
“Araaaa!!!” Teriak Guntur, menarik tubuh gadis yang hampir tertabrak mobil itu dalam pelukannya.
“Kau ini kenapa suka sekali melamun hah!! Ngerti bahaya gak sih!” Seru Guntur setelah melepaskan tubuh Yumna dari pelukannya.
“Ara gak melamun, mobilnya aja yang gak lihat jalan. Ara sudah jalan di pinggir,” ucap Yumna sambil menggembungkan pipi karena dimarahi.
Guntur membawa Yumna duduk di emperan toko. Lalu membelikan minuman dingin.
“Minum dulu!!” Ujarnya ketus, membukakan tutup botol air mineral.
“Abang, airnya kok ada manis-manisnya kayak muka Ara.” Yumna tersenyum lugu ke arah Guntur setelah meminum air dari botol itu. Laki-laki itu mencebikkan bibir mendengarnya.
“Coba deh Abang cobain,” katanya menyodorkan air pada Guntur.
“Ogah!!”
“Ih, Abaaang. Kenapa sih judes terus, Ara cuma nyuruh Abang minum. Tuh abang keringetan pasti haus, Ara ini bukan nyuruh Abang menyatakan cinta jadi gak perlu dimasam-masamin gitu mukanya. Muka Abang itu udah kecut, gak enak di pandang.” Celetuk Yumna yang membuat si empunya semakin mendelik tajam.
“Eh, sudah berani protes ya!!” Guntur mencubit kesal pipi Yumna dengan sekuat tenaga. Sampai pipi putih mulus itu menunjukkan kemerah-merahan.
“Sakiiit,” rengek Yumna manja.
“Gak usah manja-manja gitu juga,” Guntur mengambil botol di tangan gadis itu menempelkannya di pipi Yumna bergantian.
“Makasih,” gumam Yumna dengan senyuman yang sangat manis.
“Bangun! Aku antar pulang.” Guntur bangkit lebih dulu, menyerahkan botol kembali ke tangan Yumna. Gadis itu menyambutnya dengan ceria.
"Pulangnya naik apa?"
"Jalan," jawab Guntur kesal. Iya juga ya, dia kan jogging tidak membawa mobil.
"Capek kalo jalan," Yumna menggeleng manyun.
"Naik odong-odong," jawab Guntur ketus.
“Abang minum dulu biar gak marah-marah terus sama Ara. Telinga Ara sakit dengar Abang ngomel.” Ujar Yumna tanpa takut Guntur makan hidup-hidup.
Pria itu menyetujui saja, agar cepat selesai mengurus gadis kecil ini. Saat Guntur sedang minum, terdengar suara tembakan. Sebuah peluru yang ditembakkan dari jarak tidak begitu jauh mengenai punggung Yumna.
__ADS_1
“Abaaang!!” Pekik Yumna kesakitan. Ia merasakan peluru menghantam punggungnya.
“Araaa!!” Minuman yang ada di tangan Guntur terjatuh. Netranya menemukan Leo yang berdiri tidak terlalu jauh dari mereka.
“Jangan banyak bergerak!” Telapak tangan Guntur langsung menahan luka itu untuk menahan darah tidak terlalu banyak keluar.
Tubuh mereka sangat dekat, bahkan seperti berpelukan. Guntur dapat mencium aroma tubuh Yumna yang membuat darahnya berdesir panas mengirim sinyal ke otak untuk menikmati aroma itu. Lelaki itu segera menyadarkan dirinya agar tidak terhanyut dengan sensasi yang semakin membuat jantungnya berdebar cepat.
Yumna menyandarkan kepalanya ke bahu Guntur dengan air mata yang sudah membasahi pipi. "Abang sakit," lirihnya dengan rasa sakit yang tak tertahankan.
“Ara bertahan, jangan tutup matanya!” Ucap Guntur panik, dia tidak membawa mobil.
Pria itu melakukan panggilan cepat pada Tomi setelahnya meminta tolong pada orang yang ada di sana untuk membawa mereka ke rumah sakit. Leo sudah hilang dari pandangan Guntur, dia berjanji akan membunuh laki-laki itu.
“Ara mau nyusul, Geo.” Gumam gadis itu terdengar sangat bahagia dalam kesakitannya.
“No, Ara gak akan nyusul Geo sekarang!!" Teriak Guntur.
“Tapi Ara kangen Geo,” Yumna terus bergumam menyebut nama Geo.
