Gemuruh Cinta Sang Guntur

Gemuruh Cinta Sang Guntur
28. Amarah


__ADS_3

"Daddy, Leo kabur. Dia sedang membuat keributan di kantor Geo." Beritahu Sagara pada sang ayah yang sedang memijat kepala pusing karena kelakuan putrinya.


"Ara," gumam Tora langsung beranjak mengambil senjata. Pasti putrinya yang sedang diincar Leo. "Daddy cari Ara, kamu bantu Geo menghadapi Leo." Ujarnya membagi tugas.


"Siap Daddy," sahut Aga kemudian keluar dari kamar sang ayah.


Ia langsung mendatangi kantor Geo bersama anak buahnya. Sampai di sana tidak terjadi apa-apa. Kemungkinan mereka terlambat.


Di taman Yumna sedang bingung dengan kedatangan laki-laki yang sangat mirip dengan Geo. 


“Sayang, menjauh dari sana!!” Teriak lelaki yang menggunakan stelan jas hitam itu memperingatkan Yumna.


Gadis itu menoleh ke arah lelaki yang ada di sampingnya. Ia bahkan tidak bisa mengenali yang mana pacarnya. Dua orang lelaki itu sangat mirip, hampir tidak ada bedanya.


“Aku yang Geo Ra,“ ucap lelaki yang berada di samping Yumna. Ia takut kekasihnya percaya pada ucapan Leo yang sengaja ingin mengecoh gadisnya.


Yumna jadi berpikir, tadi Geo bilang padanya ingin meeting. Seharusnya sekarang pacarnya menggunakan jas. Berarti pacarnya bukan lelaki yang ada di sampingnya ini, pikir Yumna yang segera menjauh dari Geo.


“Dengar Sayang aku Geo, kamu jangan dekati dia.” Tahan Geo pada Yumna yang ingin pergi, karena insiden pertengkaran dengan Geo saat di kantor tadi dia jadi hanya menggunakan kaos oblong.


Kemeja dan jasnya kotor, Geo tidak sempat berganti pakaian lagi kecuali melepaskannya dan bergegas menemui Yumna. Khawatir Leo yang lebih dulu menemukan kekasihnya.


“Kamu bukan Geo!” Sarkas Yumna melepaskan tangan itu dengan kasar.


Lelaki yang ada di seberangnya tersenyum penuh kemenangan.


“Aku Geo Sayang, please percaya. Leo sangat berbahaya untukmu.”


Yumna menggeleng, dia tidak percaya dengan ucapan lelaki itu. Walau hatinya juga sedang dilanda kebingungan untuk menentukan yang mana kekasihnya.


Guntur yang masih ada di taman ikut dibuat bingung dengan kedatangan dua orang berwajah sama itu. Ia bersama Arraz terus memperhatikan dari jauh.


"Om, mukanya sama!" Seru Arraz dengan wajah melongo, karena baru pernah melihat orang yang memiliki wajah sama. "Mereka mau jahat sama Kak Una?" Tanyanya yang lupa nama Yumna sebenarnya.


"Mereka kembar seperti Ayah Ghani dan Tante Ghina," jelas Guntur. Bocah laki-laki itu mengangguk-angguk.


"Kalau ada yang jahat sama Kak Yumna nanti Arraz ajak kakaknya ke tempat bibi, terus panggil Paman Tomi ya boy." Pria dewasa itu menepuk pundak keponakannya, seolah bocah itu partnernya.

__ADS_1


"Siyaap Om." Sahut Arraz dengan semangat, dia sudah tidak sabar ingin jadi hero.


“Ayo Sayang ikut aku,” Leo mengulurkan tangan dengan senyuman manis.


“Araaaa, jangan mendekat ke sana!!” Teriak Geo, melihat saudara kembarnya mengeluarkan sesuatu dari kantong jas. Itu pasti racun yang sama dengan yang ingin Leo suntikkan padanya pagi tadi.


Geo langsung menerjang Leo membuat spuit yang berada di tangan kembarannya itu terpelanting jauh.


“Araa, please pergi telepon Daddy dan Abangmu!!” Perintah Geo yang kewalahan menghadapi serangan balik Leo. Dia tidak bisa menjaga Yumna sendirian, sebentar lagi pasukan Leo pasti akan muncul.


Gadis itu tidak bergerak, masih berada dalam kebingungan. Arraz berlari kecil mendekati Yumna, bocah cilik itu mengambil suntikan yang jatuh ke tanah.


"Kakak, ikut Arraz." Katanya seraya menarik tangan Yumna. Langkahnya terhenti saat lima orang anak buah Brayen bermunculan mengepung mereka.


Lagi-lagi Yumna dibuat bingung dengan adanya Arraz di sana.


