Gemuruh Cinta Sang Guntur

Gemuruh Cinta Sang Guntur
59. Menderita


__ADS_3

"Bunda manggil Arraz?" Kaki kecil Arraz bergerak mendekati Khalisa.


Khalisa menatap suaminya sebelum menjawab. Mereka belum ada yang menyadari kalau Guntur tidak ada disana.


"Bunda gak ada manggil kamu Sayang," Khalisa memeluk putranya dari belakang.


"Om bilang bunda manggil Arraz," jawab Arraz seraya mengecup pipi sang bunda.


Bocah laki-laki itu ketularan romantis dari sang ayah yang selalu memperlakukan bundanya dengan penuh kasih sayang.


Semua serentak menoleh ke tempat Guntur duduk. Tapi sofa itu sudah kosong.


"Putra Mama itu dasar suka cari kesempatan!" Rizal berdecak, menghembuskan nafas dengan kasar.


"Itu putra Papa juga ya!" Hasna mendelik pada sang suami. Tidak terima kalau dia yang disalahkan.


"Yang benar, Guntur itu putra kalian." Mira menengahi kakak dan kakak iparnya yang saling menyalahkan.


"Daddy, ayo pulang!!" Tiba-tiba Yumna masuk dengan wajah cemberut. Berjalan sambil menghentak-hentakkan kaki.


"Kalian baru sampai kenapa mau langsung pulang, Guntur ngapain kamu. Biar Mama jewer kalau dia berulah." Ujar Hasna yang sudah berjalan mendekati putranya.


"Anak nakal, kamu ngapain lagi hah. Susah banget dibilangin!!" Serunya menjewer telinga sang putra sampai lupa diri.


"Aw... Aw... Sakit Mah." Guntur mengusap-usap telinganya yang terasa pedas.


"Guntur cuma kangen masa gak boleh," jawabnya dengan wajah memelas.


"Pulang, kamu gak boleh kemana-mana lagi." Omel Hasna tanpa segan membuat Guntur malu di depan calon mertua putranya.


"Guntur bisa pulang sendiri tanpa disuruh Mah, gak akan nyasar." Kesal Guntur, dia cuma mau melepaskan rindu sebentar dengan calon istrinya masa tidak boleh.


"Kamu memang gak nyasar, tapi burungmu itu yang bisa nyasar!!" Sarkas Hasna frontal di depan banyak orang.


"Mah sudah, malu sama tamu." Tegur Rizal pada sang istri. Mulut istrinya itu bisa melalar kemana-mana.


Hasna menarik nafas panjang lalu menghembuskan dengan perlahan untuk mengeluarkan emosinya. Ia kembali duduk di samping sang suami.


Sementara Guntur nekat memanggul Yumna seperti karung beras. Lupa kalau punggungnya masih belum sembuh total.

__ADS_1


"Daddy, tolongin Ara!!" Teriak Yumna memukul-mukul punggung Guntur. Dia kanget dengan gerakan cepat Guntur yang menculiknya.


"Astaghfirullah," Emran menghela nafas kasar melihat kelakuan Guntur yang sudah dirawatnya sejak kecil. Tidak dengan Tora, pria paruh baya itu malah terkekeh kecil.


"Ara jangan dipukul," ucap Guntur lemas. Karena punggung terasa sangat nyeri saat terkena pukulan Yumna.


Pria itu menurunkan Yumna karena sudah tidak sanggup memanggulnya lagi. Ia terduduk bersandar di anak tangga sambil menahan sakit.


"Abang!!" Pekik Yumna panik. Wajah Guntur sudah pucat dengan keringat dingin.


"Pasti obatnya gak diminum, gimana mau cepat sembuh." Decak Rizal langsung berlari mendekati putra sulungnya.


Yang lain ikut mendekati Guntur, sedang Khalisa Ghani perintahkan untuk membawa putranya pulang.


"Abang kenapa?" Tanya Yumna dengan tubuh yang sudah bergetar.


Bayangan Geo meninggalkannya kembali berputar-beputar di kepala. Gadis itu menggeleng kuat dengan memegang kedua telinganya.


"Enggak, Abang gak boleh pergi ninggalin Ara!!" Teriak Yumna.


"Sayang," Sagara dengan tanggap membawa sang adik dalam pelukan.


