Gemuruh Cinta Sang Guntur

Gemuruh Cinta Sang Guntur
86. Misi Balas Dendam


__ADS_3

“Apa? Lima puluh persen hasil dari saham Geo di F-Jewelry disumbangkan ke Yayasan setiap bulannya?” Pekik ibu kandung Geo, tidak terima hasil jerih payah putranya selama ini harus dinikmati oleh orang lain.


“Bukan milik Geo lagi Mah, pemilik saham itu atas nama Minara Yumna Damanuri sekarang. Jadi terserah dia mau menggunakannya untuk apa.” Ralat Ferdinand, “bagus dong kalau untuk Yayasan. Pahalanya pasti juga akan mengalir untuk Geo.”


“Tapi Pah, yang susah payah membangun bisnis itu Geo bukan gadis sialan itu!” Decak sang istri masih belum rela.


“Cukup mendebat Mah, dan kamu Leo.” Ferdinand menatap tajam putranya yang sedari tadi diam, “kalau sampai Papa mendengar kamu menyakiti gadis itu lagi. Kamu akan tahu sendiri akibatnya.”


“Jadi Papa lebih membela orang lain dari pada anak Papa sendiri.”


“Anak?" Tatanya dengan senyuman sinis. "Aku tidak punya anak yang membunuh saudara kembarnya sendiri tanpa rasa bersalah!!” Sarkas Ferdinand lalu pergi. Sudah muak bersabar menghadapi anak dan istrinya itu.


“Kamu juga, kenapa tidak pernah berhasil membunuh Yumna.” Perempuan paruh baya itu mendelik, meluapkan kekesalan pada Leo. “Gunakan otakmu Leo!!” desisnya sangat kesal.


“Kalau Mama tidak sabaran bunuh saja sendiri!!” Cetus Leo, dipikir membunuh orang semudah itu.

__ADS_1


“Dasar anak durhaka!!”


“Mama juga, istri durhaka.” Sarkas Leo tidak mau kalah, kemudian kabur sebelum diamuk sang mama.


...🪴🪴🪴 ...


“Tangkap, bawa ke mobil!!” Perintah Brayen saat Guntur lengah mengawasi istrinya yang sedang membagikan makanan di perkampungan kumuh. Ia mengamati dari kejauhan wanita cantik yang bertubuh mungil itu selalu ceria.


Bibirnya tersenyum tipis saat anak buahnya berhasil membawa Yumna tanpa Guntur ketahui. Brayen langsung meninggalkan tempat itu menyusul anak buahnya.


Setelah menempuh perjalanan selama satu jam akhirnya mereka sampai di kediaman Brayen yang tidak akan bisa dilacak oleh Tora maupun Emran. Perempuan hamil itu masih dalam pengaruh bius, ia memasukkan Yumna ke kamar yang sudah memiliki pengamanan ketat dan merantai kedua tangannya ke ranjang.


Perempuan itu tidak bisa diremehkah, meskipun tubuhnya kecil tapi bisa melumpuhkan musuhnya dengan otak dan tenaganya.


Yumna tersadar dari pingsannya dengan tangan yang di rantai dan tidak tau dimana sekarang berada. Tadi dia masih bersama sang suami membagikan makanan.

__ADS_1


"Abang," lirih Yumna. “Sial siapa yang menangkapku!!” umpatnya dalam hati. Pasti suaminya sekarang sedang kebingungan mencari keberadaannya.


Istri Guntur itu kembali pura-pura tertidur saat mendengar suara bariton sepatu yang mengarah kekamarnya.


“Brayen,” desisnya ketika mengintip lelaki yang masuk bersama dua anak buahnya.


“Masih tidur, biarkan saja jangan menyakitinya. Aku akan menyiksanya perlahan sebelum membunuhnya.” Ujar Brayen yang tidak tau kalau Yumna berseru senang dalam hati.


“Bagus, sebelum kau membunuhku. Aku yang akan membunuhmu terlebih dulu. Inilah kesempatan untukku menghabisimu tanpa susah payah mengatur strategi. Sebentar lagi misi balas dendamku akan tercapai.”


Sementara di perkampungan kumuh Guntur panik kehilangan istrinya, tidak ada siapapun yang tau kemana Yumna pergi. Dia sudah mengelilingi tempat itu tapi tidak menemukan sang istri.


Tadi istrinya itu masih ada kerumunan anak-anak, tapi anak-anak disana juga tidak ada yang tau kemana perginya Yumna saat dia tanya.


“Daddy Ara hilang! Bantu aku menemukan Ara,” Guntur terpaksa menghubungi mertuanya. Ia sangat yakin semua ini ada hubungannya dengan Brayen dan Leo. Hanya mertuanya yang tau seluk-beluk dua lelaki itu.

__ADS_1


“Hilang!! Bagaimana bisa Ara hilang saat bersamamu Guntur!” Teriak Tora dari seberang telepon atas kecerobohan menantunya.


"Aku tidak tau, tiba-tiba Ara menghilang. Tidak ada satupun yang melihatnya." Jelas Guntur dengan lemas, semua terjadi karena kelalaiannya menjaga Yumna.


__ADS_2