
Guntur menjalankan mobilnya menuju Plaza Senayan, entah kenapa dia sangat ingin makan tom yum goong yang ada di Restoran Chandara. Membayangkan makanan asal Thailand itu membuatnya menelan saliva.
Setelah menghabiskan waktu selama dua puluh menit akhirnya sampai. Kalau biasanya Guntur akan mengajak Arraz atau Airil saat sedang bosan, tapi malam ini tidak. Ia sedang malas mengurus dua bocah kecil itu jadi memilih berangkat sendirian.
Saat sedang menunggu pesanannya Guntur mendengar suara yang sudah satu bulan ini sangat dirindukannya.
“Abang mau nyoba?” tawar Yumna yang sangat bersemangat menyendok kuah tom yum di mangkoknya sampai mengeluarkan suara decapan.
“Ara aja yang habiskan,” Sagara geleng-geleng kepala sambil tersenyum melihat adiknya yang sangat bersemangat. Padahal tadi mereka sudah makan malam, tapi Yumna tiba-tiba berbelok masuk ke restoran Thailand ini.
“Ara …” lirih Guntur menoleh ke belakang. Netranya bertubrukan dengan netra Yumna. Wanita itu benar-benar istri yang sangat dirindukannya.
Yumna terhenti menyeduh kuah tom yam, jantungnya berdetak cepat. Pantas saja ia seperti tidak asing dengan punggung lelaki yang duduk di belakang abangnya.
“Ada apa?” Sagara menoleh ke belakang mengikuti arah pandang adiknya yang bengong.
“Gak ada apa-apa,” Yumna tersenyum lanjut menghabiskan kuah tom yum di mangkoknya.
“Abang melihat Ara tapi kenapa gak mau mendatangi Ara?” tanya Yumna dalam hati. Ia sangat merindukan punggung itu untuk dipeluk dari belakang.
“Ayo Abang kita lanjut jalan-jalan,” ajak Yumna yang takut tidak bisa mengendalikan diri dan malah memeluk suaminya itu.
"Kenapa cuma kuahnya yang diseduh, udangnya gak dimakan?" Tanya Ranaya, adik iparnya itu tiba-tiba jadi tidak berselera lagi.
"Ara kenyang Kak, nanti perutnya meletus kebanyakan makan." Katanya seraya meletakkan tangan di perut lalu melakukan gerakan mengelus.
__ADS_1
"Perutnya sudah berubah jadi gunung merapi?" Sagara terkekeh kecil lalu mengulurkan tangan membantu adiknya berdiri diikuti sang istri.
“Tunggu!” Panggil Guntur yang tidak tahan untuk tidak menghampiri istri yang sangat dirindukannya.
“Guntur!” Ucap Sagara dan Ranaya bersamaan melihat lelaki yang menahan mereka.
Sedang Yumna menatap Guntur datar, tidak kaget lagi karena tadi memang melihat suaminya itu.
“Ara…” Guntur tersenyum menghampiri istrinya ingin memeluk namun belum sampai tangannya merengkuh tubuh mungil Yumna. Tubuh itu sudah Sagara tarik dalam pelukannya.
“Kita pulang Sayang,” satu tangan Yumna digenggam Sagara dan satunya lagi digenggam Ranaya. Tubuh mungil itu diapit oleh pasangan suami istri.
“Aga tunggu, aku ingin bicara dengan istriku sebentar.” Pinta Guntur kembali menahan tiga orang yang berjalan menjauhinya. Ia ingin minta maaf dan mengajak istrinya itu pulang.
“Istri?” Sagara tersenyum meremehkan pada Guntur dengan tatapan tajam.
“Aku tidak pernah berniat mengabaikannya,” gumam Guntur dengan hati mencelos kembali ke mejanya.
*
*
*
“Ara baik-baik saja Sayang?” Sagara menemani adiknya di kamar setelah sampai rumah. Mana mungkin Yumna baik-baik saja setelah bertemu dengan ayah dari bayi yang dikandungnya.
__ADS_1
“Ara baik Abang, jangan berlebihan seperti itu. Sana temani Kak Aya dan buatkan aku keponakan,” kekeh Yumna menutupi rasa perih di hatinya.
“Ara… Abang tahu kamu merindukan Guntur. Apa Ara masih ingin bersamanya?” Sagara membawa adiknya dalam pelukan. Mengabaikan ucapan sang adik, untung dia memiliki istri yang sangat pengertian. Tidak pernah mempermasalahkan kalau perhatiannya untuk Yumna berlebihan.
“Abang ngomong apa sih, sana temani Kak Aya. Abang kebanyakan ngurusin Ara gimana mau punya baby!!” Sindir Yumna mengusir sang kakak secara halus.
“Abang gak perlu ngomong sama Ara ya kalau mau bikin baby!” Sagara mencubit gemas pipi adiknya setelah melepaskan pelukan, lalu beranjak. Ia tahu Yumna butuh waktu sendiri, walau kadang Sagara tidak tega membiarkan adik manjanya itu sendirian.
Setelah sang abang pergi Yumna tersenyum menatap foto pernikahannya dengan Guntur di layar ponsel.
“Apa Abang merindukan Ara dan baby kita?” tanyanya sambil mengelus-elus di perut. "Kalau Ara sangat rindu," lagi-lagi Yumna tersenyum untuk menekan rasa ssesak di dada.
drt… drt…
Yumna mengernyitkan kening mengambil ponselnya yang berbunyi. Siapa yang menelponnya malam-malam, tidak mungkin daddy.
“Abang!!” Pekik Yumna senang saat melihat siapa yang melakukan panggilan video call.
Namun beberapa saat kemudian meletakkan ponselnya kembali ke atas nakas. Ia bingung harus bersikap seperti apa. Setelah satu bulan yang dia lewati ini tentu saja daddy dan abang-nya tidak akan tinggal diam kalau Guntur menghubunginya kembali. Satu sisi dia sangat merindukan Guntur, disisi lain dia kecewa karena sang suamin tidak pernah mencarinya.
Lama berpikir akhirnya Yumna tertidur setelah menonaktifkan ponselnya. Karena Guntur tidak menyerah menghubunginya. Yumna takut khilaf dan menjawab telepon itu kemudian minta dimanja-manja. Duh jiwa manjanya meronta-ronta ingin disayang.
Guntur menatap nanar ponsel di tangannya Usai menghabiskan tom yum yang sangat diinginkannya ia langsung pulang dan menghubungi Yumna.
Awalnya ia ingin mengejar Yumna tapi diurungkannya. Percuma saja Guntur mengejar kalau istrinya itu masih bersama Sagara, dia tidak akan bisa mendekat juga.
__ADS_1
Huh... Guntur menarik napas berat. Ia sengaja tidak mencari tahu apa Yumna masih berhubungan dengan Geo atau tidak. Karena tidak ingin membuat hatinya semakin terluka. Ingin bersikap tegas tapi itu bisa melukai hati istrinya yang sangat mencintai Geo.