Gemuruh Cinta Sang Guntur

Gemuruh Cinta Sang Guntur
76. Rindu


__ADS_3

Yumna membuka laci pelan sambil melirik suaminya yang sudah tertidur pulas. Ia mengambil dan menghidupkan ponsel Geo.


Hari ini tepat satu tahun kepergian Geo, ia sudah tidak pernah datang ke pemakaman Geo lagi. Selain untuk menjaga perasaan sang suami, daddy-nya melarang keras dia datang ketempat itu.


Yumna menutup wajah dengan kedua telapak tangan sambil terisak pelan. Masih ada rindu di hatinya untuk mendiang sang kekasih.


"Sayang," panggil Guntur.


"Iya Abang," Yumna bergegas memasukkan ponsel itu ke laci dan naik keatas tempat tidur. "Abang haus?" Tanyanya.


Guntur menggeleng, "temani Abang tidur." Sebutnya seraya menepuk bantal.


Perempuan itu tersenyum sambil menganggukkan kepala berbaring di samping sang suami.


Guntur tahu kalau sudah tiga malam ini Yumna selalu terbangun dan melamun menatap foto Geo. Ia sempat memergokinya saat terbangun tengah malam. Tapi Guntur memilih diam, semakin ditentang istrinya akan semakin tertekan.


"Ara kangen Geo?" Tanya Guntur.

__ADS_1


"Enggak Abang," jawab Yumna dengan senyuman meyakinkan.


"Kita bisa ke makam Geo kalau Ara kangen."


"Ara gak kangen dia kok," menyebut nama itupun Yumna tidak pernah lagi di depan sang suami. Ia menyimpan semua rasa rindunya sendirian. Walau sudah berusaha melupakan, tetap saja rindunya masih ada untuk Geo.


"Abang mau main lagi?" Yumna mengalihkan pembicaraan.


Walau tubuhnya sangat lelah ia tetap berusaha selalu siap melayani sang suami. Hanya itu kebisaannya, terlalu banyak kekurangan dalam dirinya. Ditambah perihal Geo, Guntur bisa membuangnya kapanpun kalau sudah tidak suka dengannya.


"Enggak, Ara masih capek. Nanti aja masih ada waktu," Guntur mengecup puncak kepala sang istri. Berulang kali dia meyakinkan diri agar tidak cemburu pada almarhum Geo. Tapi tetap saja hatinya merasakan cemburu.


Guntur menggeleng, hanya mengeratkan pelukannya.


Yumna menarik napas pelan, untung suaminya tidak marah. Huh, besok-besok dia tidak boleh melihat foto Geo lagi. Dalam hatinya sangat ingin menangis dengan keadaan ini. Bukan maksud hatinya mengkhianati Guntur.


Wanita itu memandang wajah suaminya yang sudah tertidur lagi. Sedang dia tidak bisa terpejam. Yumna mengelus sayang rahang tegas milik sang suami.

__ADS_1


"Abang pasti lelah meladeni Ara yang manja ini." Gumam Yumna, lambat laun matanya akhirnya tertutup juga setelah cukup lama terjaga.


Saat Yumna terbangun Guntur sudah tidak ada di sampingnya. Suaminya itu sedang berada di kamar mandi.


Ia bergegas mengambil ponsel Geo di laci memasukkannya ke tempat sampah. Hanya itu cara agar dia tidak tergoda menatap foto itu lagi.


"Kenapa dibuang Sayang," tegur Guntur tiba-tiba mengambil ponsel di tangan Yumna. Dia tidak seegois itu, tahu istrinya sedang berusaha keras melupakan Geo. Ponsel itu sangat berarti untuk sang istri.


"Gak penting lagi Abang, Ara kan sudah punya hp juga."


"Biar Abang yang simpan kalau Ara gak mau menyimpannya lagi."


Yumna mengangguk saja, "Ara mandi dulu." Ucapnya setelah menyiapkan segala keperluan Guntur. Ia sedang belajar melayani setiap kebutuhan suaminya.


"Iya Sayang."


Guntur menyimpan ponsel Geo kembali ke tempat asalnya. Dia harus bersabar, tidak bisa memaksa Yumna melupakan Geo dalam sekejap.

__ADS_1


Akhir-akhir ini juga istrinya itu sudah tidak terlalu manja. Dan tidak pernah menyebutkan nama Geo di depannya lagi. Semua pasti sulit untuk Yumna lalui.


__ADS_2