Gemuruh Cinta Sang Guntur

Gemuruh Cinta Sang Guntur
69. Takut


__ADS_3

Guntur dan Yumna semakin lengket, tidak terasa mereka sudah melewati satu bulan bahtera rumah tangga. Jangan berpikir Yumna sudah tidak manja lagi. Bersama Guntur wanitu itu jadi semakin manja.


"Abang, Ara mau disuapin." Pinta Yumna, sekarang mereka berada di ruang makan kediaman Tora. Karena mereka menginap di rumah ini tadi malam.


"Makan sendiri Sayang, sudah punya suami masa masih manja." Tegur Ayumi, dia tidak enak hati pada menantunya karena kemanjaan sang putri ini sangat kelewatan.


"Abang gak keberatan kok Mom nyuapin Ara. Iyakan Abang?" Yumna tersenyum lebar pada sang suami.


Guntur mengangguk saja mengambil piring Yumna lalu menyuapi wanitanya dengan sabar. Sungguh istrinya ini tidak akan berhenti menuntut kalau keinginannya tidak dituruti.


"Kamu juga Nak, jangan terlalu memanjakan Ara. Bagaimana nanti mau mengurus anak kalau suami saja tidak diurus." Ayumi beralih pada menantunya.


"Mom, Ara gak mau punya anak. Berapa kali Ara harus bilang kalau Ara gak mau punya anak!!" Seru Yumna menghentikan makannya, "Bang Aga juga gak punya anak kalian gak pernah ngejar- ngejar."


"Sayang, ngomongnya yang sopan sama Mommy." Tegur Guntur meletakkan piring keatas meja karena istrinya merajuk tidak mau makan lagi.


"Bang Aga kan memang belum dikasih Sayang. Kak Aya juga gak pake KB," Ayumi meluruskan.


"Pokoknya Ara gak mau hamil. TITIK!!" Sarkas Yumna sangat kesal.


"Sudah, sarapan dulu!" Lerai Tora dingin. Ia tidak mengerti dengan putrinya yang terus-terusan menolak untuk punya anak. Padahal kalau dari usia sudah cukup dewasa.


Semua makan dalam diam tidak ada yang bersuara lagi. Kecuali Yumna yang tidak mau melanjutkan makan.


"Makan lagi Sayang," Bujuk Guntur setelah ia selesai sarapan.


"Enggak, Ara gak mau makan!"


"Ara bisa sakit kalau gak makan," Guntur mengelus rambut wanitanya dengan hangat.


Semua tidak terlepas dari pandangan Tora, bagaimana Guntur memperlakukan putrinya dengan penuh kelembutan.


"Biarin aja sakit!!"


"Kalau Ara sakit siapa yang manjain Abang ditempat tidur. Ara mau Abang dimanjain perempuan lain?" Bisik Guntur yang membuat Yumna langsung kembali makan.

__ADS_1


Pria itu tersenyum lebar, ia sangat beruntung memiliki wanita yang tidak pernah mengeluh melayaninya ditempat tidur. Malahan dengan senang hati menggodanya ke ranjang lebih dulu. Ya, itulah istri kecilnya yang ternyata sangat aktif ini.


"Daddy mau tanya, kenapa Ara gak mau hamil? Wanita yang sudah menikah wajar kalau hamil Sayang?" Tora berucap dengan sangat lembut setelah mereka semua usai makan.


Hanya Yumna satu-satunya harapan dia untuk memiliki cucu. Karena Sagara dan Ranaya sudah berkali-kali melakukan program hamil tapi sampai sekarang belum berhasil.


"Ara takut, kenapa Daddy gak mau ngerti Ara." Jawab Yumna lelah, karena itu lagi yang ditanyakan sang daddy.


"Apa yang Ara takutkan?" Tanya Tora heran, hampis semua wanita ingin memiliki keturunan tapi putrinya tidak.


"Abang," rengek Yumna pada Guntur, tidak mau menjawab pertanyaan Tora.


Guntur langsung memeluk wanita yang sudah memenuhi hati dan pikirannya satu bulan terakhir ini.


"Ara siap-siap Abang antar kuliah Sayang."


Yumna mengangguk, lebih baik dia meninggalkan daddy yang selalu memaksanya untuk hamil.


"Papa Rizal bilang kemungkinan Ara mengalami tokophobia, takut berlebihan pada kehamilan dan proses melahirkan. Kita membawanya ke dokter kandungan untuk berkonsultasi," jelas Guntur.


"Guntur harap kalian bersabar sampai Ara membuka hatinya untuk memiliki anak. Kalau dipaksa nanti akan berdampak ke Ara dan bayinya juga." Pinta Guntur, ia tidak ingin istrinya sampai mengalami stres karena sangat ketakutan.


Tora menarik napas pelan kemudian menganggukkan kepala. Ia juga tidak ingin putrinya jadi tertekan.


"Aya akan melakukan program hamil lagi Daddy," ujar istri Sagara yang tidak tega melihat kedua mertuanya bersedih.


"Makasih Sayang, jangan merasa bersalah kalau belum berhasil." Tora mengelus rambut menantunya. Dia tidak bisa berharap banyak pada Sagara dan Ranaya.


🍀


🍀


🍀


Sepanjang jalan mengantar Yumna ke kampus Guntur tidak membahas masalah keinginan mertuanya. Ia tau mood istri kecilnya itu sedang tidak bagus.

__ADS_1


"Ara mau es krim, Sayang?" Tawar Guntur karena sedari tadi Yumna tidak bersuara.


Yumna menggeleng, "Ara boleh gak kuliah hari ini Abang. Ara mau ikut Abang ke kantor aja."


"Boleh Sayang," Guntur mengalah untuk hari ini. Tidak jadi mengantar istrinya ke kampus.


"Makasih Abang," Yumna memeluk tangan kiri Guntur yang masih menyetir.


Melihat sang istri sendu seperti ini mana tega Guntur memaksanya untuk kuliah. "Abang nyetir dulu, manja-manjanya nanti pas sudah sampai kantor aja." Katanya mengecup singkat kepala itu lalu fokus menyetir.


Setelah menempuh perjalanan selama dua puluh menit akhirnya mereka sampai di gedung pencakar langit Emeral Corp.


Yumna menghempaskan tubuhnya ke sofa setelah sampai di ruangan sang suami.


"Masih bete Sayang?" Guntur mengelus-elus lengan sang istri yang semakin manja.


"Apa Abang akan ninggalin Ara kalau Ara gak mau punya anak?"


"Setiap orang yang membina rumah tangga pasti ingin memiliki keturunan Sayang. Abang tau Ara sangat takut melahirkan. Abang gak maksa Ara buat hamil sekarang." Guntur memilih-milih bahasa yang tepat untuk menaklukkan istri kecilnya ini.


"Itu artinya Abang akan tetap memaksa Ara buat punya anak."


Guntur menatap teduh netra sang istri tanpa menjawab.


"Dan Abang akan ninggalin Ara kalau gak mau punya anak." Yumna menyimpulkan sendiri atas sikap diam sang suami.


"Kenapa kita gak berusaha menghilangkan ketakutan Ara, daripada memikirkan hal yang gak penting." Dengan lembut Guntur membelai pipi Yumna.


"Apa Ara bisa Abang?" Tanya Yumna ragu, apa bisa dia mengeluarkan bayi yang besar itu.


"Ara bisa Sayang. Abang akan selalu menemani Ara," Guntur meyakinkan dengan tersenyum dan membawa istri manjanya dalam pelukan.


...💥💥💥...


Babang Guntur ternyata bisa romantis juga ya 🤭

__ADS_1


__ADS_2