Gemuruh Cinta Sang Guntur

Gemuruh Cinta Sang Guntur
40. Pelukan


__ADS_3

Pagi-pagi Guntur sudah mendatangi Yumna di toko Anindi. Ia ingin mengembalikan pakaian gadis itu dan cincin dari Geo. Berharap bisa hidup tenang setelah ini, tanpa dihantui oleh amanat Geo untuk menjaga Yumna. 


“Ara!” Panggil Guntur. 


Gadis yang dipanggil namanya menoleh, Guntur berjalan mendekatinya.  


“Ini bajumu yang tertinggal di hotel dulu. Dan ini cincin milik Geo yang dititipkannya padaku.” 


Yumna menyambut paper bag dan menggenggam cincin yang Guntur letakkan di telapak tangannya. Gadis itu mematung melihat pasangan cincinnya. 


“Aku tidak bisa menjagamu sesuai keinginan Geo,” lanjut Guntur. 


Yumna diam saja, matanya sudah memanas mengingat bagaimana dulu dia memasangkan cincin itu dijari Geo dengan tawa bahagia. Berharap suatu hari nanti mereka bisa bersama, namun kenyataan Tuhan mengambil kekasihnya itu lebih dulu. 


“Terimakasih,” ucap Yumna dengan suara bergetar lalu berlari ke arah kamar mandi. 


Guntur yang dibuat bingung menyusul Yumna. Karena apa gadis itu menangis, padahal dia tidak membentak seperti biasanya. Toh anak itu sudah kebal dengan bentakannya. 


Guntur mendorong pelan pintu kamar mandi yang tidak tertutup rapat. Yumna menangis sambil memeluk lutut dengan tubuh yang bergetar. 


Karena kasihan Guntur membawa tubuh itu dalam pelukan, sambil mengelus-elus di kepala tanpa bersuara. 


Sensasi yang ia rasakan saat memeluk Yumna seperti dalam mimpi tadi malam. Jantung berdebar-debar dan darahnya yang berdesir panas. Aroma sampo gadis itu meracuni otaknya, membuat Guntur semakin ingin mendekap lama. 


Cukup lama Yumna tidak tenang juga, Guntur menggendongnya ke ruangan Anindi. Untung tubuh gadis itu kecil, jadi mudah saja ia mengangkatnya. 


Lelaki itu menidurkan Yumna di sofa bed yang sering Anindi gunakan untuk beristirahat. 


“Ada bawa obat?” tanya Guntur lembut. Ia mengambil kembali cincin di tangan gadis itu. Memasang di jarinya karena khawatir hilang dan Geo akan semakin menghantuinya. 


Yumna mengangguk pelan, dia selalu membawa obat dalam tas sesuai perintah sang ayah. Kalau tidak begitu dia tidak boleh keluar rumah. Jam makan pun harus teratur, ia wajib lapor setiap saat pada daddy-nya itu. 


Guntur keluar ruangan meminta tas Yumna pada Mita, kemudian mengambil obat di sana. 


“Minum dulu,” dengan bantuan obat tubuh itu akan lebih cepat tenang. Seperti yang sering Khalisa alami. 


Setelah membantu Yumna minum obat, Guntur membaringkan tubuh mungil itu kembali. Harusnya dia tidak mengingatkan Yumna pada kenangan-kenangan Geo yang membuat gadis ini dilanda kecemasan berlebihan.  


“Jangan menangis, Geo gak suka lihat Ara sedih.” Ucap Guntur sambil tersenyum, menyeka air mata di pipi Yumna. 


Yumna merentangkan tangan minta dipeluk, Guntur menurut saja mendudukkan gadis itu dan memeluknya. 


“Ara kangen Geo,” gumamnya sendu. 


“Iya aku tau,” jawab Guntur tak berhenti membelai punggung Yumna agar lebih cepat tenang. 


“Ara mau nyusul Geo,” gumamnya lagi. 

__ADS_1


Guntur menggeleng pelan menangkup kedua pipi Yumna, kalimat-kalimat itu persis seperti yang hadir di mimpinya. 


“Ara gak boleh menyusul Geo sekarang.” Lelaki itu membenamkan kepala Yumna ke dada bidangnya bertepatan pemilik ruangan datang. 


“Ara kenapa?” tanya Anindi panik melihat bekas obat di atas meja. 


Guntur tidak menjawab hanya menunjukkan cincin di jarinya sebagai sebab yang membuat Yumna seperti ini. 


“Kita ke makam Geo,” ajak Guntur. 


Yumna mengangguk senang langsung melepas pelukan laki-laki itu kemudian pergi ke kamar mandi. Tanpa peduli tubuhnya yang masih lemas. 


“Jangan terlalu keras padanya Guntur, ini bukan saat yang tepat mengembalikan cincin itu pada Ara.” Ujar Tomi yang mengerti maksud dari Guntur menunjukkan cincin itu pada mereka tadi. 


“Aku cuma tidak ingin terbebani dengan cincin ini dan harus menjaga Ara seperti keinginan Geo,” ucap Guntur yang ternyata masih didengar oleh Yumna. 


