
“Abang mau kemana?” tanya Yumna saat Guntur keluar lagi setelah mengantarnya ke kamar hotel.
“Jalan,” jawab Guntur tanpa ekspresi.
“Boleh Ara ikut, janji gak ngerepotin. Jalan dibelakang Abang aja, Ara bosan sendirian di kamar.” Mohon Yumna dengan wajah memelas pada sang suami.
“Ya.”
Yumna langsung tersenyum cerah bergegas mengambil tas. Ia akan mengikuti kemanapun suaminya itu pergi.
“Abang kenapa gak mau maafin Ara?” tanya Yumna saat mereka berada di mobil. Mulutnya benar-benar gatal ingin bicara.
Guntur tidak menjawab, gadis yang baru berubah status menjadi istri itu tidak berani banyak bertanya lagi. Hanya memainkan ponsel untuk membunuh rasa bosan. Tidak ada bedanya tinggal di kamar atau ikut, sama-sama tidak ada teman bicara.
Mereka tidak kemana-mana hanya membawa mobil itu berputar-putar tanpa arah dan tujuan. Yumna ingin protes tapi tidak berani.
Ia bukan tidak berani melawan Guntur. Kalau dia melawan sudah dipastikan ayahnya akan marah kalau tau. Lebih baik dia diam daripada terus-terusan ribut dengan orang tuanya. Yumna sampai tertidur di mobil karena bosan.
Istri Guntur itu terusik saat merasakan dingin di pipinya. Yumna mengerjap pelan, ternyata sang suami yang menempelkan es krim di pipinya.
“Makasih Abang,” Yumna mengambil es krim itu dengan girang lalu mengecup pipi Guntur. Pria itu sontak memelototkan mata.
“Maaf kelepasan,” gumam Yumna dengan cengiran.
Guntur tidak menanggapi, kembali menjalankan mobilnya untuk pulang. Ia sudah susah payah menahan diri agar tidak bersikap manis. Malah istri kecilnya itu memancing.
Egonya lebih besar untuk memberikan Yumna pelajaran dengan mendiamkan. Agar tidak berani melawannya lagi.
Sesampainya di kamar hotel Yumna menghempaskan tubuhnya ke kasur empuk. Setelah semalaman ia tidak merasakan nikmatnya tidur di kasur.
Guntur geleng-geleng kepala melihat istrinya yang tertidur tanpa melepaskan alas kaki. Ia melepaskan alas kaki Yumna lalu membaringkannya dengan benar. Saat ingin menjauh, istrinya itu malah menarik tangannya sampai ia terjatuh ditempat tidur.
__ADS_1
"Prank!!" Seru Yumna menggulung tubuh Guntur dengan selimut agar tersenyum.
"Abang senyum dong, Ara bosan dicueki." Ucapnya berani, karena yakin Guntur tidak akan marah. Setelah aksinya di mobil tadi tidak mendapatkan amukan dari sang suami.
"Enggak!!" Guntur memindahkan selimut dan tangan Yumna yang mengunci tubuhnya.
"Ara janji gak dekat-dekat sama laki-laki lain lagi." Mohon Yumna setelah menemukan cara untuk membuat Guntur berhenti marah padanya.
"Enggak!!"
"Ara cium mau nggak?" Yumna memajukan bibirnya.
"Enggak!!" Guntur menahan bibir Yumna dengan telapak tangannya.
"Terus Abang mau apa biar berhenti marah," ucap Yumna lesu karena Guntur masih mencuekinya.
"Kamu duduk, diam!! Dan jangan berbuat ulah." Guntur bangkit setelah berkata seperti itu.
Yumna menarik napas panjang, ia memejamkan mata dengan wajah cemberut.
Karena tidak bisa tidur Yumna bergulung-gulung di tempat tidur.
"Abang, Ara bosan. Hikss hikss!!" Yumna pura-pura menangis.
Guntur tidak menanggapi, ia asik menonton televisi. Walau sebenarnya Guntur sangat ingin mengganggu istri kecilnya itu.
"Abang, Ara bosan banget. Huhh!!" Yumna bangun, mendekati Guntur lalu bergelayut manja di tangan lelaki itu.
Guntur tidak menyahut, hanya mengusap-usap tangan Yumna. Gadis itu berbinar cerah mendapatkan respon positif, walau hanya sebuah elusan.
"Abang," Yumna semakin mendekatkan bibirnya ke pipi Guntur. Lelaki itu tidak menghindar, membiarkan saja istrinya mau berbuat apa.
__ADS_1
"Abang gak kangen sama bibir Ara ini, hm." Yumna memonyongkan bibirnya, membuat wajah istri kecil Guntur itu jadi sangat menggemaskan.
"Sudah puas godain Abang?" Guntur mengangkat sebelah alis menunggu jawaban.
"Belum, sampai Abang berhenti marah sama Ara." Yumna sudah berani bermanja-manja, bahkan naik ke pangkuan Guntur.
"Ara mau Abang berhenti marah, tapi cincin Geo masih dipake." Tunjuk Guntur pada jari manis di tangan kanan Yumna.
"Abang yang simpan tapi jangan dibuang ya," Yumna langsung melepaskan cincinnya meletakkan ke telapak tangan Guntur.
"Ara simpan sendiri aja, itu pentingkan buat Ara." Ia tidak tega memaksa Yumna melupakan kenangannya bersama Geo.
"Sekarang Abang yang lebih penting," Yumna menenggelamkan wajahnya ke ceruk leher sang suami.
Guntur mengesampingkan rambut panjang Yumna untuk melepaskan pengait kalung istrinya. Lalu menjadikan cincin itu sebagai liontin. Setelahnya ia memasang pengaitnya kembali.
"Sepenting apa Abang buat Ara?"
"Abang masih ragu menikah dengan Ara? Harusnya Ara yang ragu menikah dengan Abang."
"Kenapa Ara ragu menikah sama Abang?" Guntur mengusap lembut belakang kepala sang istri.
"Ara takut Abang kasar dan diemin Ara," jawab Yumna pelan.
"Maafin Abang yang gak bisa mencintai Ara seperti Geo." Guntur menangkup kedua pipi Yumna lalu mengecup basah disana.
"Ara gak perlu Abang seperti Geo, asal Abang jangan marahin Ara."
"Abang gak akan marah kalau Ara gak nakal. Ara harus ingat, manjanya cuma sama Abang. Gak boleh sama orang lain." Selesai berucap Guntur memberikan sapuan lembut di bibir Yumna.
Sapuan yang awalnya lembut itu berakhir dengan pergulatan panas di siang yang panas. Namun tak terasa melelahkan bagi pasangan pengantin baru yang bahkan ingin terus mengulang kegiatan mereka.
__ADS_1
...💥💥💥...
Guntur + Ara \= Tamat 🤣