
Yumna menghela napas lega saat berada di ruang pemeriksaan dokter. Dia tahu kalau yang bersamanya tadi Leo. Mana mungkin orang yang sudah meninggal bisa hidup lagi. Hanya itu satu-satunya cara agar bisa bebas dari Leo. Karena tidak mungkin melawannya dengan fisik saat ini.
Gila saja Leo memaksa dokter saraf untuk memeriksa kepalanya yang masih waras. Tapi bagus juga, ini bisa Yumna jadikan kesempatan untuk melarikan diri dari Leo. Ia sudah muak berpura-pura manis di hadapan manusia yang sangat ingin dilenyapkannya dari bumi pertiwi ini.
"Dok, tolong bilang aku harus dirawat inap dan bantu aku menghubungi dokter Rizal." Mohon Yumna pada dokter muda yang bertugas memeriksanya tanpa menjelaskan apa yang sudah terjadi.
"Ibu siapanya dokter Rizal?" Tanya dokter Ringgo, yang merupakan dokter saraf terbaik di Emeral Hospital.
"Saya menantunya, istri Guntur. Dokter tidak ingat wajah saya." Yumna hanya menebak kalau dokter itu pasti menghadiri acara pesta pernikahannya.
"Oh iya, maaf saya tidak terlalu mengingat wajah Anda." Dokter itu memberikan ponselnya pada Yumna, "pakailah."
Yumna menatap ponsel itu berbinar dan langsung menelpon papa mertuanya.
"Ya Dok Ringgo, apa ada keadaan darurat?" Tanya Rizal to the point dari seberang telepon.
"Papa, tolongin Ara. Leo menangkap Ara di rumah, tapi Ara minta dibawa ke rumah sakit. Sekarang Leo ada diluar nunggu Ara. Ara takut!" Jelas Yumna dalam satu helaan napas dengan terburu-buru.
"Ara!! Kamu terluka Nak?" Tanya Rizal khawatir pada menantunya yang baru saja diketahui sedang hamil muda.
"Ara gak terluka Pah, tapi Ara takut Leo nyulik Ara."
Dokter Ringgo mengulum senyum melihat kemanjaan menantu direktur utama rumah sakit ini.
"Berikan hpnya pada dokter Ringgo, Sayang." Pinta Rizal, istri Guntur itu menurut.
__ADS_1
"Papa mau bicara sama dokter," ucapnya seraya menyerahkan ponsel itu pada pemiliknya.
Setelah memberikan aba-aba pada dokter Ringgo yang menangani Yumna, Rizal menghubungi putranya. Pasti Guntur sedang kebingungan mencari Yumna.
"Bagaimana dok?" Tanya Leo pada dokter yang keluar dari ruang pemeriksaan Yumna.
"Pasien memiliki riwayat penyakit kanker otak. Kami harus melakukan pemeriksaan lanjutan agar pasien bisa mendapatkan penanganan serius." Ucap dokter Ringgo.
"Anda bisa mengurus administrasi dan riwayat pengobatan pasien sebelumnya Pak." Lanjutnya, setelah mengucapkan itu ia kembali ke ruangan. Meminta para perawat untuk membawa Yumna pindah tempat.
Leo memijat pelipis bingung, bagaimana caranya dia mendapatkan riwayat pengobatan Yumna sebelumnya.
"Geo, Ara takut!!" Pekik Yumna kembali berakting saat melewati lelaki itu.
"Tapi Ara takut!!" Rengek Yumna manja dengan mata berkaca-kaca.
"Pintar sekali berakting," gumam dokter Ringgo menggelengkan kepala pelan melihat kelakuan pasien abal-abalnya.
"Kami harus segera membawa pasien ke ruang pemeriksaan," ucap Ringgo.
"Silahkan dok," Leo mengusap rambut Yumna lalu mengecup puncak kepalanya. "Ara jangan takut, oke."
Yumna mengangguk lemas. "Siyal, harus berapa kali dia harus menciumku sampai aku bisa membunuhnya!!" Sarkasnya dalam hati.
"Terima kasih dokter," ucap Yumna setelah dokter Ringgo membantunya mengatasi Leo. Dan membawanya keruangan sang mertua bukan ke ruang pemeriksaan tanpa Leo sadari.
__ADS_1
"Sama-sama, mungkin lain kali Anda harus ikut casting. Aktingnya bagus," dokter Ringgo mengucapkannya diikuti acungan jempol.
"Terima kasih pujiannya," Yumna tertawa gelak mengingat apa yang sudah dia lakukan. Melupakan kepalanya yang masih saja pusing.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
...🪴🪴🪴...
Jempol buat Othornya mana bestie 😉
__ADS_1