
Ketukan di pintu berkali-kali membuat Guntur dengan sangat terpaksa untuk bangun disaat nyaman-nyamannya memeluk sang kekasih. Ia bergegas mengenakan kaos dan boxer seadanya lalu merapikan selimut Yumna.
“Guntur!!” Tora menggeram marah melihat putrinya terkelumbun selimut. Tentu saja dia tahu dengan apa yang baru saja terjadi. “Kau apakan Ara?” teriaknya tertahan.
“Aku ya itu,” Guntur menggaruk kepala bingung harus menjelaskan apa. Apa salah dia meniduri istrinya sendiri, kan bukan istri orang lain.
“Ara masih sakit dan kandungannya masih lemah kau masih saja menyerangnya. Mau membahayakan janinnya hah!!” Tora semakin murka pada Guntur, kalau bisa dia pecat dari menantu akan dia pecat saja.
“Mas, kenapa teriak-teriak. Baru juga sampai sudah marah-marah,” tegur Ayumi yang baru menyusul suaminya setelah berbincang sebentar dengan Mira.
“Lihat menantu tersayangmu itu, Ara masih sakit sudah diajak tempur.”
“Guntur!!” Seru Ayumi, melotot tajam pada menantunya lalu mendekati sang putri.
“Perempuan hamil itu memang gak akan bisa menolak kalau diajak. Kamu bisa membahayakan janinnya Guntur,” omel Ayumi.
“Tidak hamil juga mana pernah Ara menolak, malahan Ara yang mengajaknya lebih dulu.” Sahut Guntur dalam hati. Kenapa sih mereka khawatirnya terlau lebai dan berlebihan. Ia melakukannya dengan pelan-pelan dan penuh kelembutan.
“Ara, Mommy datang Sayang. Supnya dimakan dulu mumpung masih hangat.” Ayumi menepuk pipi putrinya pelan.
“Mom disini?” tanya Yumna dengan mata masih terpejam, entah sudah bagun atau masih setengah sadar.
“Mom jangan ganggu Ara ih, Ara mau manja-manja sama Abang berduaan di kamar. Ara gak mau sup,” celetuk Yumna tanpa sadar mengibas-ngibaskan tangan mengusir sang mommy.
“Ara mau makan sup buatan Mommy kan Sayang?”
__ADS_1
“Enggak, Ara gak mau sup. Ara cuma mau Daddy pulang, biar gak ganggu Ara sama Abang dan biar gak marah-marah terus. Ara pusing denger Daddy marah,” sahut Yumna dengan lancar.
"Ya Tuhan, kenapa mulutnya sejujur itu kalau sedang tidak sadar." Guntur menepuk jidat, istrinya ini menambah masalah hidupnya saja.
“Jadi Ara bohongin Daddy?” Tanya Tora kesal dan sekaligus lucu mendengar pengakuan sang putri. Kepala mungil itu mengangguk kekanan dan kekiri.
Guntur mendesah berat apalagi saat Tora melotot tajam padanya. “Ara yang mau Daddy, Daddy dengar sendirikan apa yang dikatakannya.”
Ia membuat pembelaan sebelum mendapat serangan dari sang mertua. Kalau diomeli tidak masalah, yang jadi masalah itu kalau istrinya dipaksa pulang. Guntur mendekati Yumna kemudian berbisik, “Ara bangun Sayang, Daddy dan Mommy ada disini.”
“Daddy, Mommy!!” Pekik Yumna, hampir saja selimutnya melorot kalau tidak ditahan Guntur karena perempuan hamil itu mendadak bangun.
Yumna memasang tampang lugu saat mommy dan daddy-nya melotot tajam padanya. “Mereka kenapa?” bisiknya pada sang suami.
“Kamu kebanyakan ngomong," Guntur menggulung tubuh Yumna yang masih belum mengenakan apapun dengan selimut. Tentu saja Yumna tidak mengerti dengan apa yang dikatakan suaminya.
"Enggak, kata siapa? Ara malahan nungguin dari tadi. Mana mungkin Ara bohongin Daddy, sup buatan Mommy yang terlezat." Ujar Yumna dengan wajah meyakinkan sambil meringis dalam hati. "Apa aku tadi ngelindur lagi?"
Ayumi tertawa saja melihat suaminya yang tadi kesal jadi tersenyum tipis. "Kalau sup Mommy yang terlezat ayo dimakan dulu."
"Tentu saja, Abang suapin Ara please. Tangan Ara hilang habis bunuh Brayen," ucapnya asal kemudian tertawa.
"Yeay akhirnya Ara bisa bunuh Brayen!" Soraknya girang.
"Sayang, gak boleh ngomong gitu." Guntur menggeleng tegas. "Ayo makan," katanya sudah siap menyendokkan sup.
__ADS_1
"Abang makan dulu baru Ara," Yumna menyandarkan kepala ke bahu sang suami. Suaminya itu belum sarapan dari pagi. Jangankan sarapan keluar kamar saja tidak ada.
Guntur menurut saja setelah menyuap untuk diri sendiri baru menyuapi sang istri.
Kalau melihat kemanjaan Yumna seperti itu, mana bisa Tora memisahkan putrinya yang sangat lengket dengan Guntur.
"Mom cium," pinta Yumna menyodorkan pipinya setelah selesai makan.
Ayumi mencium pipi kanan dan kiri Yumna sambil tersenyum geli.
"Mommy gak mau meluk Ara?" Katanya lagi, hanya bisa menggerakkan kepala.
Guntur tertawa melihat istrinya yang seperti kepompong kepanasan.
"Ara gak ada mandi sudah tiga hari, Mommy gak mau meluk." Tolak Ayumi sontak membuat Yumna mengerucutkan bibir.
"Abang mau tuh, nyium Ara lagi. Padahal Ara gak ada sikat gigi."
Guntur spontan membelalakkan mata, "Ara berapa hari gak sikat gigi?" Tanyanya syok.
"Berapa hari Mom?" Yumna tanpa dosa menoleh kearah Ayumi. Perempuan paruh baya itu mengangkat tiga jarinya.
"Tiga hari kata Mommy," sebut Yumna.
"Sayang, kenapa Ara gak bilang?" Guntur mengusap wajah frustasi sambil bergidik ngeri saat membayangkan bibir yang diciumnya tadi tidak gosok gigi selama tiga hari.
__ADS_1
"Abang gak nanya," jawab Yumna santai.
"Rasakan!!" Tora tertawa puas melihat wajah kecut menantunya.