Gemuruh Cinta Sang Guntur

Gemuruh Cinta Sang Guntur
113. Cacing


__ADS_3

“Mau menjelaskan sesuatu Sayang?” tanya Sagara dengan lembut namun netranya menatap tajam sang istri.


Harusnya ini menjadi berita yang paling membahagiakan untuknya dan keluarga. Namun jadi mengesalkan karena ulah sang istri.


Dia dibuat kesal saat dokter mengatakan kemungkinan istrinya sedang hamil. Bisa dipastikan Ranaya sudah tahu dengan kehamilannya karena selalu rutin konsultasi ke dokter. Dan dua hari yang lalu istrinya itu baru dari dokter kandungan.


Empat pasang mata yang ada di kamar Sagara hanya diam menyaksikan pasangan suami istri itu


“Maaf,” ucap Ranaya pelan sambil menundukkan kepala.


“Aga sudah, jangan marah. Pasti Aya mau memberikanmu surprise di hari ulang tahun pernikahan kalian nanti tapi keburu ketahuan.” Ujar Ayumi menenangkan putranya yang emosi, “kamu harusnya memberikan hadiah buat Aya bukan malah memarahinya.”


Sagara mengusap wajah dengan kasar lalu membawa Ranaya dalam pelukan. “Terima kasih Sayang, maaf sudah marah-marah.” Sekarang ia bisa mengerti kenapa istrinya jadi bertingkah aneh akhir-akhir ini.


Dan tiba-tiba saja Wanita hamil itu menangis tersendu-sendu membuat Sagara kebingungan.


"Sayang, apa perutnya masih sakit?" Tanya Sagara cemas, istrinya itu menggeleng pelan.


“Sebentar lagi Daddy akan punya dua cucu sekaligus,” Tora mendekati menantunya yang masih menangis. Mengusap-usap di kepala dengan lembut.


“Terima kasih sudah berjuang Sayang,” pria paruh baya itu mengambil alih pelukan sang menantu. Mengusap pipi yang masih dialiri air mata.


Suasana yang tadi bersitegang sekarang jadi penuh keharuan setelah mendapat kabar kehamilan Ranaya.

__ADS_1


“Semoga Daddy lupa kalau masih marah sama Abang setelah mendapat cucu baru,” bisik Guntur di telinga Yumna.


“Guntur, aku masih marah padamu dan kau tidak diperbolehkan tinggal satu atap dengan Ara. Itu hukuman untukmu!!” ucap Tora tegas dengan seringaian tipis di bibirnya.


“Sial, pria tua ini selalu saja menyusahkanku.” Umpat Guntur dalam hati, tidak mengertikah mereka kalau adik kecilnya tidak bisa puasa lama-lama lagi.


“Kalau Mas masih melarang Guntur sama Ara, mulai malam ini tidur di luar!!” Ancam Ayumi dengan pelototan tajam pada suaminya.


“Kenapa selalu membela menantu tidak tahu diri itu sih Sayang,” ringis Tora. Mana mau dia tidur di luar.


Guntur tersenyum penuh kemenangan karena tidak perlu susah-susah membujuk sang mertua. Sudah ada yang membackupnya, "terima kasih Mom, pengertian banget sih.”


“Ini bukan untukmu, tapi untuk putriku. Sekali lagi kau menyakiti Ara, aku sendiri yang akan memotong cacingmu itu!!” Sarkas Ayumi yang membuat Guntur bergidik ngeri. Sekarang Tora yang tertawa penuh kemenangan.


“Guntur!!” Teriak Tora dan Ayumi bersamaan, lagi-lagi Guntur meringis ditatap kedua mertuanya dengan tajam.


“Sayang, Ara gak ada niat bantuin Abang.” Bisik Guntur namun Yumna malah menggelengkan kepala kemudian tertawa bahagia melihat suaminya tersiksa.


“Oh Tuhan. Bantu aku yang sedang dianiaya oleh kedua mertua dan istriku ini,” Gumam Guntur dramatis. "Tidak lupa juga dari kakak iparku yang galak," lanjutnya dengan wajah disedih-sedihkan.


“Abang fitnah Ara? Mana ada Ara menganiaya Abang!” Seru Yumna dengan mata menghunus tajam. Ditambah tatapan elang oleh ipar dan kedua mertuanya yang seperti ingin mengulitinya hidup-hidup.


"Abang bercanda Sayang, awas mata kalian nanti keluar dari cangkangnya." Seru Guntur dengan cengiran lebar.

__ADS_1


"Astaga menantu Mommy, lebih baik kalian keluar sekarang dari kamarku. Daripada otak anakku rusak melihat tingkah kalian." Usir Sagara yang sudah mengambil alih istrinya dari sang daddy.


"Kau mengusir Mommy?" Ayumi menatap tajam putranya.


"Mom, Aya butuh istirahat. Lihat tubuhnya masih lemas, kalau kalian disini mana bisa dia istirahat." Ucap Sagara lembut agar mommy-nya tidak tersinggung lagi.


"Oke, alasan Mommy terima." Ujar Ayumi menarik suaminya keluar yang juga diikuti oleh anak dan menantunya.


"Dad, pinjam Ara sebentar ya?" Ijin Guntur.


"No!!" Sahut Tora tegas, Guntur menghela napas berat.


"Ayo kita ke kamar Sayang," ajak Guntur.


"Guntur!! Siapa yang mengijinkanmu masuk ke kamar Ara?"


"Daddy mau lihat aku bercinta dengan Ara disini?" Sebut Guntur asal dengan senyuman tipis.


"Abang, ngomong apasih!!" Yumna mencubit pinggang Guntur sampai si empunya meringis.


"Aww, sakit Sayang!!" Guntur melepas tangan istrinya yang menempel di pinggang.


Tora menghembuskan napas berat, tidak ada habisnya berdebat dengan menantunya itu. "Sana pergi," usirnya.

__ADS_1


Guntur tersenyum penuh kemenangan, "thanks Daddy." Ucapnya dengan mengedipkan mata menggoda.


__ADS_2