“Nggak, Abang gak akan ijinin Ara pergi menyusul Geo!!” Teriak Guntur panik, membawa Yumna berdiri untuk masuk ke mobil orang yang siap mengantar mereka.
“Araaa, buka matanya please!” Teriak Guntur setelah masuk ke mobil dan menyadari Yumna sudah menutup mata.
“Ara banguunnn!!!” Teriak Guntur nyaring.
Bertepatan dengan itu mata Guntur terbuka ternyata hanya mimpi. Ia bangun mengambil air minum, nafasnya masih memburu dengan keringat yang membanjiri tubuh.
“Ara kenapa?” gumam Guntur khawatir melirik jam di atas nakas yang ternyata baru jam sebelas malam. Dia kecepetan tidur setelah tadi siang berdebat panjang dengan sang mama.
“Guntur!!”
Tomi menggedor pintu kamar Guntur yang ternyata tidak dikunci. Suami Anindi itu langsung masuk. Tadi dia sayup-sayup mendengar suara teriakan dari arah kamar Guntur.
“Ada apa?” tanya Tomi khawatir pada Guntur yang sedang memandangi cincin di tangannya.
“Mimpi Ara tertembak dan pergi menyusul Geo.” Gumamnya pelan meletakkan cincin itu ke atas nakas kemudian membaringkan tubuh kembali.
Tomi mengambil cincin itu. Persis mirip cincin Yumna, di sana juga terukir nama Geo.
__ADS_1
“Mungkin Geo memilihmu untuk menggantikannya,” ungkapnya seraya duduk disisi tempat tidur.
Tomi masih mengamati cincin di tangannya. Iseng, ia menarik tangan Guntur dan menyematkan cincin itu dijari manisnya.
“Pas,” gumam Tomi dengan senyuman menggoda. Guntur membiarkan saja cincin itu di sana, tidak melepaskannya.
“Itu tidak akan terjadi. Karena aku akan tetap menikah dengan Sheryl," ujar Guntur pasti.
“Masih ada waktu dalam tiga bulan ini untuk memastikan hatimu milik siapa. Jangan sampai salah berlabuh.” Tomi menempelkan jari telunjuknya di dada Guntur.
“Bukan aku orang yang bisa menjaga Ara. Aku bukan Geo yang bisa memperlakukannya dengan penuh cinta. Aku tidak bisa sebaik Geo dalam menjaganya, yang bahkan sebelum menutup mata pun masih mengkhawatirkan Ara.” Gumam Guntur pelan.
“Tidak ada manusia yang samakan, Geo mencintai Ara dengan caranya. Dan kamu bisa mencintai Ara dengan caramu sendiri,” nasehat Tomi.
“Tapi aku tidak mencintai Ara.”
“Dan juga tidak mencintai Sheryl, benar begitu bukan?” tebak Tomi dengan senyuman miring.
Guntur tidak menjawab, membenarkan ucapan Tomi dalam hatinya. Kenapa dia dibuat dilema oleh anak kecil itu.
“Aku tau hatimu condong pada siapa,” ujar Tomi melangkahkan kaki menuju paper bag yang tergantung di samping lemari.
“Pasti pada pemilik pakaian ini, kau bukan tipe orang yang mau ribet menyimpan barang seseorangkan.” Katanya mengetuk-ngetuk permukaan paper bag yang masih berisi pakaian lengkap Yumna. Pakaian itu tertinggal di hotel waktu pertama kali Guntur menolongnya.
“Lupa membuangnya,” sahut Guntur santai. Dia bahkan lupa kalau ada pakaian Yumna disana.
“Apa sesulit itu untuk mengakui kata hatimu?” tanya Tomi.
“Apa yang harus aku akui kalau memang tidak ada perasaan apapun pada anak kecil yang merepotkan itu,” sahut Guntur tegas.
“Benarkah tidak ada perasaan. Kenapa wajah itu terlihat khawatir padanya sekarang," sindir Tomi.
"Jangan terlalu gengsi, kalau suka bilang suka. Jangan sampai menyesal karena dia terlanjur menemukan orang yang tepat nanti.”
“Aku tidak akan menyesal dan itu bukan urusanku. Siapapun orang yang menggantikan Geo nanti,” jawab Guntur angkuh. Ia sangat yakin kalau tidak akan pernah jatuh cinta pada anak kecil nakal itu.
...🦋🦋🦋 ...
Awas othor bikin kau bucin ke Ara beneran loh Tur nanti, kalau masih suka marah-marah.
__ADS_1