Gemuruh Cinta Sang Guntur

Gemuruh Cinta Sang Guntur
26. Lengket


__ADS_3

“Tumben pagi-pagi mau ketemu, ada apa Sayang?” Geo membukakan pintu mobil untuk gadis kesayangannya. Dia langsung datang saat Yumna minta dijemput.


“Ara mau balikin ini,” Yumna mengambil tangan Geo dan meletakan cincin di sana. Lalu ia membuka pintu mobil, ingin segera kabur dari sana.


“Hei ada apa Sayang, kenapa tiba-tiba jadi begini.” Geo menahan tangan Yumna yang ingin keluar dari mobil. “Jelasin dulu, ada apa?” lanjutnya dengan bahasa yang sangat lembut.


“Kamu mendekatiku hanya karena ingin menyerahkanku pada Brayen kan!!” Sarkas Yumna judes.


Geo menggeleng, sekarang dia mengerti kenapa Yumna tiba-tiba bersikap seperti ini. “Itu bukan aku Sayang,” ungkapnya seraya menarik Yumna dalam pelukan.


Gadis itu memberontak ingin dilepaskan, tapi Geo malah semakin mengeratkannya.


“Aku sungguh-sungguh menyayangimu Minara Yumna,” katanya seraya mengecup kening sang kekasih. Menyalurkan rasa cintanya di sana, semakin dekat detakan jantung itu semakin terasa menggila.


“Itu bukan aku Sayang, percayalah. Aku tidak pernah berniat menyakitimu walau seujung kuku.” Geo menyatukan keningnya pada Yumna.


“Apa aku pernah gak percaya sama kamu, saat Daddy terus mengatakan kamu itu jahat. Aku tetap membelamu, aku tetap mempertahankan kamu Geo.” Ucap Yumna yang akhirnya terisak. “Tapi aku melihat sendiri, itu kamu.” Lanjutnya dengan perasaan kecewa.


“Itu bukan aku Sayang,” Geo menyeka air mata Yumna mengeluarkan ponselnya dari saku jas.


“Itu Leo adik kembarku, Daddy-mu berpikir Leo itu aku. Dia menjual namaku pada Brayen.” Jelasnya seraya menunjukkan fotonya bersama sang saudara kembar.


“Aku yakin Daddy-mu juga sudah tau kalau aku kembar. Video yang Abangmu tunjukkan itu pun bukan aku Sayang.”


“Kalau Daddy tau kalian kembar, kenapa Daddy masih belum mau merestui kita?” tanya Yumna yang baru tau fakta kalau pacarnya kembar. Dia sangat percaya dengan kekasihnya itu.


“Daddy-mu takut aku memanfaatkan dan menyerahkanmu pada Brayen, Sayang. Sudah ya jangan nangis lagi, sekarang kembali ke rumah dan cincinnya pakai lagi.” Geo menyematkan kembali cincinnya di jari manis Yumna. Gadis itu sudah berhenti menangis dan bisa tersenyum lebar.

__ADS_1


Yumna tipe orang yang sangat mudah dibujuk, mood gadis itupun bisa dengan cepat berubah.


“Gak mau pulang, mau ikut kerja.” Ucap Yumna manja.


“Nggak sekarang Sayang, nanti aja ya ikut ke kantornya.” Geo khawatir anak buah Brayen masih mengintai Yumna. Ia juga tidak mengerti kenapa ketua mafia itu sangat menginginkan kekasihnya ini.


“Pokoknya Ara mau ikut,” rengek gadis itu.


“No Sayang, aku khawatir anak buah Brayen masih mengikutimu.” Jujur Geo, kalau tidak dikatakan alasannya Yumna akan sulit menurut.


“Kitakan bisa melawannya, cuma anak buah Brayen.” Sahutnya dengan pipi yang menggelembung.


“Sayang, kalau satu dua orang kita memang bisa melawannya. Tapi kalau mereka banyak, kita akan tetap kalah. Kamu lebih aman ada dalam rumah,” ujar Geo memberi pengertian pada sang pacar.


Yumna memanyunkan bibir lalu mengangguk setuju. Geo benar, dia belum bisa keluyuran. Anak buah Brayen pasti sedang gencar-gencarnya mencari cara untuk membebaskan sang bos. Dan dia bisa jadi incaran yang paling diburu.