“Cepat bawa Arraz ke toko Nindi!!” Teriak Guntur pada Yumna. Dia membantu Yumna menghadapi orang-orang itu agar bisa lolos dan mengambil benda yang ada di tangan mungil Arraz.


Yumna menyeret tangan Arraz, mereka hanya perlu menyeberang jalan untuk sampai di toko Anindi. Tapi perjalanannya tidak mulus karena di hadang anak buah Brayen lagi.


Gadis itu mengangkat Arraz sambil menghindari serangan. Yumna menangkis kaki yang ingin menendangnya lalu menyerang balik.


"Cepat pergi!!" Titah Guntur.


Tubuh kecil Yumna membawa Arraz sambil berlari terseok-seok. Ia menurunkan Arraz setelah sampai di toko Anindi dengan napas terengah-engah.


“Arraz, Om-mu mana?” Tomi mencari-cari Guntur yang membawa keponakannya. Kenapa malah Yumna yang datang sambil berlari.


“Tolong, anak buah Brayen di sana!!” Sebut Yumna lalu mengambil minuman dingin dari showcase dan langsung menenggaknya habis.


"Arraz masuk ke ruangan bibi sekarang," beritahu Tomi. Putra Ghani itu menurut, melangkahkan kaki mungilnya. Toko memang masih belum buka, istrinya masih di belakang mengawasi karyawannya.


“Kabari Daddymu,” ujar Tomi pada Yumna. Lalu bergegas menyusul Guntur.


Yumna mengangguk saja, ia ragu ingin menelpon daddynya. Belum sempat melakukan panggilan sang daddy sudah menelpon terlebih dulu.


“Sayang kamu di mana?" Tanya Tora khawatir, Leo pasti ingin membunuh Geo agar dia bisa menjebak putrinya.

__ADS_1


"Leo kabur Sayang, barusan dia menyerang Geo di kantornya. Kamu baik-baik ajakan sekarang?” tanyanya lagi saat Yumna tak kunjung menjawab.


“Mereka sekarang berkelahi di taman Daddy,” ucap Yumna lemah. Dia menyesal sudah berkata kasar pada ayahnya pagi tadi.


“Ara gak terluka kan Sayang?" Tora melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju taman.


Dia marah pada Yumna karena sangat khawatir akan keselamatan anak gadisnya itu. Brayen memang tidak bebas, tapi lelaki itu masih bisa memerintahkan anak buahnya untuk mencelakakan putrinya


"Ara baik-baik aja. Sekarang ada di toko depan taman," beritahu Yumna.


"Tunggu di sana Daddy akan segera datang, Sayang. Jangan matikan teleponnya,” ujar Tora.


"Yes Daddy," sahut Yumna dengan kepala mengangguk. Gadis itu terduduk lemas di kursi, dia sangat khawatir Geo terluka. Apalagi daddy-nya juga akan datang.


"Araaa awaass!!" Teriak Geo seraya mengejar saudara kembarnya yang ingin mendekati Yumna.


Gadis itu berdiri mendorong meja di hadapannya. Ia bersiap menghadapi Leo yang ingin menyerangnya.


Leo naik ke atas meja dan menerjang Yumna, sampai gadis itu terjatuh. Ia tersenyum bersiap menyuntikkan racun ke tubuh Yumna.


"Daddy!!!" Teriak Yumna yang masih bisa di dengar Tora dari seberang telepon.


"Selamat tinggal manis," ucap Leo dengan seringaian iblis.


"Brengsek kau Leo!" Pekik Tora semakin mempercepat laju kendaraannya.


"Lepas Leo!!" Teriak Geo merebut racun di tangan saudara kembarnya. Tapi naas, racun itu malah Leo lepaskan padanya.


"Geoooo!!!" Teriak Yumna menendang Leo yang menindihnya dengan kesetanan. Lelaki itu dibuatnya terpelanting.


Yumna bangkit menangkap tubuh Geo dengan air mata yang sudah berjatuhan. Ia melepaskan jarum suntik yang racunnya sudah masuk dalam tubuh sang kekasih.


"Jangan menangis, aku baik-baik aja Sayang." Geo tersenyum mengecup punggung tangan Yumna.


Yumna menggeleng, menyandarkan tubuh Geo yang mulai lemas. Ia berdiri menatap Leo dengan amarah yang menyala-nyala.


"Jika sampai terjadi sesuatu pada Geo, aku akan akan memburumu hingga ke neraka!!" Tekannya sebelum menyerang Leo dengan dengan kursi yang ada di dekatnya. Dia tidak akan mengampuni siapapun yang sudah menyakiti orang tersayangnya.

__ADS_1


Gadis itu memainkan kursi di tangannya sampai mematahkan persendian tulang-tulang Leo. Sebelum si empunya memberikan serangan balik. Yumna dengan kesetanan membuat Leo babak belur berdarah-darah tanpa memberikan kesempatan lelaki itu untuk menghirup napas.


__ADS_2