Gemuruh Cinta Sang Guntur

Gemuruh Cinta Sang Guntur
58. Salah Apa?


__ADS_3

“Dua kali loh sudah kepergok ciuman di mobil.” Tora mendatangi Yumna ke kamar setelah Emran dan keluarganya pulang. Putrinya itu meringkuk dalam selimut dengan wajah cemberut.


“Daddy gak mau kamu melakukan itu lagi sebelum menikah!” Tegas Tora.


“Daddy!!” Rengek Yumna. Mana bisa dia menolak kalau Guntur menggodanya. Yumna belum tau saja kalau pria itu juga dipingit tidak boleh keluar dari rumah selain berangkat ke kantor.


“Kalau gak nurut Daddy kurung kamu seperti dulu!!” Peringat Tora.


“Kan Abang yang mulai duluan, masa Ara yang disalahin.”


“Dilarang protes, bagus Daddy gak nikahkan kamu malam ini juga.” 


“Dad,” rengek Yumna dengan wajah manyunnya yang khas.


Tora sebenarnya ingin tertawa melihat ekspresi anak gadisnya itu.


"Kamu mau hamil duluan sebelum menikah, hm?" Tora mengucapkan kalimat yang lebih lembut. Ia duduk disisi ranjang sambil membelai kepala putrinya. Kalau Yumna kabur lagi maka semua akan kerepotan.


"Enggak," Yumna menggelengkan kepala pelan.


"Semua yang Daddy lakukan buat kebaikan Ara Sayang."


"Ara mau ketemu Abang sebentar boleh," pinta Yumna.


"Mereka sudah pulang Sayang," ujar Tora. 


Yumna mendesah kecewa karena Guntur meninggalkannya pulang begitu saja tanpa berpamitan. Dia bahkan belum menyimpan nomor ponsel pria itu.


...🍀🍀🍀...


“Om mana hadiah buat Arraz, belikan Arraz panah-panahan.” Pinta Arraz pada Guntur, setelah perayaan ulang tahunnya yang keempat selesai.


Acara yang diadakan kecil-kecilan, hanya mengundang tetangga dan keluarga dekat saja. Ghani tidak ingin memanjakan dan memberikan kemewahan pada putranya itu. Ia ingin mengajarkan cara hidup sederhana agar tidak terjerumus seperti dirinya dulu.


“Minta sama ayahmu yang banyak duit, Om gak punya duit.” Sahut Guntur ketus. Moodnya sedang tidak bagus karena sudah satu minggu ini tidak diperbolehkan bertemu Yumna.


Jangankan bertemu Yumna, keluar rumah saja dia susah. Seperti anak gadis yang sedang dipingit, ayah kandungnya selalu mengawasi. Ia tidak bisa memanfaatkan Arraz lagi untuk menemui Yumna.


“Om, Arraz bilangin Kak Una!” Ancam Arraz dengan arogan.


“Eh, kamu harus panggil tante ya bukan kakak.” Sergah Guntur.

__ADS_1


“Gak mau, Kak Una kan gak tua kayak Oom.” Arraz tersenyum mengejek pada sang om.


“Mulutmu ini harus dijahit.” Guntur menyentil kening putra laki-laki Ghani itu dengan semangat untuk meluapkan kekesalannya.


"Guntur, ponakannya disakitin terus!" Tegur Hasna pada putra kandungnya.


"Cuma nyentil dikit gak akan bikin Arraz geger otak Mah." Guntur memutar bola mata malas, anak itu berseru senang karena selalu dibela.


“Bunda sakiiittt!!!” rengek Arraz menangis kejer.


“Guntur!!” Sekarang Tomi yang menegur. Ia membawa bocah kecil itu ke pangkuan, menjauhkannya dari Guntur. 


Arraz menjulurkan lidah pada Guntur lalu kembali menangis pura-pura kesakitan.


“Drama!!” Desis Guntur. Kesalnya bukan hilang, malah bertambah.


“Paman ngasih Arraz apa?” tanyanya pada Tomi sambil menghapus air mata tanpa menghiraukan tatapan tajam sang om.


“Kan Paman sudah ngasih kamu calon istri.” Bisik Tomi, mencubit pipi keponakannya itu dengan gemas. Kalau Khalisa mendengar Arraz mengklaim putrinya sebagai calon istri pasti akan mengamuk. 