“Kalau penurut gini jadi makin Sayang, aku janji akan mencari cara agar Daddy-mu merestui kita. Bersabar ya Sayang,” Geo mengusap-usap puncak kepala Yumna.


“Kayaknya suka banget kalau nikahnya sama orang lain, hm.” Goda Geo dengan kekehan kecil.


Gadis itu menggeleng pelan, “aku cuma mau sama kamu.” Ulang Yumna yang tidak suka Geo menggodanya seperti itu.


"Iya-iya Sayang, aku tau." Geo tersenyum mengusap kepala Yumna, “sudah pulang sana. Aku mau kerja dulu cari modal buat halalin kamu," candanya.


Yumna mendengus pelan, "aku gak butuh uangmu. Aku butuh kamu," gadis itu menyandarkan kepalanya kembali ke bahu Geo.


"Kalau manja-manja terus kapan pulangnya, dan aku kapan kerjanya, hm."

__ADS_1


Yumna menyengir, "gak bisa pisah sama kamu. Tiba-tiba kepalaku lengket, gimana nih."


"Alasan, pakai ini!!" Geo memberikan masker dan kacamata gelap pada Yumna. Ia terpaksa membawa gadis itu ke kantor. Mau dilarang bagaimana juga tidak akan bisa.


"Terimakasih pacarku Sayang," ucap Yumna dengan senyuman lebar dan menawan.


"Kasih hadiah dulu," pria itu menepuk pipi kirinya. Sang gadis dengan semangat memveeikan hadiah kecupan di sana.


"Nakal, gak bisa dibilangin!" Omel Geo seraya menyalakan mesin mobil. Yang diomeli hanya memasang tampang polos, siap untuk dihujat.


...🌹🌹🌹 ...


“Mas, Ara gak ada di kamar lagi.” Beritahu Ayumi pada suaminya, mereka sudah siap sarapan tinggal menunggu Yumna keluar dari kamarnya. Tapi ternyata anak yang ditunggu sudah hilang lagi.


Tora menghela napas lelah, “ganti semua kunci di rumah ini Ga.” Pintanya pada sang putra, anak gadisnya itu sudah semakin berani saja.


Sagara mengangguk, dia melihat adiknya pergi dengan Geo. Tapi sengaja tidak menahan, membiarkan saja Yumna menyelesaikan masalahnya. Ia yakin setelah ini adiknya itu akan menjauhi Geo dan Yumna tidak percaya dengan apa yang akan lelaki itu ucapkan lagi.


Sepertinya Tora harus membuat putrinya itu segera menikah agar tidak suka mencuri kesempatan untuk menemui Geo. Itu sangat berbahaya untuk Yumna, ia takut kesempatan itu digunakan komplotan Brayen untuk mengelabui anak gadisnya.


Mereka akhirnya sarapan tanpa Yumna, tidak ada lagi celotehan gadis manja itu. Semua berawal dari Tora yanga terang-terangan tidak merestui hubungan Yumna dengan Geo.


“Aku kangen putri kita seperti dulu Mas,” sebut Ayumi saat anak dan menantunya sudah beranjak lebih dulu dari meja makan.


“Sekarang makan pun sudah jarang dia mau bersama kita, apalagi mengobrol.” Lanjutnya dengan sendu, Tora menggenggam tangan sang istri kemudian mengecupnya.


“Maaf aku masih belum bisa menjadi Daddy yang baik untuk putra-putri kita.” Tora membenarkan apa yang dikatakan sang istri. Saat berada di rumah putrinya itu berubah menjadi dingin dan sulit diajak bicada.

__ADS_1


“Aku gak nyalahin kamu, aku hanya rindu keceriaan Ara.” Ayumi menyandarkan kepalanya ke bahu sang suami.


Tora memberikan tepukan lembut di bahu Ayumi tanpa menjawab ucapan sang istri. Dia pun sama. Sangat rindu pada putrinya yang dulu seperti tidak memiliki rasa sedih itu, selalu memasang wajah ceria. Tapi sekarang keceriaan itu sulit mereka dapatkan lagi.


__ADS_2