Gemuruh Cinta Sang Guntur

Gemuruh Cinta Sang Guntur
88. Rencana


__ADS_3

Brayen memijat kepala pusing, Yumna hampir membuat rumahnya kebakaran. Perempuan itu menghambur seisi dapur. Entah apa yang dilakukannya, tidak ada makanan apapun yang layak dimakan manusia.


Nasi yang dihidangkan putri Tora itu keras dan masih mentah. Telur yang dimasak juga gosong. Stok roti di lemari pendingin dihabiskan Yumna sendirian.


"Makan!!" Titah Brayen mendorong telur gosong ke hadapan Yumna.


"Kenapa Ara yang harus makan, kan Om yang maksa Ara masak." Dengan tenang Yumna mengusap-usap tangannya yang terkena letupan minyak panas.


"Kalian makan!!" Wanita itu malah memerintah dua anak buah Brayen yang selalu mengikutinya kemanapun.


Keduanya serentak menggeleng, namun Brayen menatap tajam.


"Duduk, biar Ara siapkan." Yumna tersenyum manis mengambilkan nasi masing-masing satu piring penuh dan memberikan pada dua orang itu. "Habiskan!" Titahnya yang tak bisa dibantah.


Brayen menahan tawa melihat kedua anak buahnya yang susah payah menelan nasi mentah. Jangankan manusia, kucing pun akan mundur melihat masakan Yumna yang tidak layak disebut sebagai makanan.


"Sekarang Om pesankan Ara makan!!" Perintah Yumna lalu meninggalkan dapur seperti layaknya bos setelah puas menyiksa dua anak buah Brayen.


Dua orang itu serentak berlari ke wastafel untuk memuntahkan makanan yang sudah terlanjur masuk perut.


"Makan!!" Brayen menghempaskan plastik yang berisi makanan ke hadapan Yumna. Lagi-lagi dia menuruti keinginan wanita itu.

__ADS_1


"Selesai makan bersihkan seluruh ruangan di rumah ini," perintahnya.


Yumna mengangguk senang, inilah saat yang ia tunggu-tunggu. Ingin mencari dimana Brayen menyembunyikan senjata. Dia membutuhkan senjata untuk menyerang Brayen dan anak buahnya, tidak bisa dengan tangan kosong seperti ini.


"Pasti dia sedang merencanakan sesuatu," gumam Brayen melihat Yumna yang nampak bahagia.


"Om kenapa lihat Ara seperti itu. Om pikir Ara bisa merencanakan pelarian diri dengan menghadapi pengawal yang ada dimana-mana!!" Ucap Yumna ketus sambil membuka makanannya.


"Padahal sebenarnya memang itu yang sedang aku rencanakan. Siapa suruh menculikku, akan kubuat kau darah tinggi dan terserang stroke." Senyuman terbit dari mulutnya setelah melihat ayam goreng upin ipin.


"Memang adalagi yang kau pikirkan sampai bahagia seperti itu selain melarikan diri?" Brayen tersenyum sinis.


"Om mau tau apa yang Ara pikirkan," Yumna menatap kesal Brayen yang sudah membuat acara makannya tertunda.


"Aku akan membuat Om terserang darah tinggi, kemudian stroke terus mati deh." Jawab Yumna dengan tawa gelak lalu melanjutkan sesi makannya. Tanpa peduli dengan wajah Brayen yang sudah berubah merah padam.


"Kau, sebelum aku mati kau yang akan kubuat mati!!" Teriak Brayen kesal dengan tangan yang mengepal kuat.


"Om, ingat umur. Itu nanti tekanan darahnya naik loh. Jangan marah-marah terus, Om bisa mempercepat keberhasilan rencana Ara."


"Siyalan putrimu Toraaa!!"

__ADS_1


...🐣🐣🐣...


"Dimana kau menyembunyikan putri Tora!!" Ferdinand menendang kursi di depannya, tidak peduli ia sedang berada di kantor. Lebih tepatnya di ruang kerja sang putra.


"Brengsek, Brayen sudah bergerak lebih dulu menculik Ara!"


"Maksud Papa? Aku sedang tidak menyembunyikan siapapun." Jawab Leo tenang, "tidak hanya aku yang menginginkan putri Tora itu. Tora memiliki banyak musuh, kenapa Papa malah menuduhku?"


Hati kecil Ferdinand membenarkan ucapan Leo, tapi dia sangat yakin anaknya itu ikut campur tangan dengan menghilangnya putri Tora.


"Kau pikir Aku percaya dengan bualanmu Leo!!"


"Terserah Papa mau percaya atau tidak. Aku mengatakan yang sebenarnya, sekarang aku tidak sedang menyembunyikan Ara. Mungkin nanti," ujarnya dengan seringaian tipis.


"Jangan harap kau bisa hidup dengan tenang setelah berkali-kali menyusahkanku!!"


Gara-gara Leo, Tora malah menyerang rumahnya. Dasar anak susah diurus, menyusahkan saja bisanya dari dulu.


Seperginya sang papa Leo berpikir keras kemana Brayen membawa Yumna. Tidak mungkin Tora sampai kesulitan melacak putrinya.


Ia beranjak untuk memeriksa tempat-tempat yang diketahuinya milik Brayen. Tapi tidak ada satu tempat pun yang menunjukkan keberadaan pria itu.

__ADS_1


"Damn, semua sudah direncanakan Brayen dengan matang dan aku yang tertuduh menculik Ara!!"


__ADS_2