
"Sayang bangun, sarapan dulu." Guntur menepuk pipi sang istri dengan lembut.
"Kepala Ara pusing," Yumna membuka mata perlahan sambil memegang kepalanya yang berat.
"Abang bantu cuci muka Sayang." Guntur menggendong istrinya ke kamar mandi, setelahnya menyandarkan Yumna di kepala ranjang. Ia sudah menyiapkan bubur saat menyadari wanitanya demam.
Tora datang bersama dokter keluarga untuk memeriksa keadaan putrinya, disusul sang istri. Mereka berbincang sebentar sambil mengunggu Yumna selesai sarapan.
"Abang bilang Ara sakit sama Daddy?" Yumna melirik kearah dokter keluarga yang sudah lama mengabdi pada keluarga mereka.
"Iya Sayang, gak mungkinkan dokter tahu keadaan Ara tanpa dipanggil." Jawab Guntur dengan kekehan kecil sambil menyuapi sang istri.
"Ara ini gak sakit Abang, cuma pusing."
"Oh ya, awas ya nanti ngeluh sakit. Abang gak mau nolongin."
Yumna langsung mengerucutkan bibir, "Ara gak akan minta tolong. Ara cuma mau dimanja," ucapnya genit.
"Gak ada bedanya Sayang." Guntur tersenyum geli, membersihkan bibir Yumna dengan Tissue setelah kegiatan makan itu selesai.
"Sekarang Ara periksa dulu, hari ini gak usah ke kampus." Ucapnya seraya merapikan rambut sang istri yang berantakan. Ia mundur memberikan dokter akses untuk memeriksa Yumna ditemani ibu mertuanya.
"Hanya kelelahan dan kurang cairan. Kemungkinan sedang hamil, sebaiknya segera diperiksa ke dokter kandungan untuk memastikan kehamilannya." Ujar sang dokter, Yumna yang ingin berteriak langsung menutup mulut melihat tatapan sang daddy.
__ADS_1
Setelah selesai memeriksa Yumna dan memberikan resep, dokter itu pulang diantarkan Tora.
"Daddy masih marah?" Tanya Yumna pada sang Mommy menutupi kepanikannya setelah mendengar pernyataan dokter tadi.
"Daddy gak akan marah, apalagi setelah tahu kamu hamil." Jawab Ayumi bersemangat, sebentar lagi dia akan memiliki cucu.
"Boleh tinggalkan aku berdua sama Abang Mom," pinta Yumna.
"Of course Sayang," Ayumi yang paham putrinya ingin bermanja-manja langsung meninggalkan kamar tersebut.
Guntur mendekat dan memeluk Yumna, "Ara senang atau takut?" Dari detakan jantung yang terdengar pun dia bisa mengetahui kalau istrinya sedang cemas.
"Ara takut banget Abang," lirih Yumna. "Boleh Ara gugurkan," ucapnya pelan tapi ternyata masih bisa didengar oleh sang daddy yang masuk ke kamarnya.
"Minara Yumna!!" Teriak Tora, dia yang tadinya sudah tidak marah jadi emosi kembali mendengar keinginan putrinya mengugurkan janin yang tidak berdosa.
"Sebaiknya Daddy tenangkan diri di luar dulu," ucap Guntur serius. Istrinya semakin ketakutan dengan adanya sang mertua disini.
Ia sudah menanyakan perihal ini pada dokter bersangkutan walau tidak membawa Yumna langsung. Dokter bilang penderita tokophobia memang akan merasakan ketakutan yang tidak rasional dan tidak masuk akal pada kehamilan
"Ada Abang di sini Sayang," Guntur menciumi puncak kepala sang istri walau masih ada mertuanya di kamar.
"Daddy tunggu kalian di bawah." Tora mengusap wajah kasar meninggalkan kamar putrinya.
__ADS_1
"Keras kepala, pantas saja menurun pada putrinya." Decak Guntur dalam hati, sudah tau putrinya sakit masih disuruh ke bawah.
Inilah yang Yumna tidak suka. Walau dia tidak pernah kekurangan kasih sayang di rumah. Tapi daddy-nya sangat keras kalau melarang atau menginginkan sesuatu.
"Ara mandi dulu, Abang gak cium bau asem dari tadi, hm?" Godanya seraya melepaskan diri dari pelukan sang suami.
"Ara bisa, Ara gak boleh takut." Gumamnya meyakinkan diri sendiri.
"Ara masih sakit Sayang, biar aja bau asem." Tahan Guntur, "cukup sisiran jangan mandi." Ujarnya mengambil sisir merapikan rambut sang istri setelahnya mereka ke bawah menemui sang daddy.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
.