“Sini cincinnya, biar kami yang menjaga Ara. Urus saja calon istrimu sana!!” Sarkas Anindi kesal. 


“Biar Ara yang simpan sendiri aja,” Yumna mengambil cincin yang ada di tangan Guntur. “Ara bisa sendiri ke makam Geo, Abang pulanglah.” 


Sudah cukup dia menyusahkan Guntur dan keluarganya. Gadis itu mengambil tasnya ingin menyibukkan diri di belakang saja membantu membuat cake. Biar dia bisa melupakan rasa rindunya dengan Geo. 


“Merajuk,” gumam Guntur yang segera menyusul gadis itu. Bagaimana kalau anak itu pingsan, tubuh saja masih terlihat lemas. 


“Hei mau kemana, ayo kita ke makam Geo!!” Ajak Guntur menarik tangan Yumna. 


“Kalau gak nurut aku buang cincinnya!!” Ancam Guntur merebut cincin di tangan Yumna. 


“Mau Guntur itu apa sih Mas?” Tanya Anindi bingung, mereka mengikuti lelaki itu. Katanya merepotkan tapi sekarang mengancam-ancam. 


“Khawatir tapi gengsi Sayang,” Tomi terkekeh geli membawa istrinya kembali keruangan. 


“Abang kenapa jahat banget sama Ara sih,” ucap Yumna kembali menangis. 


Guntur menarik lembut tangan gadis itu keluar dari toko Anindi tanpa menjawab. Ia memasukkan paksa Yumna ke mobil. Mereka tidak perlu membuat drama di tengah-tengah karyawan toko. 


“Jangan menangis, kita ke makam Geo sekarang.” Guntur memasangkan seatbelt dan menghapus air mata di pipi Yumna dengan tissue. 


Kenapa dia harus repot-repot mengurus gadis ini sih. Tapi rasanya Guntur tidak tega meninggalkan Yumna dalam keadaan seperti ini. 


Sepanjang jalan Yumna hanya diam, Guntur juga tidak mengomel lagi. Hari ini dia tobat memarahi Yumna, nanti besok-besok saja lagi marah-marahnya.  


Sesampai di pemakaman ia mengajak Yumna keluar dari mobil. Guntur menuntunnya sepanjang jalan pemakaman, agar gadis itu tidak kabur. Siapa tau Yumna berniat ingin melarikan diri darinya. 


“Abang, ada mama Geo.” Gumam Yumna saat sudah berada di dekat makam Geo. Ia melihat kedua orang tua Geo di sana. 


“Jangan takut,” Guntur menguatkan genggaman tangannya untuk meyakinkan Yumna. 

__ADS_1


“Masih berani kau datang kesini, hah!! Setelah menggerogoti harta putraku.” Teriak ibu Geo seperti kesetanan mendekati Yumna dengan terburu-buru. Ia ingin menjambak rambut gadis di depannya ini. Tapi baru mendekat Guntur sudah menarik Yumna dalam pelukan, melindungi kepala gadis itu. 


“Berani-beraninya kamu datang kesini dengan pacar barumu. Maumu apa hah! Mau pamer!!” Sarkasnya perempuan paruh baya itu dengan kasar. 


“Mah sudah, kita pulang.” Ferdinand menarik istrinya mundur. 


“Enggak Pah, pokoknya Mama mau ngasih dia pelajaran.” 


“Yang seharusnya mendapat pelajaran itu anda!” Ucap Guntur tersenyum meremehkan, “pemakaman bukan tempat untuk berteriak. Kalau mau teriak-teriak sekalian aja masuk kubur hidup-hidup!” Ujar Guntur geram, membawa Yumna melewati perempuan itu. 


"Kembalikan harta putraku!!" Perempuan tua itu tidak menyerah menarik kemeja Yumna bagian belakang. 


"Mama cukup!! Jangan bikin malu, dia tidak mengambil apapun. Geo yang sudah menyerahkannya dengan sadar!!" Tegas Ferdinand, melepaskan tangan istrinya dari pakaian Yumna lalu menyeretnya pulang. Walau sang istri terus memberontak. 


"Jangan menangis lagi," Guntur mengelus-elus punggung Yumna membawa gadis itu berjongkok tepat di depan pemakaman Geo. Ia bisa menyaksikan betapa besarnya cinta dua orang ini. 


"Abang, Ara mau menyusul Geo aja. Ara capek," ucap Yumna pelan. 


"Kenapa Ara putus asa begini. Geo ingin melihat Ara bahagia, bukan terus menangis seperti ini." Guntur menangkup kedua pipi gadis itu, jarinya mengusap air mata Yumna yang berkali-kali terjatuh. 


"Tapi Ara capek, Abaaang. Ara mau Geo disini," rengek Yumna. 


"Geo selalu ada di hati Ara. Geo tidak pernah pergi dari Ara," ucap Guntur yang sudah memeluk Yumna lagi. 


Dia tidak bisa membuat gadis ini terus merasa nyaman di dekatnya. Itu akan menyakiti Yumna kembali nantinya.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


...🐾🐾🐾...


Sedih banget sepi pembacanya 🥲

__ADS_1


Please spam like dan komen.


__ADS_2