Gemuruh Cinta Sang Guntur

Gemuruh Cinta Sang Guntur
95. Drama Lagi


__ADS_3

“Kamu harus istirahat total jangan kebanyakan tingkah lagi,” peringat Rizal sambil menyuntikkan jarum infus ke tangan Yumna.


"Awww sakiiit," rengek Yumna dramatis.


"Jangan banyak bergerak!!" Larang Rizal.


“Ara bergerak juga gak boleh, hm?” tanyanya dengan wajah merana. Pria paruh baya yang berprofesi sebagai dokter itu menggeleng tegas.


“Kalau bisa tangan dan kakinya juga diikat,” ujar Rizal diikuti kekehan kecil menepuk pelan tangan menantunya setelah selesai memasangkan infus.


"Pah, Ara gak gila sampai harus diikat segala." Rengut Yumna masam.


“Ara sudah sadar?” tanya Emran dan Tora yang datang bersamaan. Mereka serentak menatap ke arah pintu tanpa memberikan jawaban.


“Astaga kenapa mereka masuk ke kamar ini lagi!” Guntur mendesah dalam hati, ingin protes tapi takut kena kutukan dari papa dan mertuanya.


Tora mendekati putrinya dan langsung memeluk. "Maafin Daddy Sayang, Daddy sayang Ara. Daddy cuma gak mau Ara terluka," ungkapnya tulis.


Wanita hamil itu mengangguk kecil, mengedipkan mata pada sang suami dengan senyuman nakal.


Rizal yang melihat itu ingin sekali menjitak kepala Yumna. Kalau mereka ketahuan sedang berbohong dia tidak bisa marah-marah lagi. Yang ada Emran dan Tora akan marah padanya.


“Ara mau tinggal disini Daddy,” ucap Yumna pelan setelah Tora mengurai pelukannya.

__ADS_1


“Tinggal sama Daddy aja ya Sayang. Daddy janji gak akan marah-marah sama Ara lagi.” Tora tidak menyerah membujuk putrinya. Berat hatinya untuk melepaskan Yumna jauh darinya lagi. Ia takut putrinya itu kenapa-kenapa.


Guntur mengumpat dalam hati, kalau saja Tora bukan ayah mertuanya mungkin sudah dia ajak gelut.


“Enggak, Ara gak mau tinggal sama Daddy. Ara mau sama Abang.” Kekeuh Yumna, sekarang bisa dilihat antara ayah dan anak siapa yang paling keras kepala.


“Ya sudah Ara boleh tinggal disini,” putus Tora masih menatap Guntur dengan aura permusuhan. Si empunya hanya tersenyum simpul.


"Ara sarapan dulu," Emran mendekati menantunya dengan membawakan bubur.


"Mereka kenapa?" Yumna meringis melihat dua orang tua yang saling bersaing memperhatikannya. "Ara gak mau bubur Pah, Ara maunya bakso," tolak Yumna.


"Bakso gak bagus buat sarapan Sayang, Ara juga masih belum sembuh." Guntur memberitahu dengan lembut.


"Sekarang Ara sarapan dulu. Baru nanti siang kita makan bakso," bujuk Guntur.


"Ara gak mau bubur, Ara maunya sup buatan Mommy." Pinta Yumna semakin menjadi-jadi, dalam hatinya dia hanya ingin ditinggalkan berduaan dengan sang suami. Ingin mengusir mereka semua tapi tidak enak hati.


"Drama lagi!" Gumam Guntur, tadinya ia pikir Yumna sedang mengidam tapi ternyata hanya untuk mengusir daddy-nya dari rumah ini.


"Daddy minta Mommy untuk membuatkan supnya ya Sayang." Tora percaya saja kalau itu keinginan cucu dalam perut putrinya. Padahal cuma akal-akalan Yumna saja.


"Makasih Daddy," Yumna berucap dengan senyuman manis.

__ADS_1


Satu orang sudah berhasil ia singkirkan. Bukan satu, karena sang daddy juga mengajak abangnya ikut serta. Yang kemudian disusul ayah mertuanya karena harus segera ke rumah sakit.


"Ara makan sedikit dulu baru minum obat, nanti kalau supnya sudah datang makan lagi." Bujuk Emran, saat hanya tinggal mereka bertiga yang ada disana.


Yumna mengangguk kecil menurut untuk makan bubur beberapa sendok dan meminum obat yang diberikan Papa Emran.


"Sekarang Ara istirahat sambil menunggu Daddy datang," Emran menepuk puncak kepala Yumna pelan lalu beranjak ke luar kamar.


"Akhirnya mereka semua pergi," gumam Yumna dengan senyuman cerah membaringkan kepala dengan manja di pangkuan Guntur.


"Mereka gak ngerti banget Ara tuh mau manja-manja sama Abang."


Guntur menanggapi dengan senyuman sambil mengelus-elus di pipi. "Abang gak mau Ara suka bohong ya. Abang tau Ara cuma sengaja mau mengusir Daddy pulang dengan alasan mau makan sup buatan Mommy."


Yumna menyengir lebar, "tentu saja. Ara kan sudah bilang mau manja-manja sama Abang. Gak mau diganggu."


"Tapi gak boleh gitu Sayang, ingat Ara lagi hamil. Gak baik suka bohong gitu, siapa yang ngajarin Ara bohong?"


"Ara lupa kalau lagi hamil Abang, gak berasa." Perempuan hamil itu semakin menyengir lebar.


"Ara kalau Abang kasih tau dengar?" Tanya Guntur serius dengan nada dingin.


"Dengar Abang, telinga Ara masih menempel disini dan masih berfungsi dengan baik." Decak Yumna menunjuk telinganya, "dahlah gak jadi manja-manjanya." Ketusnya menurunkan kepala dari pangkuan sang suami. Ia cuma mau melepas rindu malah diomeli.

__ADS_1


__ADS_2