya yang terus merengek meminta agar Guntur datang.


Ia tidak mau mengikuti daddy-nya untuk memisahkan Yumna dari orang yang dicintainya lagi. Cukup sekali Sagara menyesali kebodohannya saat melihat sang adik hancur ditinggalkan Geo. Penyesalan yang terus menghantuinya selama berbulan-bulan.


"Abang juga kangen Ara, Sayang." Katanya seraya mengusap lembut rambut sang istri, mencurahkan seluruh kasih sayangnya.


"Ara gak mau pisah sama Abang. Ara mau ikut kemanapun Abang pergi. Ara gak mau tinggal sama Daddy. Daddy jahat!"


Guntur tidak menjawab, dia juga inginnya begitu selalu bersama sang istri. Untuk menemui Yumna sekarang saja ia harus diam-diam.


"Abang," rengek Yumna saat Guntur tak kunjung menjawab.


“Ara di rumah sakit dulu sampai sembuh ya Sayang. Baru nanti ikut Abang,” bujuk Guntur.


“Ara mau Abang disini malam ini, jangan tinggalin Ara pulang. Kalau Abang pulang, Ara mau ikut.”


“Istri Abang ini pintar, nurut ya Sayang.” Guntur menciumi pipi mulus yang beberapa hari ini sangat dirindukannya, perempuan hamil itu menggeleng tegas.

__ADS_1


Ia bisa saja memindahkan perawatan Yumna ke rumah, tapi itu akan membuat ayah mertuanya semakin murka. Guntur hanya ingin menghindari pertengkaran dengan keluarga sang istri.


“Oke Abang temani Ara disini,” pria itu membaringkan sang istri dengan pelan setelahnya ia duduk di kursi tanpa melepaskan gengangan tangan Yumna.


Guntur menemani Yumna sampai tertidur. Ditatapnya lekat wajah cantik yang masih terlihat pucat itu, memar-memar bekas pukulan sudah berkurang.


"Bawa Ara pulang malam ini, biar aku yang mengurus Daddy." Ucap Sagara yang sudah berdiri di samping Guntur.


"Tapi Ga, itu akan membuat kalian bertengkar nanti." Tentu saja Guntur tidak ingin ada keributan lagi, yang akhirnya bisa membuat Yumna semakin tertekan.


"Cukup sekali aku melihat Ara seperti orang gila Guntur, dan aku tidak ingin melihat itu lagi karena keegoisan Daddy. Bawalah pulang," Sagara mengecup kening sang adik dengan penuh kasih sayang.


Biar dia yang jadi sasaran kemarahan sang daddy, asal Yumna bisa bahagia bersama orang yang dicintainya.


*


*


*


"Kenapa jadi menculik putri orang?" Emran berdecak sambil geleng-geleng kepala.


"Menculik istri sendiri Pah," ralat Ghina.

__ADS_1


"Baguslah, biar Tora kebakaran jenggot kehilangan putri kesayangannya. Dan penculiknya ternyata sang menantu sendiri, biar dramatis kayak sinetron!!" Seru Ghina dengan menggebu-gebu yang membuatnya mendapat tatapan tajam dari sang papa.


"Astaga aku salah apa?" Gumam Ghina bersembunyi di balik punggung sang suami.


"Salahmu banyak bicara," beritahu Zaky dingin. Ia menatap Ghina datar, sedang tidak mood bercanda.


Ghina ingin protes tapi langsung menciut saat mendapat pelototan dari suami tersayangnya.


"Ke kamar Sayang!" Perintah Zaky serius, ada istrinya disana membuat otaknya tambah semrawut saja. Tidak tahukah istrinya ini, kalau sebentar lagi Tora pasti akan membuat keributan.


Mira menahan tawa melihat wajah masam sang putri. Jarang-jarang Zaky bersikap tegas dengan istrinya di depan mereka.


Sementara di kamar Guntur tersenyum simpul menyelimuti istrinya yang tertidur sangat nyenyak sampai tidak tau kalau sedang dia culik.


"Kalau Tora tau kamu membawa putrinya pulang, dia pasti akan menyerang kesini." Emran tidak mengerti dengan jalan pikiran Guntur yang tidak mau bersabar. Andai putranya itu bersabar dia pasti bisa membawa Yumna pulang dengan cara baik-baik.


"Aga yang menyerahkannya padaku Pah. Ara gak mau ditinggal."


Emran menghela napas dengan kasar mendekati menantunya yang tertidur lelap, "bagaimana kandungannya?" Tanyanya seraya mengelus puncak kepala perempuan hamil itu.


Ia juga tidak bisa menyalahkan Guntur, sudah seharusnya seorang istri berada disisi sang suami. Apalagi menantunya ini manjanya luar biasa.


"Kandungan baik Pah, mereka kuat." Saat melihat istrinya kritis Guntur tidak berani berharap banyak pada janin yang ada dalam kandungan Yumna. Istrinya masih bisa bernapas saja itu sebuah keajaiban untuknya.

__ADS_1


"Kamu pasti sudah tau resiko membawanya pulang."


Guntur mengangguk pelan, apalagi kalau bukan keributan.


__ADS_2