“Arraz boleh nikah dong.” Bocah yang baru berusia empat tahun itu kembali bertanya.


"Sekarang gak boleh?"


"Adeknya masih kecil," Tomi kembali berbisik takut terdengar Khalisa.


"Arraz mau nyari adek," bocah itu turun dari pangkuan Tomi ingin mencari sang bibi yang baru melahirkan kemaren di kamar atas.


Kamarnya sudah tidak disini lagi. Mereka sudah pindah ke rumah sendiri yang letaknya di samping rumah utama ini.


Kaki mungil itu berhenti melangkah kala mendengar ucapan salam dari suara yang sangat ia kenal.


“Kak Una!!” Arraz langsung berputar arah tidak jadi ke lantai atas.


“Hai Boy,” tangkap Aga lebih dulu sebelum bocah itu sampai pada adiknya. “Tante bawakan kamu hadiah,” ucapnya menunjuk pada Ranaya.


Mata bocah laki-laki itu langsung berbinar cerah menyambut hadiah yang istri Aga berikan. Dengan cepat ia membukanya.


“Yeeaaayyy, Arraz bisa main panah!!” Teriaknya girang.


"Salim dulu Sayang dan bilang apa?" Ujar Ghani mengingatkan putranya.

__ADS_1


"Terima kasih," jawab Arraz langsung menyalami Sagara dan Ranaya. Lalu beralih pada Tora dan istrinya.


"Anak pintar," Tora berjongkok mengecup kepala Arraz. Rindunya ingin punya cucu terobati dengan kehadiran Arraz.


"Kak Una, Om Guntur tadi mukul Arraz." Adu putra Ghani saat sampai di pelukan Yumna.


"Nanti Kakak yang balaskan," jawab Yumna untuk menyenangkan hati Arraz.


Arraz mengangguk senang, bertambah lagi orang yang membelanya. "Sekarang ajari Arraz main panah."


"Ayo," Yumna menyetujui keinginan Arraz. Pura-pura tidak melihat pada Guntur yang tak berhenti menatapnya.


Ia masih kesal karena ditinggalkan Guntur pulang tanpa berpamitan. Dan sampai sekarang laki-laki yang katanya calon suami itu tidak pernah menghubungi. Sekedar menanyakan kabar dari chat pun tidak ada.


“Abang,” rengek Khalisa tidak suka anaknya diberikan benda seperti itu.


“Itu gak berbahaya Sayang,” Ghani meyakinkan istrinya.


"Tapi tetap aja, aku gak mau Arraz jadi sok jagoan."


"Anak laki-laki harus pandai beladiri Sayang, agar bisa melindungi orang-orang yang disayanginya." Jelas Ghani dengan lembut agar Khalisa tidak terlalu melarang aktivitas yang disenangi putranya selama masih dalam pengawasan.


“Ayo duduk dulu,” ajak Mira pada calon besannya.


Sementara Yumna sudah diajak Arraz ke rumahnya untuk bermain panahan. Bocah lelaki itu sangat bersemangat.


"Kak Una, Arraz belum belajar menembak."


"Kalau Arraz sudah besar baru belajar, oke." Sekarang kita main ini dulu," Yumna membimbing Arraz cara memegang busur lalu melepaskan anak panah.


"Arraz, dipanggil bunda." Ujar Guntur yang melarikan diri dari rumahnya menyusul Yumna yang dibawa kabur Arraz lebih dulu.


"Bunda," bocah lelaki itu melepaskan busur yang dipegangnya. "Kak Una tunggu sebentar ya," pinta Arraz.


"Iya Sayang," Yumna mengangguk dengan tersenyum manis. Lalu memalingkan wajah saat Guntur tersenyum smirk kearahnya.


"Kangen," Guntur langsung memeluk pinggang gadis yang sangat dirindukannya itu dari belakang.


Yumna melepas tangan Guntur dengan kasar, lalu melenggang pergi dari ruang bermain Arraz.


"Abang salah apa?" Guntur mengejar Yumna yang berwajah masam. Tanpa tau salahnya dimana. Perempuan selalu saja susah ditebak maunya apa. Inilah yang sangat Guntur benci berurusan dengan perempuan.

__ADS_1


__ADS_2