"Guntur gak ninggalin Ara," bisik Sagara menenangkan adiknya."


"Tolong bawa Guntur ke kamar," pinta Rizal pada Ghani dan Tomi. Sementara dia mengambil peralatannya di mobil. Dua pria itu mengangguk, membawa Guntur ke kamar tamu yang paling dekat.


"Bawa Ara ke kamar Ga," Emran menepuk pundak Sagara mengisyaratkan untuk mengikuti mereka.


Sagara menurut, menggendong Yumna yang semakin terisak dengan tubuh bergetar ke kamar.


"Jangan tinggalin Ara!!" Yumna terus bergumam dalam pangkuan Sagara yang duduk disisi tempat tidur.


"Gak ada yang ninggalin Ara," Tora berjongkok mengusap lembut pipi sang putri. Perlahan Yumna sudah semakin tenang.


"Lukanya berdarah lagi," gumam Rizal pelan setelah selesai menangani putranya.


Entah sudah berapa lama Guntur tidak minum obat. Ia terlalu sibuk mengkhawatirkan sang putra agar tidak menemui Yumna, sampai lupa mengingatkan minum obat. Sehingga lukanya lambat kering.


"Ara!!" Guntur langsung meloncat bangun mengingat gadisnya yang sedang merajuk. Melupakan punggungnya yang masih terasa nyeri.

__ADS_1


"Hei, punggungmu itu masih sakit!" Tegur Hasna dengan gelengan kepala. Anak jenis apa sih sebenarnya Guntur ini. Atau salah ngidam waktu dia hamil dulu.


"Abang," lirih Yumna melepas pelukan sang abang mendekati Guntur.


"Kenapa menangis?" Guntur langsung memeluk Yumna untuk menenangkan.


"Itu gara-gara kamu, ngapain pake acara pingsan!!"


"Siapa suruh obat gak diminum, mau Papa obok-obok tuh luka!!" Geram Rizal dan Hasna bersamaan.


Guntur meringis diserang dua orang sekaligus. Sementara Tomi dan Ghani tertawa gelak diatas penderitaannya. Awas saja, dia akan melakukan pembalasan dendam nanti.


Guntur mengabaikan suara berisik itu fokus menenangkan Yumna. Dia ingin mengusir orang-orang itu dari kamar tapi tidak berani. Bisa-bisa kedua orang tuanya paduan suara lagi.


"Kalau takut Abang pergi jangan ngambek lagi. Nanti kalau Abang beneran pergi gimana," ucap Guntur yang mendapat cubitan di pinggang dari Mira.


"Adduuuhhh!! Kalian ini suka sekali menyiksaku kenapa sih?" Sarkas Guntur yang sudah tidak bisa bersabar menghadapi orang tuanya.


"Kamu itu niat bujuk atau enggak sih." Omel Mira, "salah kalian cari calon menantu seperti Guntur ini." Mira malah mengompori calon besannya.


"Mah, kalau Mama mau marah sama Guntur marah aja. Gak usah ngajak-ngajak calon mertuaku gitu." Guntur memutar bola mata malas, serba salah hidupnya di dunia ini.


"Ara ayo pulang! Ngapain pelukan lagi, hm." Tora mengeluarkan suara beratnya. Mira mengulum senyum penuh kemenangan. Sementara Guntur mendesah frustasi, baru sebentar dia memeluk Yumna sudah mendapat gangguan lagi.


"Daddy!!" Rengek Yumna manja.


"Kamu lupa hukuman Daddy!!"


"Ingat-ingat," Yumna melepaskan diri dari pelukan Guntur. Berjalan dengan lemas mendekati keluar dari kamar tanpa bersuara lagi.


Guntur ingin menahan tapi tak kuasa, empat pasang mata sudah menyorotnya tajam. Putra tetua Rizal itu mengusap wajah gusar.


"Nikmati penderitaanmu!!" Seru Ghani sebelum menyusul yang lain meninggalkan Guntur.


"Berisik!!" Guntur melempari bantal kearah Ghani dengan tangan kirinya. Kenapa semua orang selalu bahagia melihatnya menderita.


...🍀🍀🍀...


Othor memang gak berpihak sama Guntur 🤣

__ADS_1


__ADS_2